thanks

KISAH VBAC EFATA

agniya-efatasia-d

VBAC = Vaginal Birth After Caesarean

Pengalaman operasi Caesar pada kelahiran anak pertama adalah pengalaman yang sangat menguras emosi. Pada saat itu saya masih bekerja sebagai karyawan swasta dan hamil anak pertama. Sebulan sebelum HPL saya resign karena memang berencana mengurus anak nantinya kalau sudah lahir. Niat untuk melahirkan secara normal sudah tertanam di pikiran saya, sehingga pada minggu-minggu terakhir saya banyak melakukan gerakan-gerakan untuk memperlancar persalinan, seperti ngepel jongkok, senam hamil, dan berjalan. Sebenarnya pada kehamilan pertama, saya merasa banyak keluhan, seperti gampang capek, kaki tangan bengkak, dan masalah-masalah emosional lainnya.

HPL yang jatuh pada tanggal 19 Desember 2014 pun datang, tetapi tanda-tanda persalinan belum terasa. Kontraksi-kontraksi palsu sudah banyak terasa tetapi tidak ada kemajuan yang berarti. Singkat cerita, tanggal 29 Desember 2014, saya dan suami memutuskan ke dokter karena sudah 41 minggu lewat dan ketika itu ada sedikit lendir darah keluar. Ketika dicek di rumah sakit, sudah ada bukaan 3, tetapi ketika dicek tekanan darah, tekanan darah saya tinggi, yaitu 140/100. Wah selama ini saya ga ada riwayat darah tinggi, tapi kok tiba-tiba sekarang pas hamil ada darah tinggi. Setelah dicek, dokter memvonis untuk dilakukan persalinan secara SC karena beberapa komplikasi seperti pre-eklampsia, bukaan lambat maju (kemungkinan CPD), dan Hb di bawah normal. Awalnya saya dan suami tidak rela untuk operasi caesar karena kami sudah berusaha semaksimal kami untuk mengusahakan persalinan normal. Kami bilang ke dokternya untuk merundingkan dulu sampai hari Selasa besoknya. Tidak rela untuk operasi, kamipun menangis dan berdoa kepada Tuhan di kamar mandi waktu itu meminta mujizat-Nya terjadi. Kami berpikir mungkin tiba-tiba pembukaannya akan maju sebelum hari Selasa siang dan mungkin saya bisa melahirkan normal. We was expecting for a miracle…

 

Selasa pagi, 30 Desember 2014

Saya tidak bisa tidur semalaman. Entah karena tekanan darah tinggi atau karena kebanyakan jongkok-berdiri untuk bisa mempercepat persalinan normal. Kemudian tibalah waktunya cek pembukaan oleh bidan dan didapatlah pembukaan 4 ke 5. Kemajuan yang sedikit sekali dan saya tidak merasakan mulas sama sekali. Saya dan suami di samping saya pun tertegun dan terdiam. Dan saya pun menangis..

“Ma, Diel udah berusaha yang terbaik di dalam perut, tapi mungkin bukan jalannya dia lahir normal.” Satu statement dari suami saya yang membuat saya akhirnya sedikit ikhlas untuk operasi caesar.

Yesaya 55:8

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.

Saya tersentak. Ayat ini berbicara kepada saya beberapa bulan sebelumnya, tiba-tiba teringat lagi dalam pikiran saya. Okay, jadi Tuhan sudah berbicara, saya saja yang kurang peka, atau mungkin saya terlalu memaksakan kehendak saya?

Operasi caesar pun berjalan lancar. Putra pertama kami, Adiel Suryanagara Dewanto, lahir dengan sehat pada tanggal 30 Desember 2014 pukul 18.35. Pertama kali melihatnya ke dunia pada saat dia lahir dari sayatan perut saya dan menangis dengan kencang. Rasanya sangat senang sekali. Akhirnya anak laki-laki yang ditunggu-tunggu datang. Kemudian dia dibawa oleh bidan untuk melakukan IMD dan menyusui langsung. Karena ruangan operasi itu dingiiiin sekali, jadi Diel hanya boleh menyusu selama 10 menit. Saya menyusuinya sambil menggigil kedinginan. Kemudian saya dibawa ke ruang observasi.

 

Seminggu setelah pulang dari RS, Januari 2015

Dokter kandungan saya waktu itu mengecek luka jahitan caesar dan berkata lukanya sudah bagus. Saya harus mengkonsumsi cukup protein untuk penyembuhan luka. Satu pernyataan juga dari dokter yaitu jika ingin punya anak kedua, harus setelah dua tahun dari tanggal operasi caesar dulu baru boleh hamil lagi. Itu artinya, jika ingin melahirkan anak kedua dengan normal, jaraknya kelahirannya minimal 2 tahun 9 bulan, itu adalah jarak amannya.

 

Maret 2016

Saya positif hamil. Ga nyangka. Antara senang dan bingung. Ternyata sudah hamil kira-kira 6 – 8 minggu. Saya hitung HPL kira-kira akhir Oktober sampai awal November. Wah, Tuhan, ini belum 2 tahun lho. Diel aja sekarang masih 14 bulan. Ya ampun, apalah kata dokter nanti, ga ada yang mau bantuin lahiran normal kali ya, langsung vonis caesar, ckckck. Tetapi pada saat itu, saya merasa damai dengan kehamilan anak kedua ini. Ini adalah surprise dari Tuhan dan kami semestinya berterima kasih untuk anak ini.

Markus 7:34

Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya; “Efata!” artinya : Terbukalah!

Saya ingin menamai anak saya yang kedua dengan nama Efata. Saya berpikir Efata akan bisa membuka jalan lahirnya. Oleh sebab itu saya sudah punya keinginan, anak kedua akan diberi nama EFATA.

Perjalanan dimulai dari kunjungan ke dokter kandungan. Saya excited sekali, dan kami pergi ke RS dekat rumah tempat dulu Diel lahir. Dokter kandungan yang lagi praktek itu pria dan ketika saya menanyakan rencana lahiran, dia langsung bilang, “Iya bu, harus caesar soalnya belum 2 tahun.” Agak hancur sih hati saya (lebay), dan sempat sedikit menangis pada saat mengantri pembayaran.

Kemudian kami coba pindah dokter, ke dokter perempuan di RS yang sama, tetapi bukan dokter saya yang dulu. Beliau sih bilang, agak beresiko untuk lahiran normal karena jaraknya belum 2 tahun, tapi nanti kita akan lihat tebal leher rahimnya pada saat usia kehamilan 36 minggu. Kalau cukup, mungkin bisa diusahakan persalinan normal. Oiya, resiko persalinan VBAC adalah robek rahim atau ruptur uteri. Okay, saya pikir 36 minggu masih lamaa sekali. Jadi kami memutuskan untuk mencari dokter lain yang pernah menolong VBAC di bawah 2 tahun.

Singkat cerita, akhirnya kami menemukan dokter kandungan perempuan di RS lain yang menurut suatu forum yang saya baca di internet, pernah menolong VBAC dengan jarak kelahiran 17 bulan. Mulailah kami konsultasi ke dokter tersebut, sebut saja namanya Dokter N. Dokter ini orangnya cukup detil dan semua kemungkinan diperiksa oleh dia. Luka caesar saya sudah bagus waktu itu katanya. Kemudian saya menceritakan riwayat caesar saya dan rencana saya untuk VBAC, dan beliau berkata tidak apa-apa untuk VBAC karena harusnya sudah aman. Berdasarkan statement itu, kami memutuskan untuk kontrol rutin ke Dokter N saja. Selama kontrol kehamilan pun, hal-hal seperti jumlah Hb, gula darah, tekanan darah,dan notching pun dipantau untuk mencegah terulangnya pre-eklampsia. Dari USG, HPL jatuh pada tanggal 9 November 2016.

Selama kehamilan yang kedua ini, saya merasa lebih menikmati. Masa mual muntah hanya berlangsung sampai kira-kira minggu ke 12. Sambil mengurus Diel, saya menjalani masa-masa kehamilan ini. Mungkin di sini keuntungannya. Karena sambil mengurus anak balita, jadi mau ga mau saya akan banyak bergerak. Lari kesana-sini mengejar-ngejar Diel, memandikan dengan duduk jongkok, serta mengajaknya jalan-jalan keluar rumah. Bengkak di kaki dan tangan tidak saya alami sama sekali di kehamilan kedua ini, buktinya cincin kawin saya masih cukup dipakai sampai kepada hari lahiran, hehe. Bahkan di kehamilan kedua ini, saat hamil 7 bulan, saya bisa mengikuti les mengemudi dan pergi misi ke pulau Bangka. Saya juga mengikuti kelas senam hamil di RS. Disana diajarkan teknik bernapas dan mengejan dengan benar.

Saya pernah mendapat mimpi untuk lahiran anak kedua ini. Waktu itu saya berdoa sama Tuhan, Tuhan saya ingin mimpi yang menyenangkan. Ceritanya saya baru lahiran dan saya sedang memakaikan bandana kepada seorang bayi perempuan, tapi di mimpi itu saya lupa proses melahirkannya bagaimana. Kemudian saya tanya papa saya, dan beliau menjawab lahirannya normal. Bangun dari mimpi itu, saya merasa bahagia sekali rasanya, karena sepertinya Tuhan menjawab doa kecil saya.

Mimpi kedua, agak konyol menurut saya. Nggak tau juga kenapa saya bisa mimpi seperti ini. Jadi ceritanya saya lagi di ruang bersalin, tetapi bersama Diel. Saat itu mau melahirkan ceritanya, tetapi yang ngeden itu Diel, persis seperti dia mau pup. Kemudian entah darimana bayinya lahir dan besarnya sama dengan Diel. Hahaha. Mimpi yang aneh.

Mazmur 21:3

Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak.

Satu ayat yang saya dapatkan dari Tuhan bahwa Ia akan mengabulkan harapan saya. Entah kenapa saya merasa ayat ini untuk peneguhan bahwa saya bisa untuk melakukan VBAC. Saya merasa damai sekali dan pengharapan saya menjadi teguh.

Minggu 36 kehamilan, 12 Okt 2016

Pada saat kami cek ke dokter, ternyata dari USG terdapat 1 lilitan tali pusat.

Minggu 37 Kehamilan, 19 Okt 2016

Di minggu 37 akan dilakukan USG Vaginal untuk melihat ketebalan mulut rahim dan luka SC, dan menurut dokter N, saya masih bisa melakukan VBAC kalau liat ketebalan rahimnya. Dan lilitan tali pusat masih ada disana.

Minggu 38 Kehamilan, 26 Okt 2016

Saya belum merasakan kontraksi. Lilitan tali pusat masih ada. Perkiraan berat bayi sudah 3.1 kg. Dokter N pun memberikan pilihan, mau dijadwalkan untuk operasi caesar atau menunggu. Saya dengan mantap bilang untuk menunggu. Dokter bilang, kemungkinan belum ada kontraksi asli karena ada lilitan tali pusat itu, tapi entah kenapa saya tenang saja mendengarkan dia berbicara seperti itu. Ya tapi di situ, saya mulai sedikit ragu sih ini dokter niat ga ya menolong saya untuk VBAC, hoho..

29 Oktober 2016

Kira-kira pukul 12 atau 13 siang saya merasa tekanan ke bawah di perut saya makin besar. Perut saya jadi sering kontraksi tetapi saya belum merasa mulas, cuma kencang-kencang di perut saja. Saat itu saya lagi di rumah saudara di Cakung. Waktu itu saya sampai nanya RS atau bidan terdekat in case saya lahiran di sana. Frekuensi pipis jadi makin sering. Saya ga tau juga ya apa karena pengaruh hujan + cuaca dingin + AC makanya jadi pengen pipis terus, atau udah terjadi lightening (bayi jatuh). Tapi perut bagian atas sudah terasa agak kosong.

30 Oktober 2016

Kontraksi itu datang lagi sekitar jam 9 pagi. Yak, perut saya makin sering kontraksinya, tapi belum mulas2 amat, cuma kadang terasa ga nyaman juga kencang-kencang seperti itu.

31 Oktober 2016

Mama saya sudah standby di rumah di Depok untuk menemani lahiran dan mengurus Diel. Mulai siang kira-kira pukul 12, kontraksi makin terasa sering dan sudah disertai sedikit mulas. Okay, kemudian saya hitung kontraksinya pakai aplikasi di hp, dan ternyata sudah early stage. Rata-rata sudah 10 menit sekali. Di situ saya masih bisa ketawa-ketiwi sama mama saya dan bercanda sama Diel. Masih bisa masak tahu telor tek khas Surabaya dan makan dengan enak.

Mama bercanda, “Wah jangan2 bentar lagi lahiran kak haha.”

“Ya liat aja nanti ma haha.”

Mana waktu itu ada salah seorang kawan yang mengucapkan “Selamat ya jul udah lahiran,” karena melihat picture WA saya bersama foto Diel usia sebulan. Haha

“Jangan-jangan itu nubuatan…” kata Mama.

1 November 2016, kira-kira pukul 00.00

Saya tidak bisa tidur sekarang karena mulasnya makin terasa. Entah karena excited atau karena tegang. Saya tungguin aja mulasnya, masih 10 menit sekali, dan nyerinya mulai terasa, tapi saya masih bisa tahan. Saya pun membangunkan suami saya, dan dia pun ikut ga bisa tidur. Saya mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa.

Akhirnya pukul 03.30 pagi kami memutuskan untuk pergi ke RS. Saya dan suami pun pergi dan Diel masih tertidur. Saya minta tolong mama saya untuk menjaga Diel. Saya berjalan sudah agak terseok-seok karena mulas waktu itu, tetapi masih bisa berjalan dan mengarahkan parkir mobil, hehe.

Pukul 05.00

Saya masuk ke ruang bersalin RS dan kemudian dicek pembukaan. Sudah pembukaan 3 ternyata. Wah senang sekali rasanya sudah ada pembukaan. Kemudian tekanan darah saya dicek, dan uh oh ternyata tinggi lagi, 150/100. Wew ada apa lagi ini? Apakah karena tidak tidur kah? Bidan pun menyarankan supaya saya tidur kalau bisa tidur supaya tekanan darah bisa normal lagi. Memang sih ada riwayat tensi tinggi dari ayah saya, jadi mungkin tekanan darah tinggi karena ga tidur.

Kemudian darah dan urin saya dicek untuk melihat apakah ada pre-eklampsia lagi atau tidak. Ternyata kandungan protein di urin negatif. Puji Tuhan, bukan pre-eklampsia lagi.

CTG pun dilakukan dan kondisi bayi baik-baik saja.

Pukul 08.00 – 09.00

Sambil menunggu di ruang bersalin, saya mencoba untuk tidur, tetapi hanya bisa tidur-tidur ayam saja. Suami saya menemani di samping sambil menyetel lagu penyembahan dari youtube dan membacakan Mazmur kepada saya.

“…. Dan janganlah berharap kepada manusia yang akan mati…”

Kira-kira seperti itulah bunyinya. Ayat Mazmur yang dibacakan suami saya tiba-tiba berbicara di dalam hati saya, tepatnya di Maz 146:3. Apa maksudnya Tuhan? Apakah yang akan saya hadapi nanti?

Tiba-tiba ada semacam benturan di dalam perut saya. Tidak lama setelah itu, saya merasa ada rembesan air keluar. Wah sepertinya pecah ketuban nih.. Saya menekan bel untuk memanggil bidan, dan setelah dicek ternyata memang air ketuban beserta lendir darah yang keluar. Kemudian pembukaan dicek lagi, masih pembukaan 3 ke 4. Oke, saya jujur gatau harus senang atau panik. Dari cerita-cerita yang saya tahu sih kalau sudah pecah ketuban, artinya sebentar lagi bayi harus segera dilahirkan, ga bisa lama-lama.

Sebenarnya saya inginnya jalan-jalan supaya mempercepat proses persalinan, tetapi karena ketuban sudah pecah, saya dilarang terlalu banyak gerak, takut tambah banyak air ketubannya keluar, kata bidannya seperti itu. Mulai saat ini, bidan yang bertugas adalah Bidan J. Akhirnya saya lanjut tiduran, sambil menunggu. Suami saya tetap membacakan Mazmur. Saya juga tidak tahu menunggu apa, yang jelas sih menunggu Dokter N datang. Tetapi saya harus menyiapkan tenaga untuk menunggu sesuatu yang lain.

Pukul 10.00 (ini jam terakhir yang saya ingat sebelum persalinan)

“Wah tensinya kok naik lagi..”

Dokter N pun datang sambil tersenyum. Dia melakukan USG dan kondisi bayi baik-baik. Air ketuban masih cukup dan detak jantung bayi ok. Pembukaan udah 4, bagus deh udah ada kemajuan. Kemudian dia menyampaikan hasil lab dari darah saya. Memang tidak terjadi pre-eklampsia berulang, tetapi ternyata kandungan leukosit dalam darah saya tinggi, dan kandungan CRP (C Reactive Protein) juga tinggi. Kemungkinan ada infeksi dan kemungkinan hal ini jugalah yang menyebabkan tekanan darah saya tinggi.

Dokter N adalah orang yang lembut dan menjelaskan semuanya dengan detail.

“Jadi Bu, karena kondisinya seperti ini, ibu kan ada riwayat caesar dan kami ga bisa memajukan proses persalinan dengan induksi, karena ada resiko robek rahim kalau sebelumnya pernah caesar. Jadi opsi yang bisa saya lakukan adalah melakukan sectio caesaria untuk melahirkan bayinya.”

“Iya ini juga mulesnya kayak tiba-tiba hilang ya bu?” Bidan J menimpali.

Kami cuma bisa diam.

“Ga bisa menunggu ini dok?”

“Hmm sebenernya gini sih bu, jangan sampai terjadi apa-apa dulu baru diambil tindakan. Ini ada kemungkinan infeksi bayi, jadi sebisa mungkin bayinya harus cepat dilahirkan.”

Wah apa lagi ini? Ada ya istilah infeksi bayi? Masa harus caesar lagi, Tuhan?

Kemudian karena belum ada keputusan dari kami, dokter N pergi. Saya dan suami bertatapan. Sepertinya hampir pupus harapan saya untuk melahirkan Efata dengan persalinan normal.

“Gimana ma? Kalau dari hati mama sendiri bagaimana? Kalau keyakinan mama sendiri gimana?” tanya suami saya.

….

“Tuhan, kalau aku caesar lagi kali ini gimana Tuhan?” tanya saya dalam hati.

Ga ada jawaban. Sepi. Senyap. Tuhan gimana ini???

Akhirnya saya memberanikan diri bilang, “Yaudah pa, kita tetep tunggu aja ya, kita tetep selesaikan ini sampai akhir.”

Sambil mengelus perut, saya bilang, “Ata, ayo kita selesaikan sama-sama sampai akhir ya Nak”

Dokter N datang lagi menanyakan keputusan.

“Dok ini beneran ga bisa nunggu ya dok?”

“Ya mau ditunggu sampai gimana bu? Yaudah ya bu ini sedang kami siapkan peralatan dan kamar operasinya. Jadi sectio caesaria itu bla bla blaa……..”

Saya udah ga denger lagi. Saya udah tahu caesar dan mengalaminya. Sementara itu, sakit di perut saya makin kuat.

“Dok sini dok, ada yang mau lahiran…!!!” Suara dari bilik sebelah saya. Dokter N akhirnya pergi membantu ibu yang mau lahiran di sebelah saya. Tiba- tiba perut saya sakiit banget. Semua bidan dan tenaga medis pergi meninggalkan kami dan membantu proses lahiran di sebelah saya. Heboh sekali.

Saya cuma bisa menarik tiang infus menahan sakit. Oh Tuhan, kok jadi sakit banget yaaa…

Selesai ibu sebelah lahiran, kemudian ada suster S yang mendatangi kami. Saat itu mulas sudah agak tak tertahankan, setiap mulas datang, saya pasti menarik tiang infus kuat-kuat dan meremas tangan suami saya kuat-kuat.

“Pak gimana jadi mau dilakukan operasi atau tidak?”

Suami saya diam, “Sebenernya masih mau dirundingkan dulu sih.”

“Oh yaudah, kalau gitu, dokter N ada tindakan di RS lain, harusnya ibu dijadwalkan jam 12, gimana bu?”

Saya terdiam.

“Yaudah ke RS lain dulu aja mbak” saya bilang.

“Oke kalau gitu, saya kasih surat penolakan operasi caesar ya pak, kalau ada apa-apa terjadi, kami sebagai pihak RS gamau tanggung jawab, itu tanggung jawab keluarga dan pasien.” Suster S bilang dengan agak ketus. Hmmm…

“Oke oke tandatangan aja…” saya bilang, “tapi tapi bayi saya masi dipantau detak jantungnya kan? Masi bisa di CTG kan?”

Di situ saya mulai panik. Mulas di perut makin intens dan kuat. Tuhan, kenapa ini? Banyak tekanan sekali. Sambil suami tandatangan, saya mulas lagi menarik tiang infus.

“Pa yaudah kita kasih deadline aja, kalau sampai jam 13.00 belum lahiran, yaudah pa aku operasi aja.” Saya berkata pada suami dengan memelas dan agak hopeless.

Kemudian kami menunggu. Mulas pun datang lagi. Kali ini sakit sekali.

Tiba-tiba Bidan J datang dan mengecek pembukaan. “Oh udah 5 bu…” Okay pembukaan 5 ternyata. Suster S pun datang dan bilang, “iya bu kalau udah 5 atas udah sakit banget.” Oke oke saya ngerti.

Kemudian alat CTG dipasang lagi. Jujur saat itu saya merasa kurang gerakan dari Ata. Sambil mulas dan harap2 cemas saya berharap hasil CTG bagus.

Perut saya tiba-tiba sakit lagi. Suster S yang memasang karet di perut saya. “Mbak mbak ini kekencengan ga ya?”

“Ini karet bu, itu sakitnya sakit mulas.” Suster S menjawab dengan ketus. Duh ya opo, orang mau lahiran ini kok galak-galak amat sih.

Puji Tuhan, detak jantung bayi masih oke.

Mulas makin heboh. Setiap mulas sekarang sudah mulai ada sensasi ngeden. Tapi saya ingat di senam hamil, kalau belum pembukaan 10, ga boleh ngeden dulu, tarik nafas panjang, buang nafas. Wah saya ga bisa nafas panjang2, suakit banget. Jadi saya nafas hah huh hah huh udah kayak serigala kelaparan. Suami sayalah yang melihat dengan mata kepalanya sendiri semua kesakitan dan keanehan saya waktu mulas2 itu. Beberapa kali saya failed, kelepasan buat ngeden. Kalau ga lagi nafas, saya pasti teriak atau kelepasan ngeden. Tapi suami saya terus bilang, “Tarik nafas ma, Ata butuh oksigen ma..”

“Gimana kalau tiba-tiba kamu udah capek mules2 gini, ujung2nya harus operasi? Di mana pertolongan Tuhan?” Tiba-tiba datang intimidasi. Saya merasa saat itu udah berada dalam lembah yang gelap. “Iya, dimana ya Tuhan?”

…..

“Udah 8 ya bu..” Bidan J mengecek pembukaan.

Tiba-tiba harapan saya timbul. Saya jadi semangat lagi.

“Ayo ma, tinggal dua lagi ma..” Saya mengangguk.

“Minum pa minum…” Saya minum air ketika lagi ga mules.

Kemudian rasa sakitnya datang lagi. Ibaratnya sakitnya seperti sebuah gunung, makin lama makin sakit sampai ke puncaknya terus mereda lagi. Kamu tau saatnya ketika akan mencapai puncak, jadi kamu mempersiapkan segala sesuatu sebelum puncak itu datang. Saya pun menarik tiang infus. Earrrgghhh…. Jadilah saya dan suami berebutan tiang infus.

“Oke bu udah 9 ya….” Wah cepat juga..

Bidan J mulai menemani kami sejak waktu itu.

“Ibu ga lagi mules ini ya sekarang? Kita belajar ngedennya ya bu..”

What? Masih sempat2nya…

“Saya udah pernah belajar di senam hamil mbak.”

“Iya gapapa kita latihan lagi ya.. Wah ini cepet berkat doa ibunya ya..”

Saat lagi ga mules saya belajar ngeden. Jadi posisi ngangkang, tangan menjepit ujung paha.

“Coba ibu ngeden. Ngedennya di perut ya bu. Matanya ngeliat ke perut, jangan ditutup matanya.”

“Kalau capek, nafas hah-huh-hah-huh, dari mulut ya bu”

Jadilah kami latihan ngeden.

Lalu tirai disibakkan. Dokter N datang sambil tersenyum, “Wah ternyata cepet ya majunya. Yaudah kita siap-siap buat lahiran ya…”

Kemudian beberapa tetes obat induksi ditambahkan ke infus saya untuk mempercepat bukaan.

Suster S dan Bidan J pun sibuk mempersiapkan peralatan untuk lahiran. Saya pun mengambil posisi siap-siap untuk ngeden.

“Bu, ini saya robek ya…” (episiotomy)

“Iya iya dok!” Senang sekali rasanya karena sebentar waktunya untuk ngeden. Saya dari tadi udah ga tahan pengen ngeden banget.

“Ya udah bukaan lengkap ya…”

“Ini udah boleh ngeden belum?” saya bertanya dengan nada tinggi.

“Sebentar.. sebentar bu! Yak, kalau mulesnya dateng, ngeden ya bu, kayak BAB keras bu!”

Oke saya pun mengumpulkan segenap tenaga. Kemudian saya pun naik gunung (mulai sakit kontraksi) dan ngedeeeen…

“Bu matanya jangan ditutup, liat perutnya bu…”

Belum keluar, saya pun mengambil nafas seperti anjing, huh-hah-huh-hah.

Sekali lagi ngeden. Di otak saya cuma ada pikiran, “Anak ini HARUS keluar.. HARUS keluar…!”

Saya ngeden lebih keras lagi dan akhirnya EFATA… Lahirlah putri kecil kami…

“EFATA… Puji Tuhan… Terima kasih Tuhan!” Saya terharu sekali, akhirnya Efata kecil keluar dengan selamat.

Menurut cerita suami saya, ketika keluar, lilitan tali pusatnya masih ada. Kemudian Dokter N melepaskan lilitannya dan membawa Ata untuk dibersihkan.

“Bu, ini saya mau lahirkan ari-arinya ya Bu..” Kemudian ada lagi sensasi ngeden tapi yang keluar sepertinya lebih kecil dari yang tadi. Haleluya, ari-arinya sudah keluar juga.

Singkat cerita, Ata pun ditimbang, ternyata beratnya 2,9 kg dengan panjang 47 cm. Ata lahir dengan sehat dan normal pada pukul 12.20. Kemudian dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), Ata diletakkan di dada saya untuk skin to skin contact. Aduh anak ini imut banget, batin saya.

Perjuangan belum selesai. Karena bagian perineum dirobek, saya harus menjalani penjahitan perineum yang ternyata dibiusnya cuma sebagian aja. Untung ada Ata lagi nemplok di dada saya, jadi sakit sakit waktu dijahit bisa agak teralihkan. Sakitnya ya kayak ditusuk jarum aja sih, yah bayangin aja kayak dijahit tapi kulitnya ga dikasih bius. Untung cuma sebentar dijahitnya.

Bagi saya pribadi, cerita VBAC Ata ini bukanlah soal berhasil melahirkan secara normal. Banyak wanita sepertinya merasa lebih berharga ketika melahirkan secara alami, padahal sebenarnya tidak begitu juga. Bagi saya yang penting dari cerita ini adalah bagaimana janji-Nya digenapi, bagaimana Tuhan tidak pernah bohong atas janji-Nya, sekalipun manusia dan keadaan berkata sebaliknya. Kalau dipikir-pikir, siapa gue berani ngelawan dokter, berani tanda tangan surat penolakan operasi, gimana kalau ada apa-apa sama Ata? Kan kita ga bisa melihat dia di dalam perut keadaannya gimana. Saya merasa ketika saya berdoa tanya Tuhan untuk operasi aja, Tuhan seperti diam, seolah-olah Dia bilang, “Kan aku udah bilang, Aku sudah janji, masa kamu ga percaya sama Aku? Aku telah berikan apa yang menjadi keinginan hatimu. Kamu ingin melahirkan normal? Yes sudah Aku berikan!” Wow luar biasa.

Special thanks to my husband, yang suportif menemani dari hamil sampai lahiran sampai mengurus bayi. Jadi ingat, waktu ketuban udah pecah dan saya ga boleh lagi ke WC, suami saya yang membantu saya untuk pipis di pee spot. Suami saya yang sibuk wara-wiri kesana-kemari untuk mengurus ini itu. Dia yang sabar mendengar semua keluhan saya. Dia yang mendampingi, mengambilkan makanan minuman, memberi semangat, dan dia yang membacakan Mazmur waktu menikmati mulas-mulas yang semakin meningkat. Dia yang melihat proses keluarnya Ata dari rahim saya. Karena mulasnya tiba-tiba, dan ga ada keluarga lain saat itu, cuma saya berdua sama suami saya. Mama saya di rumah menjaga Diel. What a romantic moment!

Ketika Tuhan mengingatkan untuk jangan mengandalkan manusia, ternyata benar. Dokter N yang selama ini saya kira akan membantu persalinan normal justru akhir-akhirnya memvonis caesar. Saya ga nyalahin dokternya sih, mungkin memang beresiko untuk lahir normal. Cuma in the end, saya ga punya lagi orang atau manusia untuk diandalkan. Sebenarnya di tanggal 1 November itu, saya sudah janjian konsultasi dengan salah satu bidan gentle birth. Saya sudah bilang akan datang sekitar jam 10 pagi, tetapi gagal karena ternyata sudah lahiran, hehehe. Kok sepertinya Tuhan menghalangi saya untuk bertemu, seolah –olah Dia mau menyakinkan saya bahwa janji-Nya saja sudah lebih dari cukup. Dan itu semua terbukti terjadi.

Agniya Efatasia Dewanto, itulah nama putri kecil kami. Agni artinya api, sedangkan Efata artinya “terbukalah”. Ata lahir di minggu 38 kehamilan saya, tepatnya 39 minggu kurang 1 hari. Hal ini pun sebenarnya pernah saya minta sama Tuhan. “Tuhan kalau bisa lahirannya sebelum 40 minggu ya..” Karena kalau sudah di atas 40 minggu, bayinya akan tambah besar, kemungkinan caesar berulang juga akan semakin besar. Dan pas sekali tanggal 1 November, di AWAL bulan, Tuhan kasih Ata lahir ke dunia.

Segala pujian hanya bagi Tuhan!

Advertisements

Our Wedding Vow

ucapjanji

Alit Dewanto (mempelai pria):

Saya Alit Dewanto mengambil engkau Juliana Amytianty Kombaitan sebagai istri saya. Dihadapan Tuhan, hambaNya dan seluruh jemaat saya berjanji, dengan kasih karunia Tuhan, akan mengasihimu, menyayangimu, melindungimu, dan menjagamu seperti apa yang telah Kristus lakukan kepada jemaat, dalam segala sesuatu dan keadaan, sampai Kristus datang untuk yang kedua kalinya. Sebagai tanda janji saya, saya sematkan cincin ini di jari manismu.

Juliana Amytianty Kombaitan (mempelai wanita):

Saya Juliana Amytianty Kombaitan menerima engkau Alit Dewanto sebagai suami saya.Dihadapan Tuhan, hambaNya dan seluruh jemaat saya berjanji, dengan kasih karunia Tuhan, akan tunduk kepadamu, menghormatimu, mempercayaimu, dan menolongmu dalam segala sesuatu dan keadaan sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, sampai Kristus datang untuk yang kedua kalinya. Sebagai tanda janji saya, saya sematkan cincin ini di jari manismu.

Finally, I’m Married! Yay!

Akhirnya status saya sekarang sudah tidak single lagi. Sekarang saya sudah menikah. Menikah. Jadi inilah inti dari tulisan ini :D

Banyak sekali hal-hal yang saya lalui bersama calon suami saya. Banyak pembentukan dan kasih karunia yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya, mulai dari si dia maju (nembak) ke saya, sampai akhirnya kami jadian, lalu memasuki masa pranikah, kemudian merencanakan untuk menikah dan bertemu keluarga, tunangan, kemudian menikah. Kalau diceritakan semua, bisa jadi panjang dan memakan beberapa page :p Intinya, saya bersyukur sekali dan semakin hari merasa makin diteguhkan dengan pilihan Tuhan buat hidup saya.

Namun saya, eh.. kami sadar sih kalau ini bukan akhir dari perjalanan petualangan kami. Marriage is not finish line. Saya tahu apa yang diceritakan di film-film mengenai happily ever after yang ending ceritanya adalah pada saat pemeran cowok dan ceweknya menikah itu tidak sepenuhnya benar, karena pernikahan membutuhkan kerja keras, tidak serta merta jadi happy terus sampai akhir hidupnya. Jadi kami sama-sama berusaha untuk menciptakan kehidupan pernikahan yang bahagia sesuai dengan Firman Tuhan, tentunya dengan kasih karunia Tuhan, seperti janji yang kami ucapkan pada saat pemberkatan pernikahan kami ;)

Juliana-Alit
Di post ini, kami mau membagikan beberapa hal yang Tuhan ajarkan sama kami selama masa pranikah dan kehidupan setelah pernikahan (walau baru sebulan menikah).. I’m sure that these are very precious to share, especially to our next generation..

HOLINESS

Ketika kami berkomitmen untuk menjalani hubungan pranikah (jadian), ya pasti senang banget dong haha. Kami jadian pada bulan Juni 2012. Akhirnya dia mendengar dari mulut saya kalau saya menjawab “iya” untuk pernyataannya. Yah pada intinya, we was committed to pre-marriage relationship. Rasanya senang sekali, saudara-saudara, seolah-olah ada bunga-bunga di dalam hati dan pikiran ini seolah-olah ditarik oleh magnet besar yang namanya si dia, hehe. Namun ada satu hal yang saya sadari waktu itu. Jika saya benar-benar menghormati hubungan ini sampai ke pernikahan, saya dan dia harus menjaga kekudusan. Terlebih dari itu, jika kami berkata kami menghormati Tuhan, kami harus menjaga kekudusan kami sebelum pernikahan. Saya tahu bahayanya ketika kami berkompromi dengan perasaan-perasaan, mulai tidak kudus dengan banyak bersentuhan, dan pada akhirnya jatuh ke dalam hubungan sebelum pernikahan.

Jadi kami bersepakat untuk not to touch each other, kecuali salaman atau salim pada saat bertemu, hehehe.. Jadi selama menjalani masa pranikah, kami komit untuk menjaga tubuh kami masing-masing dan pasangan dengan tidak bersentuhan lebih banyak dari salaman. Hmm oke, ini memang sangat tidak lazim untuk generasi modern jaman sekarang, dimana banyak anak muda yang pacaran dengan tidak terkontrol. Awal-awalnya, dengan perasaan yang membunga dan menggebu-gebu, sejujurnya agak berat bagi kami, karena jujur di dalam pikiran saya ada keinginan untuk bersentuhan dengan calon pasangan hidup saya. Dan tidak hanya itu, kami juga menceritakan value yang kami pegang kepada teman-teman kami, ada juga tanggapan yang biasa dan bahkan memandang aneh apa yang kami lakukan. Wah tantangannya banyak, baik dari dalam diri kami sendiri, maupun dari luar. Namun, kami saling menguatkan satu sama lain, percaya kalau apa yang kami lakukan ini benar, berusaha menutup semua celah untuk ketidakkudusan.

Tantangan banyak juga datang dari diri kami pribadi. Pernah pada suatu kali, dalam suatu perjalanan, saya dan dia duduk bersebelahan. Dalam pikiran saya, saya pengen menyandarkan kepala saya di bahunya, sekali-kali deh Tuhan, hehe, tetapi setelah itu malah jadi perang batin. Holy Spirit reminded me to keep the holiness, tapi Tuhan sekali aja gapapa kan. Sampai akhirnya saya jadi menyandarkan sedikit kepala saya ke badannya, sementara dia tidur. Dan disitu makin menjadi perang di dalam batin saya, sampai saya akhirnya menangis (diam-diam). Tetapi setelah kami tiba di tempat tujuan, kemudian pada suatu pembicaraan di BBM, saya mengaku sama dia tentang pengalaman saya di perjalanan tadi, saya minta ampun sama Tuhan, dan rekonsiliasi. Selain itu, pernah juga saya salah paham dengan dia. Di suatu perjalanan lainnya, kami duduk di travel yang lumayan kosong, dan ada 3 seat yang bisa kami pakai. Saya duduk duluan di pinggir, kemudian dia mengambil tempat di ujung satunya, sehingga menyisakan satu tempat kosong di tengah. Entah kenapa, itu membuat saya agak tertolak sebenernya dan membuat hati pedih, hehehe.. Tetapi, setelah diceritakan olehnya, saya jadi sadar, kalau itu adalah langkahnya untuk menjaga supaya dia tidak bertingkah aneh-aneh. Di lain kesempatan, Mas Alit pun mengalami hal-hal yang sama, dimana dia pernah ingin mencium saya pada saat perpisahan di travel, tetapi ga jadi. Dia mengakuinya pada saat kami sudah berpisah ke tempat masing-masing.

Bahkan foto prewedding kami pun bercerita soal komitmen kami. Kami komit untuk tidak berpose terlalu mesra untuk prewedding, karena ya itu pre kan? Sebelum-menikah. Artinya ya hak-hak keintiman itu boleh kami dapatkan ya setelah menikah. Kami agak sedikit ‘mengatur’ fotografernya untuk tidak mengarahkan ke pose yang berlebihan hehe. Pada saat sebelum pemberkatan pun, di hari H, ada waktu untuk kami foto-foto berdua dulu sebelum kebaktian. Fotografer kami mengarahkan saya untuk menggandeng tangan Mas Alit, namun kami kompak menolaknya dengan halus, karena kami belum resmi suami-istri, dan fotografernya menerima keputusan kami. Hehehe. Mas Alit akhirnya bilang, bahkan sampai akhir pun, kami tetap mau jaga value kami, sampai akhirnya kami resmi jadi suami-istri. Hehe how sweet ya suami saya :)

Sukacita keintiman adalah upah dari komitmen. Itu adalah statement yang pernah saya baca dari sebuah buku rohani tentang relationship. Dan itu benar, apalagi setelah kami menjalani pernikahan.

Masyarakat sekarang beranggapan, ooh bulan madu yang bahagia itu harus ke tempat yang jauh dan bagus, seperti Bali atau Singapore. Namun kami sendiri membuktikan, ga harus seperti itu kok. Yang penting itu bukan tempat atau mahalnya rencana bulan madu itu, tetapi ketika kami menikmati keberadaan satu sama lain :) Bulan madu kami anggap sebagai tempat kami lebih mengenal pasangan. Kami memesan kamar hotel untuk beberapa hari di Bandung, ga jauh-jauh kok hehe, dan hotel tersebut punya fasilitas yang cukup oke untuk bulan madu. Ada beberapa rencana kegiatan di dalam pikiran saya, namun ternyata hal-hal tersebut ga jadi dilakukan, karena kami sudah cukup senang dengan keberadaan masing-masing, tidak ditambah-tambah dengan kegiatan lain. Bahkan kami berdua jarang keluar kamar ketika kami berlibur di situ. Lalu Tuhan ingatkan kami, wah sukacitanya sangat berlipat-lipat-lipat-lipat ketika kami jaga kekudusan dan menutup celah dosa sebelum kami menikah. Ketika menikah, itu menjadi sebuah surprise yang sangat luar biasa. Thank You, Lord!

Jadi, kami mau bilang ke next generation, bahwa ikut apa kata Tuhan itu akan mendatangkan sukacita. Melakukan hal yang sebelum waktunya tidak akan mendatangkan damai sejahtera. Ketika Tuhan menjadi Tuhan dalam hidup kita, segala sesuatu akan berada pada tempat yang seharusnya, dan ada sukacita berlimpah yang Tuhan mau kasih ke dalam kehidupan kita ;)

45440_10200335773188780_1230100392_n

MARRIAGE PREPARATION

Saya ingat, pada bulan Maret 2013, Mas Alit mengatakan waktu yang dia pikirkan untuk pernikahan kami. Februari 2014. Saya menerimanya dengan hati yang senang dan tunduk (hehe). Setelah itu, dia datang ke rumah untuk bertemu orang tua saya dan menyatakan keseriusannya untuk menikahi saya :) :) :) Jadi kira-kira persiapan pernikahan memakan waktu kurang dari setahun.

Ada banyak juga pembentukan karakter dan iman yang Tuhan kerjakan dalam persiapan pernikahan ini. Ada satu value tentang keuangan yang kami pegang, yaitu cukupkan dirimu dengan apa yang ada atau dengan kata lain kami berkomitmen untuk tidak berhutang sana-sini. Yah kami tahu biaya pernikahan itu tidak sedikit dan kami memutuskan untuk menabung. Setiap menerima uang, kami menabung ke satu rekening untuk persiapan pernikahan kami. Kami berprinsip, tidak perlu pesta yang mewah dan mengundang hampir ribuan orang, walaupun kalau ditotal, teman-teman kami bisa sampai ribuan, hehehe. Cukup resepsi yang sederhana saja dan tidak perlu mencari perkenanan manusia. Justru yang lebih penting adalah kehidupan setelah pernikahan, kecukupan untuk kebutuhan sehari-hari, tempat bernaung, dan sebagainya. Jadi kami mendobrak pemikiran-pemikiran selama ini yang mengatakan kalau menikah harus di gedung mewah dan mengundang ribuan orang. Pemberkatan dan resepsi kami diadakan di sebuah restoran di Dago, Bandung yang berkapasitas maksimal 700 orang. Kami tidak memakai adat-adat yang benar-benar adat, jadi dari dekorasi sampai kostum pun sederhana saja. Berkaitan dengan tata cara, puji Tuhan, keluarga dari masing-masing kami tidak terlalu banyak keinginan dan lembut untuk menerima apa yang kami rancangkan.

Namun walaupun begitu, tetap saja pada saat dua bulan sebelum hari H, kami merasa tabungan kami belum cukup. Kami terus berdoa dan saling menguatkan iman satu sama lain supaya tetap percaya sama Tuhan kalau Dia bakal sediakan uang buat kami :’) Ada kejadian yang luar biasa, satu bulan sebelumnya, acara tunangan  diselenggarakan. Semula, tanpa berkonsultasi dengan keluarga, kami membuat anggaran untuk lamaran dengan pemikiran kami sendiri. Singkat cerita, setelah konsultasi dengan keluarga Mas Alit, dana yang dibutuhkan menjadi 9-10 kali lipat. Weew, uang darimana??? Kami jujur sempat bingung, karena biaya-biaya tersebut kami yang menanggungnya, tapi kami taat saja dengan keluarga. Namun Tuhan itu memang setia, keluarga saya di luar kota datang ke acara lamaran, dan memberikan pas sesuai dengan jumlah kurangnya anggaran pernikahan kami karena membengkaknya dana lamaran. Wowww dahsyat Tuhan! Bahkan kami bisa menabur buat pelayanan di masa-masa kami butuh duit itu. Selain itu pas sekali, papa saya mendapat pekerjaan pada bulan November 2013 dengan gaji di atas rata-rata, sehingga papa mama bisa membantu kami dalam mengurus pernikahan. Kami sangat sangat terbantu dengan papa dan mama. Tepat sekali memang pertolongan Tuhan!

Banyak sekali yang saya mau ceritakan di masa-masa persiapan pernikahan, dimana banyak sekali kemurahan dan ketepatan Tuhan. Kami berdoa juga buat cuaca supaya tidak hujan pada saat kami menikah. Kami menikah pada tanggal 23 Februari 2014. Pada tanggal 20-22 Feb, Bandung terus diguyur hujan. Saya sempat pesimis sebenernya, tetapi terus berdoa sama Tuhan. Ajaibnya, di tanggal 23 Feb itu pagi-pagi sebelum pemberkatan itu memang gerimis sedikit, tetapi habis itu berhenti sampai malam. Alhasil, cuaca pada saat acara kami itu tidak hujan, tetapi tidak panas juga, adem gitu deh, sehingga kami dan para tamu pun merasa nyaman. Ajaibnya, besoknya tanggal 24 dst hujan mengguyur Bandung kembali. Hahaha..

Our Pose

Kami mau berkata, kami adalah saksi hidup yang melihat Tuhan sendiri setia dalam kehidupan kami. Semoga pengalaman kami ini memberkati dan menginspirasi generasi-generasi berikutnya. Be blessed :)

Aku akan mendirikan bagi mereka suatu taman kebahagiaan, sehingga di tanah itu tidak seorangpun akan mati kelaparan dan mereka tidak lagi menanggung noda yang ditimbulkan bangsa-bangsa. Yehezkiel 34:29

-this is God’s promise for our marriage

1

Surprise! Gantengnya suamiku :3

February Random

I got some really “something” picture from HJ Story and I think they are very sweet and some of his pictures reflect my life at the present time. Thanks God for these moments :)

patience

Thanks for being so patient these time

jacket

Thanks for this moment

dunnowhattodo

:p

wakeup
For waking me up

nomeat

Well, it happened with coffee and instant noodle, wahaa

overcomeobstacle

Overcoming problems together

laughingtogether

Laughing together

pickmeup

By the grace of God, we can support each other
gift
jake

Thank You and thank you :)

Orang Seberang

Cerpen oleh Alit Dewanto, Favourite Winner Short Writing Competition at Level Lip Ice-Selsun Awards 2008 by Rohto Lab Indonesie

Tak akan kusangkan akan ada pertanyaan seperti ini. Aku seperti tak akan pernah memastikan jawabannya. Kususuri karang Pantai Nunsui, berharap akan bertemu seorang kawan disana. Pantai yang sangat indah, di kota yang sangat indah pula.Berbagai pengalaman terajut di sini.

Tiada seorang kawan pun ternyata. Sendiri, aku menatap debur ombak, silih berganti. Kecil namun konsisten dalam menunjukkan eksistensinya. Kugaruk sejumlah pasir dengan ibu jariku. Kutuliskan uneg-unegku. Kutumpahkan semua pada Pantai Nunsui ini. Belum genap sehari, aku bersama Nare dan Ted berburu kerang di sini, memanggangnya bersama-sama. Sungguh menyenangkan. Aku tahu sekarang mereka sedang pulang ke kampung halaman masing-masing sambil menunggu pengumuman kelulusan.

Kupang, aku sama sekali tak pernah berniat untuk meninggalkanmu. Hati kecilku berbicara bahwa engkaulah kotaku, meski bukan tempat kelahiranku, meski bukan pula tempatku dibesarkan oleh kedua orang tuaku. Tak apalah, keputusan akan segera dibuat.

Aku kembali memusatkan perhatianku kepada deburan ombak di sana. Tak akan ada tsunami di sini, guyonku pendek. Deburan ini mengingatkanku saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke kota ini. Begitu sampai, pemandangan laut yang sangat bersih, tersaji begitu stabil. Aku ingat pula suguhan sopii (minuman khas kota Kupang, beralkohol, dibuat dari beras) yang dianggap sangat biasa, sama sekali tak lazim di daerah kelahiranku. Menu makanan yang hampir ada setiap harinya ikan, apa saja jenisnya. Secara pribadi, aku sangat menggemari ikan raja dan ikan dusun.

Tetapi aku sudah bermupakat dengan diriku sendiri bahwa Pantai Nunsui inilah yang begitu terberkas di sanubariku. Pasir putih dan karang-karang terjalnya begitu tertata dengan uniknya. Andai saja seluruh keluargaku tinggal di sini. Argh, kurang bersyukur aku ini.

***

Pakdhe meninggal. Entah ini merupakan hari kesedihan, hari kebahagiaan bagiku, atau malah sekaligus keduanya. Seluruh sanak famili hadir, termasuk Kak Fung sekeluarga. Optimisme memang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Bagiku, itu sebuah pelajaran yang berarti. Jangan terlalu optimis sekarang, wejangku pada diriku sendiri.

Aku gagal diterima di sebuah STM negeri yang cukup diminati banyak orang. Aku sudah mencoba mencari alternatif-alternatif STM lainnya di kota yang sama. Pendaftaran negeri serentak menutup pintunya sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pasrah, aku menanti nasib. Aku belum melupakan Dyas, kakakku. Dia mengalami hal yang sama denganku tahun lalu. Terlalu optimis ialah kunci kegagalannya. Cita-citanya musnah karena hal tersebut.

Saat ini, aku hanya duduk termangu. Di sampingku terdapat beberapa berkas pendaftaran untuk beberapa STM swasta. Bapak sangat tidak menyarankan aku menerimanya. Aku pun menimbang hal ini. Sangat tidak bijak, jauh-jauh datang ke kota, hanya belajar di sekolah kacangan.Terlintas pula untuk menganggur selama setahun, mencoba lagi tahun depan. Tapi, kupikir itu sangat mustahil. Aku tak mau memberatkan dan memalukan kedua orang tuaku.

Sambil kusandarkan kepalaku di sofa belakang, kuserup segelas air putih. Rasanya lega sekali. Tamu-tamu sudah banyak berdatangan untuk melayat Pakdhe. Tugasku saat ini hanyalah menjaga kotak sumbangan. Kuamati jarum jam yang hampir menggenapkan dirinya dia angaka sepuluh. Masih belum siang. Tiba-tiba aku dikagetkan suara Bapak.

“San, ke sini sebentar. Kak Fung ingin bicara denganmu sebentar.” Panggil beliau. Aku menangkap kesan prihatin dari ucapan tersebut, entah bagaimana.

Tanpa ada minat khusus, aku berjalan menuju teras depan. Kak Fung sedang duduk di depan menyanggami beberapa tamu. Aku sudah menitipkan kotak
sumbangan kepada salah satu anak karang taruna.

” Maaf. Kak Fung mau bicara sama saya?” sapaku mendekat padanya.

Kak Fung hanya tersenyum melihat kedatanganku. Seperti biasa, aku jarang dapat mengartikan rona wajahnya. Dia begiu misterius, bagiku. Tidak seperti kakak-kakak sepupuku yang lain. Mungkin ini karena aku jarang bertemu dengannya. Dia menyulut sebatang rokok. Sejenak dia menghembuskan napasnya panjang-panjang. Aku sedikit gugup.

” San, kata Oom, kamu belum mendapatkan sekolah. Dan dengar-dengar pula dari beliau kalau kamu ingin melanjutkan ke STM.”

Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dia kembali bermonolog.

” Aku ingin menawarkanmu untuk bersekolah di STM yang sekarang kupimpin. Masalahnya: letaknya di Kupang. Bagaimana pendapatmu?”

Aku tak mampu menyembunyikan kebingunganku, antara senang atau sedih. Aku tahu sekarang ini Kak Fung memang menjabat sebagai seorang kepala sekolah STM di kota Kupang. Kupang… Kupang. Mengapa harus Kupang? Bila aku menerimanya tentu saja aku akan berpisah dengan keluargaku, jauh sekali. Tiga tahun, sampai aku tamat mungkin. Ya, selama itu aku tak akan bersua dengan mereka, jika aku menerima tawaran ini. Tapi, aku juga tak tahu, bagaimana kalau aku tak menerima tawaran ini. Wah, aku kalut sekali.

Lama kupandangi kursi sewaan di depanku. Aku tak bisa menggeser sedikitpun dari kedudukanku. Kuhela napas. Ya, aku bersiap memberi jawaban.

” Baik, Kak. Saya terima tawarannya.” putusku.

***

Entah apa namanya, yang jelas aku sangat menyukainya. Di kemudian hari, aku baru tahu kalau namanya jagung bose. Gurih, sedikit manis rasanya. Perlu sekitar dua hari untuk membuatnya, dan hanya muncul setiap perayaan atau pesta saja, misal pernikahan. Makanan ini terbuat dari jagung yang dihaluskan, kemudian direndam dalam rempah-rempah, dibungkus dengan daun pisang, lalu dipanggang. Setiap pesta, aku selalu menunggu-nunggu makanan ini.

” Bagaimana San, apa keputusanmu?” tanya seorang pria di dekatku.

Jujur, aku sama sekali tak mengharapkan pertanyaan itu. Ini sebuah keputusan yang sulit. Aku tak ingin tergesa-gesa mengabarkan hasil rapat antara hati dan otakku. Kuserup sisa kopi sabu (sejenis kopi tradisional yang sering dibuat oleh Suku Sabu, biasanya tinggal di daerah Flores) yang dibawanya dari kampung.

” Aku pasti akan mengabarkan kepada kalian.”

Aku sama sekali tak pernah berniat menyembunyikan perasaanku kepada Nare. Dia sudah lebih dari seorang saudara bagiku. Dia kelihatan tak begitu berangasan lagi setelah pulang dari pulau Flores.

Kututup mataku sejenak. Sebenarnya, aku sangat merindukan kembali berkumpul dengan keluargaku di tanah Jawa. Kembali aku mengingat bagaimana harmonis dan indahya keluarga kami. Sehari sebelum keberangkatanku ke kota Kupang, kutegaskan kepada mereka bahwa aku tak akan pulang sebelum berhasil. Memang terlihat sangat idealis, tetapi aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku. Mungkin, dulu aku agak terbawa emosi ‘anak lulusan SMP yang hampir putus harapan’.

” Tetapi kamu pasti pulang ke Jawa kan?” tanyanya memastikan.

” Kalau itu, tentu saja. Aku akan pulang untuk bertemu dengan keluargaku.” Aku sudah menabung sejak pertama kali aku bersekolah di sini. Aku memang disekolahkan oleh Budhe. Setiap bulan, beliau mengirimiku uang. Kutabung sebagian untuk membeli tiket kapal pulang ke Jawa. Kurasa sekarang lebih dari cukup.

” Lakukanlah apa yang terbaik menurutmu, San. Jangan lupa berdoa untuk pergumulanmu ini. Dia pasti akan membukakan jalan.” ceramah Ted, yang berdiri di belakang pundakku. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dari dulu, memang
dia yang berbakat di bidang rohani. Kami kembali terhanyut oleh suasana pesta. Terdengar sayup-sayup seseorang mendendangkan salah satu lagu dari The Canberrias.

” Baiklah, malam ini juga aku akan berdoa,” balasku. Tuhan, aku yakin Engkau akan menolongku, pintaku dalam hati.

***

” Lulusan terbaik STM Prawiyatna Kupang, jurusan Teknik Mesin Otomotif. Satu, Ihsan Oktoranto. Dua,…” Pembawa acara sedang membacakan pengumuman. Aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, kontan kawan-kawan di sebelahku beramai-ramai mengangkat tanganya, memelukku, menubrukku, menggoyang-goyang tubuhku. Entah selebrasi macam apa yang mereka kehendaki.

Tak ada rasa spesial di hatiku. Dari awal sampai akhir, aku hampir selalu menjadi yang terbaik di jurusan. Padahal semasa bersekolah di Jawa, predikat tiga besar pun belum pernah kucicipi. Di sini, persaingan sangat tidak merata. Dan cukup mudah bagiku, tentu saja. Apalagi, posisiku adalah adik sepupu dari kepala sekolahnya. Aku hanya terbahak dalam hati.

Di akhir acara, Kak Fung menarik tanganku, menuju ke kantornya. Aku pun menurut saja. Jelas dia akan menyampaikan sesuatu yang penting lagi. Sampai sekarang pun, aku masih belum terbiasa dengan karakternya. Pertama-tama, jelas dia mengucapkan selamat atas prestasiku di sekolah.

” Kedua, aku ingin menyampaikan beberapa opsi yang patut kamu pertimbangkan.” Dia meletakkan rokoknya di atas asbak. ” Kamu sekarang sudah lulus. Ketika aku menawarkan sekolah di Kupang, kamu tak mempunyai pilihan lain sehingga mau-tidak mau kamu harus menerimanya. Tetapi, sekarang kamu memiliki beberapa pilihan.”

Dia mulai memperbaiki tempat duduknya. Meskipun statusnya ialah kakak
sepupuku, tetapi kami berrselisih dua puluh lima tahun. Wajar kalau dia
menganggap dirinya sebagai orang tuaku di sini. Anak tertuanya bahan dua tahun
lebih tua dariku.

” Setelah ini, kamu akan pulang ke Jawa. Kamu sudah berencana untuk meneruskan kuliah diploma. Kamu bisa tetap melanjutkan di sini atau bisa pula melanjutkan ke Jawa, tetap dengan biaya Budhe. Hanya kamu bisa lebh dekat dengan keluargamu kalau kamu memilih kuliah di Jawa.”

Aku sudah paham ke arah mana pembicaraan ini sebelumnya. Seminggu aku telah menggumulkan masalah ini. Kupang. Di sinilah, karakterku semakin terbentuk. Di sinilah, sahabat-sahabat sejatiku muncul. Di sinilah, berbagai kenangan menyatu beradu dengan jiwaku. Sulit, sangat sulit, untuk meninggalkan begitu saja. Lagipula, aku lebih cocok menetap di sini. Aku termasuk salah satu siswa yang unggul sehingga bisa mempermudah akses. Inilah jalan yang akan kumanfaatkan. Lagipula satu-satunya politeknik negeri di sini sudah menawarkan program beasiswa kepadaku. Sangat sayang apabila dilewatkan begitu saja. Berbeda dengan Jawa yang menuntut persaingan yang snagat ketat.

” Ya, Kak. Saya sudah memikirkannya jauh hari. Saya akan pulang ke Jawa untuk bertemu dengan keluarga.” Aku menghela napas. ” Dan, akan kembali ke Kupang lagi untuk melanjutkan kuliah.” tambahku.

” Kamu yakin?”

” Saya sudah berhasil meyakinkan diri saya sendiri. Bapak-Ibu pasti akan mendukung keputusan saya ini. Saya akan berkarir di sini nantinya,” jawabku tegas.

Kak Fung terlihat melorotkan tubunhya ke kursi. Entah terkejut atau senang akan keputusanku ini. Wajahku menjadi semakin kerut.

” Baiklah. Kamu sudah bertekad dalam hal ini. Secara pribadi, aku sangat bangga akan keputusanmu. Ini menunjukkan kedewasaanmu selama ini.” Dia berdiri dan berjalan menuju teras kantor, mungkin sekedar menghirup udara segar. Belum sampai lima langkah dia berbalik dan berkata, ” Jangan lupa kamu sudah menjadi orang seberang sekarang.”

***

Akhirnya, sampai juga aku ke tanah kelahiranku. Bertransportasi via kapal sangatlah melelahkan. Selama tiga hari ini kuhitung, aku sudah berganti kapal sebanyak empat kali dan bus kota sebanyak tigak kali. Itupun belum terhitung taksi dan angkuta umum yang kugunakan dari pelabuhan menuju terminal bus.

Aku berjalan menyusuri kampung yang pernah menjadi saksi masa kecilku. Terlihat sebuah rumah sederhana, dilengkapi sebuah warung di depannya. Masih seperti dulu, ujarku dalam hati. Kutahan napas dan emosiku ketika mulai memasuki pekarangannya. Warung masih buka, dijaga oleh adikku yang paling tua. Aku berdiri memandangnya. Sekarang dia berusia sepuluh tahun, kuhitung dalam hati. Ya, salah satu alasanku kembali ialah melihat kedua adikku. Mereka
merupakan motivsi utamaku dalam mengerjakan segala hal. Tertama untuk merekalah, aku harus segera bekerja. Akulah yang nantinya akan membiayai sekolah mereka. Tugas ini tentunya sangat berat. Oleh karena itu, harus segera pulalah persiapan yang kujalani.

Dia terlihat ketakukan, meski akhirnya angkat suara, ” Mas, mau beli apa?”

Aku hanya tersenyum, memandanganya. Tiga tahun ternyata membuahkan perubahan yang besar pada diriku. Dia terlihat sangat ketakuan, mungkin karena tidak mendapatkan respon yang diharapkan. Dia berlari masuk, mendapatkan Bapak. Bapak pun keluar. Beliau sudah semakin tua, hampir mencapai kepala enam.

” Maaf. Anda siapa ya?” Beliau kelihatan sangat bingung menatapku. Lidahku sedikit kelu menjawabnya.

” Aku Ihsan, Pak.”

” Insan.” jerit beliau cukup kencang.

Sontak beliau memelukku, erat sekali seakan tak akan pernah lepas dari genggamannya lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyaksikan Bapak menangis sesenggukan. Wajahku dirabanya seakan-akan beliau tidak memercayai bahwa inilah aku. Aku paham akan ini. Selam tiga tahun, aku hanya sekali berhubungan telepon, dan sekali berkirim surat. Aksesnya sangat tebatas dan tidak ekonomis.

” Dek, Insan pulang.” teriak beliau kepada Ibu.

Ibu yang sedang berada di dapur langsung berlari terbirit-birit, kemudian menubrukku, mendekapku, sambil menangis penuh arti. Aku menyongsongnya sangat hangat. Beliau bahkan sampai rela menjinjitkan kakinya untuk bisa mengecupku. Berulang kali. Beliau berkali-kali melihat wajahku, mengelus pipiku. Hanya tangis yang ada. Akhirnya, kami berkumpul lagi.

Setelah emosi reda, aku menceritakan segala pergumulanku, tanpa ada rahasia sedikitpun. Mereka menerimanya dengan lapang dada, mendukungku. Aku bukan berarti dianggap sebagai anak hilang. Memang inilah jalan yang terbaik untuk masa depanku.

“Ya. Aku telah menjadi orang seberang.” kataku menirukan ucapan Kak Fung, mengakhiri pembicaraan.