reaching

Lompatan Iman

Written by Alit Dewanto

Seorang atlet lompat galah dengan sungguh-sungguh melompat melewati rintangan yang ada di depannya. Perjuangannya tidaklah sia-sia karena dia berhasil melewati dan menunggu kesempatan berikutnya untuk melompat lebih tinggi, lebih tinggi, seakan-akan tidak pernah puas dengan lompatan yang ada saat ini. Kalau kaki bisa melompat, maka orang Kristen akan berbicara mengenai lompatan iman.

Spirit perintisan tidak bisa dipisahkan dengan apa yang disebut lompatan iman. Kita berada di dalam masa dimana Tuhan membawa kita untuk melayani hal-hal yang lebih besar dan luar biasa. Ada tenaga, waktu, pikiran, uang, semangat, perhatian yang harus dicurahkan dan diinvestasikan. Ada keputusan demi keputusan yang diambil berdasar kasih kepada Kristus. Lahir anak-anak rohani yang tertanam di berbagai wilayah dan pemimpin-pemimpin baru yang ditahbiskan.

Namun seringkali perintisan tidak lagi menggairahkan, pertambahan jiwa sangat sedikit, ada banyak tantangan dari lingkungan, pekerja yang mudah menyerah, dan anak-anak rohani yang tidak kunjung setia dan hanya sekedar hadir. Ditambah kekurangan finansial dan waktu pun disebut-sebut sebagai penghalang terbesar lainnya.

2 Korintus 4: 11-13 “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikialah maut juga giat di dalam kamu. Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”

Ada sesuatu yang berbeda ketika Paulus memberi diri untuk melayani Kristus. Mereka tanpa henti memberi hidupnya, mengalami bahaya mau sepanjang waktu, hidup seperti terombang-ambing kemana Tuhan hendak membawa mereka. Namun hidup mereka menjadi semakin kuat hari lepas hari. Secara fisik, mereka tidak mempunyai apa-apa, namun kekuatan mereka adalam IMAN. Iman adalah DASAR mereka berharap dan BUKTI pembelaan Tuhan yang sempurna (Ibr 11:1). Sehingga ditengah himpitan-himpitan yang ada, kita perlu terobos dengan IMAN, dengan IMAN, dengan IMAN.

 

Dalam hal finansial pun demikian

Ketika pelayanan ini berkembang, ada satu prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita yang harus menyesuaikan diri kita kepada Tuhan, bukan sebaliknya Tuhan yang menyesuaikan dengan kita. Diri kita sangat terbatas, dan kadang-kadang keterbatasan itulah yang membuat terbatasnya juga pekerjaan tangan Tuhan yang harusnya tidak terbatas.

Sangat erat kaitannya dengan masalah finansial. Hampir semua mahasiswa masih bergantung kepada orang tua dalam hal keuangan. Banyak yang jadi ciut hatinya dan tidak yakin bisa memberi untuk pelayanan. Saya pernah mengalami pergumulan seperti itu. Antara mau menabur dengan ketaatan atau mencukupkan diri dengan kebutuhan-kebutuhan. Suatu kali saya ingat betul, pelayanan Sion belum memiliki keuangan yang cukup mapan di awal-awal tahun 2011, dan kemudian kita mau mengadakan HC/ HW beberapa kali. Kebutuhan sangat banyak dan dibuka ladang taburan bagi yang rindu untuk menabur. Saat itu awal bulan dan saya ingat betul jumlah uang di rekening saya 900 ribu rupiah, dan itu untuk satu bulan penuh.

Saya menjadi penuh pertimbangan dalam menabur. Bagaimana dengan uang makan saya? Kan saya sudah kasih perpuluhan dan itu cukup? Bagaimana uang angkot, fotokopi buku, dsb? Namun di saat itu saya ingat betul, kebenaran Firman Tuhan yang benar adalah jangan sampai kita memberi remah-remah kepada Tuhan. Anjing kita kasih remah-remah, masakan Tuhan kita beri remah-remah juga. Dan saat itu saya dengar suara Tuhan, saya tabur 700 ribu dari rekening saya. Tertinggal 200rb di rekening saya untuk kehidupan selama satu bulan, ada damai sejahtera sejati.

 

Saya percaya lebih daripada saya berusaha, TUHAN jauh lebih berusaha untuk menggenapi janji-Nya. Tuhan yang akan gantikan uang tersebut karena saya tabur dengan sungguh-sungguh, Dia tidak akan membiarkan saya berhutang, dan saya benar-benar yakin hidup saya DIJAMIN oleh kekuatan Kristus. Di saat itu, pikiran saya mulai berusaha berpikir untuk menghemat makan menjadi dua kali sehari dan apapun yang bisa dihemat, namun seminggu kemudian saya diundang oleh pemberi beasiswa saya, kalau ada jatah THR bagi para penerima beasiswa dan saat itu juga uangnya cair dan diberikan. Saya sungguh terpesona sekali di masa muda saya, Tuhan menunjukkan bahwa Dia bedaulat atas keuangan saya. Yang saya perlukan hanyalah IMAN, IMAN, IMAN, dan IMAN. Ketika IMAN itu berbicara, segala sesuatu akan tunduk.

Waktu kali pertama mengadakan HC di depok, kita kekurangan dana 7 juta lebih. Saat itu saya ingat berdoa “Tuhan kalau Engkau berikan saya 7 juta bulan ini, saya akan langsung berikan untuk HC”. Dan tepat sekali saya berdoa, Tuhan jawab bulan itu 7 juta diberikan kepada saya sebagai bonus dari kantor dimana saya bekerja, dengan jumlah yang tepat.

Ada banyak godaan untuk tidak beriman, ada banyak godaan untuk kita tidak menabur namun Firman Tuhan kekal. Ketika mempersiapkan pernikahan bersama dengan isteri saya, kami memegang prinsip Tuhan yang pertama. Jadi begitu dapat gaji, yang pertama kami berikan ialah perpuluhan dan uang taburan, kemudian sisanya baru untuk kehidupan keluarga, penghidupan sehari-hari, dan tabungan pernikahan.

 

Sejak dini dan awal sekali…

Rekan-rekan sekalian, jika engkau saat ini merasa kurang uang untuk penghidupmu, tabur uangmu untuk melayani Tuhan. Jika engkau sangat berlebih uangmu, tabur lebih untuk uang. Kamu melihat dirimu bisa makan 3 kali sehari dengan sehat, namun dengan mata yang sama kamu membiarkan rumah Tuhan terbengkelai karena sedikit yang mengorbankan diri. Harusnya tidak demikian bukan? Hiduplah dengan sederhana dan cukupkanlah yang ada. Adik-adik yang masih muda tidaklah terlalu muda untuk melayani, memberi persembahan untuk rumah Tuhan, untuk menjangkau dan melahirkah keturunan-keturunan rohani.

Suatu kali, ketika saya sudah bekerja, saya mengalami pergumulan dalam hal keuangan. Saya tahu dengan persis bahwa uang yang tertinggal dalam rekening sudah tidak cukup untuk penghidupan saya. Saya sudah bekerja, tidak mungkin saya minta-minta sama orang tua saya. Meminjam pun segan. Dan pelayanan sedang membutuhkan banyak dana operasional. Saya terduduk dalam kamar saya dan merenung, apalagi saat itu saya sedang dalam masa-masa persiapan pernikahan. Mungkin itu adalah titik dimana saya bergumul hebat dalam perkara ini. Namun di saat seperti itu, ketika saya berdoa dan berada dalam hadirat Tuhan yang kudus, urapan-Nya begitu mengalir dan berkuasa. Di saat-saat itu, yang saya butuhkan adalah saya bertemu dengan Tuhan dan Firman-Nya dengan teguh menguatkan saya. Saya tersungkur sambil terus merenunginya.

Mazmur 23: 1 Tuhan adalah gembalaku, tidak akan kekurangan aku

Mazmur 23: 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

Mazmur 23: 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah

YA YA YA, Dia sungguh setia, teramat setia, dan sangat amat setia. Firman Nya cukup untuk menjadi pegangan bahwa kita TERJAMIN.

 

Sakit bersalin dan terus sakit bersalin.. 

Nah saya mengajak semua mengerjakan hal yang sama bahkan lebih. Tidak cukup satu dua orang yang panas namun yang lain suam-suam kuku. Tuhan ingin menggerakkan kita semua untuk menjadi satu tim yang kokoh, memiliki nilai dan prinsip yang kuat, dan mengerjakan kegerakan rohani ini dalam satu haluan.

Awal tahun ini selain sion depok dan cawang, dirintis juga sion bekasi, sion bintaro, sion grogol, dan juga sion semanggi. Banyak dana yang dikeluarkan, banyak tenaga dan pikiran dicurahkan untuk memuridkan. Saya dan isteri tetap berusaha untuk mengerjakan yang terbaik dengan apa yang sudah Tuhan percayakan. Namun tetap peliharalah rasa “SAYA TIDAK AKAN PERNAH PUAS” karena apa yang kita kerjakan belum SEBERAPA. Dibandingkan dengan Rasul Paulus, Petrus, dan lainnya, yang kita lakukan masihlah belum seberapa.

Siapa yang mau beriman? MELOMPATLAH!

KATAKAN BERSAMA-SAMA: Iman saya mau melompat sejauh yang Tuhan kehendaki. Saya mau melompat sampai batas-batas yang sudah tidak bisa dirasakan oleh tubuh saya sendiri. Dan sejauh itulah kemah saya dikembangkan, keturunan saya tinggal tetap, dan itulah akhir hidup saya.

 

Generasi perkasa dilahirkan dari angkatan ini,

Alit Dewanto

Advertisements