teaching

Lompatan Iman

Written by Alit Dewanto

Seorang atlet lompat galah dengan sungguh-sungguh melompat melewati rintangan yang ada di depannya. Perjuangannya tidaklah sia-sia karena dia berhasil melewati dan menunggu kesempatan berikutnya untuk melompat lebih tinggi, lebih tinggi, seakan-akan tidak pernah puas dengan lompatan yang ada saat ini. Kalau kaki bisa melompat, maka orang Kristen akan berbicara mengenai lompatan iman.

Spirit perintisan tidak bisa dipisahkan dengan apa yang disebut lompatan iman. Kita berada di dalam masa dimana Tuhan membawa kita untuk melayani hal-hal yang lebih besar dan luar biasa. Ada tenaga, waktu, pikiran, uang, semangat, perhatian yang harus dicurahkan dan diinvestasikan. Ada keputusan demi keputusan yang diambil berdasar kasih kepada Kristus. Lahir anak-anak rohani yang tertanam di berbagai wilayah dan pemimpin-pemimpin baru yang ditahbiskan.

Namun seringkali perintisan tidak lagi menggairahkan, pertambahan jiwa sangat sedikit, ada banyak tantangan dari lingkungan, pekerja yang mudah menyerah, dan anak-anak rohani yang tidak kunjung setia dan hanya sekedar hadir. Ditambah kekurangan finansial dan waktu pun disebut-sebut sebagai penghalang terbesar lainnya.

2 Korintus 4: 11-13 “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikialah maut juga giat di dalam kamu. Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”

Ada sesuatu yang berbeda ketika Paulus memberi diri untuk melayani Kristus. Mereka tanpa henti memberi hidupnya, mengalami bahaya mau sepanjang waktu, hidup seperti terombang-ambing kemana Tuhan hendak membawa mereka. Namun hidup mereka menjadi semakin kuat hari lepas hari. Secara fisik, mereka tidak mempunyai apa-apa, namun kekuatan mereka adalam IMAN. Iman adalah DASAR mereka berharap dan BUKTI pembelaan Tuhan yang sempurna (Ibr 11:1). Sehingga ditengah himpitan-himpitan yang ada, kita perlu terobos dengan IMAN, dengan IMAN, dengan IMAN.

 

Dalam hal finansial pun demikian

Ketika pelayanan ini berkembang, ada satu prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita yang harus menyesuaikan diri kita kepada Tuhan, bukan sebaliknya Tuhan yang menyesuaikan dengan kita. Diri kita sangat terbatas, dan kadang-kadang keterbatasan itulah yang membuat terbatasnya juga pekerjaan tangan Tuhan yang harusnya tidak terbatas.

Sangat erat kaitannya dengan masalah finansial. Hampir semua mahasiswa masih bergantung kepada orang tua dalam hal keuangan. Banyak yang jadi ciut hatinya dan tidak yakin bisa memberi untuk pelayanan. Saya pernah mengalami pergumulan seperti itu. Antara mau menabur dengan ketaatan atau mencukupkan diri dengan kebutuhan-kebutuhan. Suatu kali saya ingat betul, pelayanan Sion belum memiliki keuangan yang cukup mapan di awal-awal tahun 2011, dan kemudian kita mau mengadakan HC/ HW beberapa kali. Kebutuhan sangat banyak dan dibuka ladang taburan bagi yang rindu untuk menabur. Saat itu awal bulan dan saya ingat betul jumlah uang di rekening saya 900 ribu rupiah, dan itu untuk satu bulan penuh.

Saya menjadi penuh pertimbangan dalam menabur. Bagaimana dengan uang makan saya? Kan saya sudah kasih perpuluhan dan itu cukup? Bagaimana uang angkot, fotokopi buku, dsb? Namun di saat itu saya ingat betul, kebenaran Firman Tuhan yang benar adalah jangan sampai kita memberi remah-remah kepada Tuhan. Anjing kita kasih remah-remah, masakan Tuhan kita beri remah-remah juga. Dan saat itu saya dengar suara Tuhan, saya tabur 700 ribu dari rekening saya. Tertinggal 200rb di rekening saya untuk kehidupan selama satu bulan, ada damai sejahtera sejati.

 

Saya percaya lebih daripada saya berusaha, TUHAN jauh lebih berusaha untuk menggenapi janji-Nya. Tuhan yang akan gantikan uang tersebut karena saya tabur dengan sungguh-sungguh, Dia tidak akan membiarkan saya berhutang, dan saya benar-benar yakin hidup saya DIJAMIN oleh kekuatan Kristus. Di saat itu, pikiran saya mulai berusaha berpikir untuk menghemat makan menjadi dua kali sehari dan apapun yang bisa dihemat, namun seminggu kemudian saya diundang oleh pemberi beasiswa saya, kalau ada jatah THR bagi para penerima beasiswa dan saat itu juga uangnya cair dan diberikan. Saya sungguh terpesona sekali di masa muda saya, Tuhan menunjukkan bahwa Dia bedaulat atas keuangan saya. Yang saya perlukan hanyalah IMAN, IMAN, IMAN, dan IMAN. Ketika IMAN itu berbicara, segala sesuatu akan tunduk.

Waktu kali pertama mengadakan HC di depok, kita kekurangan dana 7 juta lebih. Saat itu saya ingat berdoa “Tuhan kalau Engkau berikan saya 7 juta bulan ini, saya akan langsung berikan untuk HC”. Dan tepat sekali saya berdoa, Tuhan jawab bulan itu 7 juta diberikan kepada saya sebagai bonus dari kantor dimana saya bekerja, dengan jumlah yang tepat.

Ada banyak godaan untuk tidak beriman, ada banyak godaan untuk kita tidak menabur namun Firman Tuhan kekal. Ketika mempersiapkan pernikahan bersama dengan isteri saya, kami memegang prinsip Tuhan yang pertama. Jadi begitu dapat gaji, yang pertama kami berikan ialah perpuluhan dan uang taburan, kemudian sisanya baru untuk kehidupan keluarga, penghidupan sehari-hari, dan tabungan pernikahan.

 

Sejak dini dan awal sekali…

Rekan-rekan sekalian, jika engkau saat ini merasa kurang uang untuk penghidupmu, tabur uangmu untuk melayani Tuhan. Jika engkau sangat berlebih uangmu, tabur lebih untuk uang. Kamu melihat dirimu bisa makan 3 kali sehari dengan sehat, namun dengan mata yang sama kamu membiarkan rumah Tuhan terbengkelai karena sedikit yang mengorbankan diri. Harusnya tidak demikian bukan? Hiduplah dengan sederhana dan cukupkanlah yang ada. Adik-adik yang masih muda tidaklah terlalu muda untuk melayani, memberi persembahan untuk rumah Tuhan, untuk menjangkau dan melahirkah keturunan-keturunan rohani.

Suatu kali, ketika saya sudah bekerja, saya mengalami pergumulan dalam hal keuangan. Saya tahu dengan persis bahwa uang yang tertinggal dalam rekening sudah tidak cukup untuk penghidupan saya. Saya sudah bekerja, tidak mungkin saya minta-minta sama orang tua saya. Meminjam pun segan. Dan pelayanan sedang membutuhkan banyak dana operasional. Saya terduduk dalam kamar saya dan merenung, apalagi saat itu saya sedang dalam masa-masa persiapan pernikahan. Mungkin itu adalah titik dimana saya bergumul hebat dalam perkara ini. Namun di saat seperti itu, ketika saya berdoa dan berada dalam hadirat Tuhan yang kudus, urapan-Nya begitu mengalir dan berkuasa. Di saat-saat itu, yang saya butuhkan adalah saya bertemu dengan Tuhan dan Firman-Nya dengan teguh menguatkan saya. Saya tersungkur sambil terus merenunginya.

Mazmur 23: 1 Tuhan adalah gembalaku, tidak akan kekurangan aku

Mazmur 23: 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

Mazmur 23: 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah

YA YA YA, Dia sungguh setia, teramat setia, dan sangat amat setia. Firman Nya cukup untuk menjadi pegangan bahwa kita TERJAMIN.

 

Sakit bersalin dan terus sakit bersalin.. 

Nah saya mengajak semua mengerjakan hal yang sama bahkan lebih. Tidak cukup satu dua orang yang panas namun yang lain suam-suam kuku. Tuhan ingin menggerakkan kita semua untuk menjadi satu tim yang kokoh, memiliki nilai dan prinsip yang kuat, dan mengerjakan kegerakan rohani ini dalam satu haluan.

Awal tahun ini selain sion depok dan cawang, dirintis juga sion bekasi, sion bintaro, sion grogol, dan juga sion semanggi. Banyak dana yang dikeluarkan, banyak tenaga dan pikiran dicurahkan untuk memuridkan. Saya dan isteri tetap berusaha untuk mengerjakan yang terbaik dengan apa yang sudah Tuhan percayakan. Namun tetap peliharalah rasa “SAYA TIDAK AKAN PERNAH PUAS” karena apa yang kita kerjakan belum SEBERAPA. Dibandingkan dengan Rasul Paulus, Petrus, dan lainnya, yang kita lakukan masihlah belum seberapa.

Siapa yang mau beriman? MELOMPATLAH!

KATAKAN BERSAMA-SAMA: Iman saya mau melompat sejauh yang Tuhan kehendaki. Saya mau melompat sampai batas-batas yang sudah tidak bisa dirasakan oleh tubuh saya sendiri. Dan sejauh itulah kemah saya dikembangkan, keturunan saya tinggal tetap, dan itulah akhir hidup saya.

 

Generasi perkasa dilahirkan dari angkatan ini,

Alit Dewanto

Advertisements

Never Ready Faith (Reblogged)

I have never been ready, Never – Ready Faith by Steven Furtick 

A lot of people weren’t ready in the Bible – Abraham wasn’t ready when God called him, Moses wasn’t ready, the disciples were never ready and they never got it. Even when they got it they still didn’t get it. Each time they were ready they started to doubt because their faith was in their readiness.

Jeremiah 1:4-10 Then the word of the Lord came to me, saying:
“Before I formed you in the womb I knew you; Before you were born I sanctified you; I ordained you a prophet to the nations.” Then said I: “Ah, Lord God!Behold, I cannot speak, for I am a youth.” But the Lord said to me: “Do not say, ‘I am a youth,’ For you shall go to all to whom I send you, and whatever I command you, you shall speak. Do not be afraid of their faces, For I am with you to deliver you,” says the Lord. Then the Lord put forth His hand and touched my mouth, and the Lord said to me: “Behold, I have put My words in your mouth. See, I have this day set you over the nations and over the kingdoms, to root out and to pull down, to destroy and to throw down, to build and to plant.”

  • God always look at the hearts, never the appearance.
  • There’s the time where God shapes you and calls you for something and then there’s the time where you become aware of it and responsive to it.
  • “I am not ready” is just an excuses because you will never been ready.
  • He’s got options and you just have to show up! Present yourself to God.. Here I am.
Mark 8:13-21 And He left them, and getting into the boat again, departed to the other side. Now the disciples had forgotten to take bread, and they did not have more than one loaf with them in the boat. Then He charged them, saying, “Take heed, beware of the leaven of the Pharisees and the leaven of Herod.” And they reasoned among themselves, saying, “It is because we have no bread.” But Jesus, being aware of it, said to them, “Why do you reason because you have no bread? Do you not yet perceive nor understand? Is your heart still hardened? Having eyes, do you not see? And having ears, do you not hear? And do you not remember? When I broke the five loaves for the five thousand, how many baskets full of fragments did you take up?” They said to Him, “Twelve.” “Also, when I broke the seven for the four thousand, how many large baskets full of fragments did you take up?” And they said, “Seven.” So He said to them, “How is it you do not understand?”

  • The disciples had just seen Jesus multiply the five loaves and 2 fishes, but yet they forgot. You’re never ready, it’s not about your preparation. God is with you.
  • There is no need for God to tell us the details, but He cares about every detail.
  • God doesn’t need me to be ready – I will never be. He just wants me to obey and follow Him (ask for His supernatural wisdom).
  • Insecurities happen because we compare our behind-the-scenes with everyone else’s highlight reel.

1. Cancel the audition! God CHOSE you!

Compared how some people may feel with those auditioning for the TV show “The Voice.” “Cancel the audition, you’ve already got the part. A lot of people spend their whole lives waiting on somebody to hit a button, turn around, and choose them,” he said. “A lot of believers spend their whole walk with God performing, trying out, feeling bad, waiting on God to hit a button and turn around and say now He loves you. God said before you were born ‘I chose you.’” Isn’t that enough?

  • He chose you before you were born.
  • You don’t need to impress God. You don’t need to try out, you just have to live out what God has already placed in you.
  • God gave you the part not because of anything you did; God chose you precisely because you’re awkward a.k.a uniquely awkward.
  • God’s got options, but He chose YOU.
  • Equip your spirit with the word of God.
  • “My Father says I am”
  • Live by what God says about you, about what you can do. His is the only opinion that matters.
  • When God is speaking, one word is more than enough. Have enough faith in your Father to go with one word.

2. Get ready on the way !

  • God doesn’t call you to “feel ready” or trying to be as ready as possible, He calls you to have faith and follow Him.
  • Trust that God will drive and get ready on the way. Just like husband and wife, sometimes the women will just never been ready until the car engine starts. As His bride, you just have to hop on to the car and get ready on the way. God will drive and you get ready on the way!
  • Blessings is God’s department, obedience is yours.
  • If you can hear God’s voice, you can stand in the face of your fear 
3. Stay behind the guide!
  • Psalm 23 – To have the Lord as my shepherd, I’ve to acknowledge that I’m a sheep
  • Psalm 48:14 – For this God is our God for ever and ever; he will be our guide even to the end. He does not want to give you guidance, He wants to be your Guide forever!
  • “I’m never going to audition for Your love again. I’m never going to audition for Your calling again. I receive Your love. I receive Your calling.”
“I’ve never been ready. I wasn’t ready when we started the church. I didn’t feel ready when the church started to grow, thousands of people were coming to Christ, but the church got bigger than the town I grew up in. I wasn’t ready for that.” said Steven Furtick

Taken from here

Diluar Aku, Kamu Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Kejadian 3: 4-6

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

Sejak awal, Allah menciptakan manusia serupa dengan gambaran-Nya dan Dia menciptakan mereka untuk hidup bergantung seluruhnya kepada-Nya. Yang memberikan nafas kehidupan kepada mereka adalah Allah sendiri, dan karena hembusan nafas Allah-lah mereka dapat hidup. Desain awal manusia adalah untuk hidup di dalam Allah dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya seterusnya.

Pada saat manusia dicobai iblis, manusia diperhadapkan kepada dua pilihan, yaitu untuk tetap percaya pada perkataan Allah atau memilih jalan di luar perkataan Allah. Pada akhirnya manusia tidak cukup percaya akan perkataan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Dalam hal ini, manusia memilih untuk mendapatpengertian dengan memakan pohon pengetahuan baik dan jahat. Dosa dimulai bukan ketika manusia itu memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, tetapi pada saat manusia merasa bisa mengatur dan mengerti segala sesuatu dengan pemikirannya sendiri dan memilih untuk tidak percaya sepenuhnya lagi kepada Allah. Ketika manusia merasa dapat mengatur segala sesuatunya sendiri dan hidup di dalam kemandiriannya, kekacauan mulai memasuki kehidupan manusia, dan keturunan-keturunan Adam dan Hawa adalah keturunan-keturunan yang dilahirkan dengan benih dosa, mempunyai kecenderungan untuk lepas dari Allah dan melawan Allah.

Dalam kisah Menara Babel di Kejadian 11:1-9, manusia membuat satu kesatuan dengan satu bahasa dan satu logat dan kemudian mereka berencana membuat menara yang puncaknya sampai ke langit. Namun, perbuatan mereka itu akhirnya dikacaubalaukan Tuhan. Saya dulu pernah berpikir, mengapa sistem kesatuan yang dibuat manusia ini pada akhirnya dikacaubalaukan oleh Tuhan? Apa yang salah dari kesatuan manusia ini? Pada akhirnya Tuhan membukakan kepada saya bahwa hal ini menunjukkan independensi atau kemandirian manusia dari Tuhan. Manusia membuat satu kota yang tidak terserak dengan kesatuannya sendiri, tetapi hal yang menyedihkan adalah, mereka ingin lepas dari Allah. Mereka ingin mengatur segala sesuatunya dengan kekuatan mereka sendiri dan Allah tidak senang dengan hal ini dan turun untuk mengacaubalaukan mereka.

Filipi 2:6-7

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Yesus adalah Allah sepenuhnya dan Dia adalah manusia sepenuhnya ketika hidup di dunia. Pada waktu Dia hidup di dunia, Dia tidak  menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi menjadi sama dengan manusia. Karena Yesus adalah manusia, Dia tidak bisa berjalan sendirian. Dia berjalan dengan Bapa-Nya dan Roh Kudus.

Yohanes 5:19

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.

Selama Yesus hidup di dunia, Dia tidak menganggap keallahannya sebagai milik yang dipertahankannya, namun Dia hidup sebagaimana manusia seharusnya hidup, yaitu bergantung sepenuhnya kepada Bapa-Nya dan hidup oleh kuasa Roh Kudus. Karena sebab inilah, Yesus baru memulai pelayanan-Nya setelah Roh Kudus turun ke atasnya pada saat pembaptisan oleh Yohanes. Dia, Yesus tidak bisa berjalan dengan kekuatannya sendiri, tetapi Dia hanya bisa berjalan dengan kekuatan Roh Kudus, Dia tidak memakai kekuatan keilahiannya. Selain itu, Yesus sering menghabiskan waktu-waktu untuk pergi ke tempat sunyi dan berdoa di sana. Saat berdoa itulah, Yesus berkomunikasi dengan Bapanya dan mendapatkan kekuatan untuk pelayanannya di dunia. Sebagaimana manusia, Yesus hidup bergantung sepenuhnya kepada Bapanya dan sangat membutuhkan nafas dari Bapanya dan kuasa Roh Kudus.

Saudara-saudara yang terkasih, sejak awal, Allah mendesain kita untuk hidup bergantung sepenuhnya di dalam Dia. Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah (Yohanes 15:4). Ketika kita merasa bisa melakukan segala sesuatu dengan kekuatan kita sendiri, kita lepas dari Allah, dan kekacauan mulai terjadi di dalam hidup kita. Ketika kita punya pemikiran sendiri di luar Firman Tuhan, pada saat itulah hal-hal yang buruk mulai terjadi. Di luar Allah, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Bapa adalah Bapa yang baik dan selalu baik, Ia merancangkan hal-hal yang luar biasa dan penuh damai sejahtera untuk anak-anak-Nya. Bukan hal yang membahayakan jika kita benar-benar mempercayakan seluruh kehidupan kita kepada-Nya. Kebanyakan kekacauan dan hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan kita disebabkan oleh pemikiran dan perbuatan kita sendiri yang mau hidup di luar Allah. Jika kita hidup di dalam Allah, segala sesuatunya akan menjadi sungguh amat baik. Kebenaran ini sangat sederhana, namun jika benar- benar diterapkan, dampaknya akan sangat luar biasa dalam hidup kita. Saya berdoa, biarlah dengan pertolongan Roh Kudus dan pengenalan akan Firman Tuhan, hidup kita terus menerus diubahkan dari hari ke hari.

Be blessed :)

Hubungan dengan Saudara Seiman di Dalam Kristus

Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib membelah tabir pemisah antara manusia dan Allah. Betapa Allah rindu akan pulihnya suatu hubungan. Allah adalah Kesatuan yang sempurna yang merupakan Kasih.

Matius 5:22-24

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Berdasarkan ayat di atas, hubungan lebih penting dari pelayanan yang kasat mata. Allah rindu setiap umatnya dipulihkan dalam hal hubungan. Alangkah menyedihkannya jika seseorang berkata bahwa ia mengasihi Tuhan tetapi ia membenci saudaranya (1 Yohanes 4:20)

Teladan Jemaat Mula-mula dalam Perjanjian Baru

Jemaat mula-mula merupakan teladan yang luar biasa mengenai kesatuan hati (Kisah Para Rasul 2:46-47). Mereka berkumpul setiap hari dan bersatu hati. Di ayat 27, setelah dijelaskan mengenai kesatuan, ada tertulis

“..Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Artinya Allah bekerja dengan leluasa di dalam kesatuan. Dengan kata lain, Allah akan lebih mempercayakan jiwa kepada kumpulan orang-orang percaya yang bersatu hati.

Dalam 1 Tesalonika 3, Paulus rindu untuk mengunjungi jemaat-jemaat Tesalonika. Paulus adalah rasul besar di dalam alkitab. Paulus memiliki hati untuk jemaatnya. Dalam suatu hubungan, penting untuk memiliki hati untuk saudara-saudara kita. Hati inilah yang membedakan orang-orang yang sungguh-sungguh peduli dengan yang tidak. Orang yang memiliki hati untuk sesamanya tidak akan cepat menyerah, tidak turun naik dalam mengasihi, dan sabar menanggung segala sesuatu.

Paulus berkata, “Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.” (1 Tesalonika 3:8). Paulus menyadari bahwa seorang kepala tidak bisa berbuat apa-apa tanpa tubuh. Kepala membutuhkan tubuh, begitu pun tubuh, tubuh juga membutuhkan kepala. Tidak ada yang bisa berjalan sendiri-sendiri di sini. Semuanya saling membutuhkan. Kesombonganlah yang membuat seseorang merasa kuat dan tidak butuh siapapun.

Kesatuan/kesepakatan

Kesatuan memiliki kekuatan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah kisah Menara Babel, dimana manusia dengan kekuatannya berusaha membuat satu bangsa dan satu bahasa (Kejadian 11). Sampai-sampai Tuhan harus turun tangan mengatasi ini, betapa dahsyatnya persatuan. Hal lain mengenai kesatuan dikemukakan Yesus di Matius 12:25-26

Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?

Kesatuan begitu dahsyat kekuatannya dan inilah bagian yang sering diserang di Gereja Tuhan. Adanya benih perpecahan, rasa saling tidak percaya, mencurigai satu sama lain, dan kepahitan membuat Gereja tidak maksimal dalam menjalankan panggilannya. Iblis tahu di celah mana dia menyerang anak-anak Tuhan. Untuk itu, kita perlu memandang penting kesatuan Tubuh Kristus dan waspada terhadap perpecahan. Kenakanlah Kristus sebagai pengikat kita bersama.

Kesatuan itu bekerja di dalam aliran. Maksudnya, kesatuan itu dihasilkan dari kasih yang terus menerus mengalir. Jika kita mengasihi seseorang dan berharap orang itu mengasihi kita kembali, itu artinya tidak mengalir. Lepaskanlah kasih itu, alirkan dengan murah dengan tidak mengharapkan imbalannya.

Hal-hal yang berhubungan dengan hubungan dengan sesama di dalam Kristus:

1. Keterbukaan (1 Yohanes 1:7, Yakobus 5:16)

Sifat Allah adalah terang dan di dalam terang tidak ada yang tersembunyi. Keterbukaan membuka jalan untuk pemulihan. Keterbukaan dapat menutupi celah-celah yang bisa dipakai iblis untuk menyerang kita. Allah ingin anak-anak-Nya hidup di dalam terang, jujur, tulus, apa adanya, dan tidak memakai topeng.

Dalam persekutuan Kristen sejati, kita tidak perlu berusaha menutup-nutupi kekurangan-kekurangan kita. Kita dapat bersikap jujur dan terbuka karena kita berada di antara orang-orang yang juga mengalami realita pengampunan Tuhan. Secara manusiawi, tidak mudah untuk hidup jujur dan saling terbuka. Hal ini disebabkan oleh kesombongan, iri hati, kuatir, curiga dan kebencian terhadap orang lain. Hanya Roh Kudus yang dapat menolong kita hidup untuk dalam terang – Bertumbuh dalam Kristus

Tentu saja, kita tidak terbuka ke semua orang, tetapi hanya kepada orang-orang yang memiliki akuntabilitas dan tanggungjawab atas hidup kita. Dengan keterbukaan, akan terbuka jalan untuk saling mendoakan dan menjagai satu sama lain.

2. Menasihati/menegur (Matius 18:15-20)

Menasihati/menegur sesama saudara diperlukan dalam proses pertumbuhan karena di dalam sebuah proses bersama pasti terdapat gesekan (Amsal 27:17). Oleh karena itu perlu menyelesaikan persoalan hubungan dengan saudara seiman dengan mengacu pada Firman Tuhan. Prinsip Firman Tuhan adalah menegur secara empat mata pertama kali. Ketika ada persoalan dalam hal hubungan, jangan langsung di “floor” kan di forum besar supaya orang yang lemah imannya tidak menjadi tambah lemah dan tidak terjadi distorsi cerita atau gosip di pelayanan. Selain itu, bereskanlah konflik sesegera mungkin (Efesus 4:26). Sebenarnya perselisihan antara anak Tuhan adalah hal yang tidak perlu. Hal ini menghabiskan banyak energi, pikiran, dan emosi. Segeralah bereskan dan buanglah beban yang merintangi.

Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati. (Amsal 13:18)

Jika kita ditegur, artinya kita dicintai. Seringkali seseorang merasa teguran itu adalah penghinaan baginya, sebetulnya tidak begitu. Respon kita jika menerima teguran seharusnya berterimakasih, tidak reaktif, dan menginginkan perbaikan diri. Jika memang ada klarifikasi, lakukanlah, dan mintalah maaf :) Jika kita ingin menegur seseorang, kita harus ingat bahwa dosanyalah yang kita benci, bukan orangnya. Artinya kasihi orangnya, tetapi benci dosanya, bukan benci orangnya. Berikanlah usulan/ solusi/ perbaikan dan jangan memakai kata-kata penghakiman, seperti, “Kamu selalu… kamu tidak pernah…”

3. Pengampunan (Matius 18:21-35)

Pengampunan bukanlah hal yang sulit jika dilakukan dengan kasih karunia. Kita akan lebih mudah mengampuni jika kita tahu kita juga diampuni banyak oleh Tuhan. Kasih tidak mengingat kesalahan orang lain. Mintalah kepada Allah supaya kita memiliki hati yang luas dan mudah “melepas”. Jika ada orang yang menyakiti kita, kita tidak menyimpan kesalahannya dalam hati kita, tetapi melepaskannya. Menyimpan akar pahit kepada siapapun akan merusak kehidupan kita dan menghambat pertumbuhan kita. Hal ini bisa diibaratkan seperti layang-layang yang terbang tinggi, tetapi layang-layang ini hanya bisa pergi sebatas panjang benangnya, tidak bisa lebih jauh lagi. Akar pahit dapat menghambat rencana Tuhan dalam hidup kita dan membuat kita tidak maksimal. Percayalah firman, lakukan, berantas akar pahit, dan ambillah keputusan untuk mengampuni orang yang bersalah pada kita.

Ada hal menarik dalam cerita penangkapan Yesus di taman Getsemani. Pada waktu Yesus akan ditangkap, Petrus dengan reaktif memotong telinga Malkhus dengan pedang, kemudian Yesus menyembuhkan telinga Malkhus. Cerita ini ditulis dalam keempat Injil, artinya ada sesuatu yang mau Tuhan katakan untuk kita. Sebagian besar orang mengira dia akan pulih dari sakit hatinya kalau orang yang menyakitinya minta maaf dan melakukan setimpal dengan apa yang dia harapkan. Akibatnya kita menjadi orang yang suka menuntut dan sukar mengampuni. Tuhan berkata, terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Artinya kita tidak bisa mengharapkan manusia yang menjadi penyembuh luka kita. Kalau manusia bisa menyembuhkan luka, Malkhus akan datang ke Petrus dan dia akan disembuhkan. Namun pada kenyataannya Petrus tidak bisa menyembuhkan Malkhus, tetapi Yesuslah yang menyembuhkannya. Segala luka hanya bisa disembuhkan oleh Yesus, manusia tidak bisa menyembuhkannya. Kesalahan kita adalah mengharapkan orang lain untuk menjadi penyembuh luka kita. Arahkahlah pengharapan dan kesembuhan kita pada Yesus. Ketika kita melihat Yesus, kita akan dapat mengampuni dan dipulihkan.

4. Penghakiman dan Tuntutan (Matius 7:1-5)

Apa yang kita lakukan ketika saudara kita jatuh? Atau misalnya pemimpin kita jatuh ke dalam dosa? Sebagian orang akan bersikap menghakimi dan memandang sinis orang tersebut. Apa yang Allah lakukan ketika melihat anak-anak-Nya jatuh?

Penghakiman seringkali menghinggapi orang-orang yang sudah lama ikut Tuhan atau memiliki banyak pengetahuan akan Firman. Yesus melarang penghakiman, sebab kita tidak punya hak untuk menghakimi. Penghakiman erat kaitannya dengan sikap menuntut. Ada seseorang yang selalu menuntut setiap orang. Orang-orang yang suka menuntut berkata, “Harusnya dia seperti itu, seperti ini, harusnya dia tahu itu” dan sebagainya. Penghakiman dan tuntutan membuka jalan untuk kepahitan. Sadarlah bahwa di hadapan Tuhan, kita semua sama, ditebus dengan darah yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah daripada yang lain. Allah menerima kita apa adanya, kita pun harus menerima orang lain apa adanya. Beranilah untuk melepaskan penuntutan, dan miliki kerelaan berkorban untuk saudara seiman.

Love bears up under anything and everything that comes, is ever ready to believe the best of every person, it hopes and fadeless under all circumstances, and it endures everything [without weakening] – 1 Corinthians 13:7 Amplified Bible

Kasih adalah pengikat persatuan. Kasih percaya yang terbaik di dalam diri setiap orang. Ayat di atas adalah kasih Allah kepada kita. Dia percaya yang terbaik dari setiap kita. Jika kita mengasihi seseorang, kita akan percaya yang terbaik dari dirinya sebagaimanapun dirinya pada masa sekarang.

Be blessed. All glory and honor belong to God :)

Gloria

Gloria in excelsis Deo, yang artinya “Glory to God in the highest” (keren banget artinya).

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2012, 2011 akan berakhir. Merayakan Natal sudah menjadi seperti kebiasaan setiap tahun. Saking terbiasanya, saya menganggap Natal itu biasa saja. Yang asyik hanyalah perubahan suasana dari pernak-pernik natal, kue-kue, dan lagu-lagu.

Jujur saya, saya lebih suka Paskah ketimbang Natal, karena beberapa alasan. Yang pertama, saya banyak menemui bahwa natal itu lebih berkaitan dengan hedonisme daripada Tuhan Yesus sendiri. Di banyak negara, natal identik dengan party, holiday, dan hedonisme. Banyak gereja juga yang menghabiskan duitnya untuk perayaan natal besar-besaran. Yang kedua, gereja saya tidak merayakan natal, karena setahu saya, natal tidak tercatat di Alkitab untuk dirayakan, tetapi untuk Paskah, Tuhan menyuruh bangsa Israel untuk merayakan Paskah.

Namun cerita ini belum berakhir.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar pernyataan dari gembala saya di pelayanan mahasiswa. Itu membuka wawasan saya tentang natal. Beliau berkata, “semangat natal adalah semangat misi”. Artinya tidak ada pengorbanan Yesus di kayu salib kalau Dia tidak lahir ke dunia. Kedatangan Yesus ke dunia saja merupakan kesukaan besar bagi seluruh dunia. Kedatangan orang-orang yang membawa kabar baik ke suatu tempat adalah suatu sukacita bagi tempat tersebut, kedatangannya saja lho! Kedatangan orang yang membawa Injil ke kampus-kampus adalah sukacita besar bagi kampus-kampus.

Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik! Roma 10:15

Jadi tidak ada Paskah kalau tidak ada Natal. Tidak ada kematian dan kebangkitan Yesus kalau tidak ada kelahiran Yesus.

 

Merry Joyous Christmas!