pregnancy

KISAH VBAC EFATA

agniya-efatasia-d

VBAC = Vaginal Birth After Caesarean

Pengalaman operasi Caesar pada kelahiran anak pertama adalah pengalaman yang sangat menguras emosi. Pada saat itu saya masih bekerja sebagai karyawan swasta dan hamil anak pertama. Sebulan sebelum HPL saya resign karena memang berencana mengurus anak nantinya kalau sudah lahir. Niat untuk melahirkan secara normal sudah tertanam di pikiran saya, sehingga pada minggu-minggu terakhir saya banyak melakukan gerakan-gerakan untuk memperlancar persalinan, seperti ngepel jongkok, senam hamil, dan berjalan. Sebenarnya pada kehamilan pertama, saya merasa banyak keluhan, seperti gampang capek, kaki tangan bengkak, dan masalah-masalah emosional lainnya.

HPL yang jatuh pada tanggal 19 Desember 2014 pun datang, tetapi tanda-tanda persalinan belum terasa. Kontraksi-kontraksi palsu sudah banyak terasa tetapi tidak ada kemajuan yang berarti. Singkat cerita, tanggal 29 Desember 2014, saya dan suami memutuskan ke dokter karena sudah 41 minggu lewat dan ketika itu ada sedikit lendir darah keluar. Ketika dicek di rumah sakit, sudah ada bukaan 3, tetapi ketika dicek tekanan darah, tekanan darah saya tinggi, yaitu 140/100. Wah selama ini saya ga ada riwayat darah tinggi, tapi kok tiba-tiba sekarang pas hamil ada darah tinggi. Setelah dicek, dokter memvonis untuk dilakukan persalinan secara SC karena beberapa komplikasi seperti pre-eklampsia, bukaan lambat maju (kemungkinan CPD), dan Hb di bawah normal. Awalnya saya dan suami tidak rela untuk operasi caesar karena kami sudah berusaha semaksimal kami untuk mengusahakan persalinan normal. Kami bilang ke dokternya untuk merundingkan dulu sampai hari Selasa besoknya. Tidak rela untuk operasi, kamipun menangis dan berdoa kepada Tuhan di kamar mandi waktu itu meminta mujizat-Nya terjadi. Kami berpikir mungkin tiba-tiba pembukaannya akan maju sebelum hari Selasa siang dan mungkin saya bisa melahirkan normal. We was expecting for a miracle…

 

Selasa pagi, 30 Desember 2014

Saya tidak bisa tidur semalaman. Entah karena tekanan darah tinggi atau karena kebanyakan jongkok-berdiri untuk bisa mempercepat persalinan normal. Kemudian tibalah waktunya cek pembukaan oleh bidan dan didapatlah pembukaan 4 ke 5. Kemajuan yang sedikit sekali dan saya tidak merasakan mulas sama sekali. Saya dan suami di samping saya pun tertegun dan terdiam. Dan saya pun menangis..

“Ma, Diel udah berusaha yang terbaik di dalam perut, tapi mungkin bukan jalannya dia lahir normal.” Satu statement dari suami saya yang membuat saya akhirnya sedikit ikhlas untuk operasi caesar.

Yesaya 55:8

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.

Saya tersentak. Ayat ini berbicara kepada saya beberapa bulan sebelumnya, tiba-tiba teringat lagi dalam pikiran saya. Okay, jadi Tuhan sudah berbicara, saya saja yang kurang peka, atau mungkin saya terlalu memaksakan kehendak saya?

Operasi caesar pun berjalan lancar. Putra pertama kami, Adiel Suryanagara Dewanto, lahir dengan sehat pada tanggal 30 Desember 2014 pukul 18.35. Pertama kali melihatnya ke dunia pada saat dia lahir dari sayatan perut saya dan menangis dengan kencang. Rasanya sangat senang sekali. Akhirnya anak laki-laki yang ditunggu-tunggu datang. Kemudian dia dibawa oleh bidan untuk melakukan IMD dan menyusui langsung. Karena ruangan operasi itu dingiiiin sekali, jadi Diel hanya boleh menyusu selama 10 menit. Saya menyusuinya sambil menggigil kedinginan. Kemudian saya dibawa ke ruang observasi.

 

Seminggu setelah pulang dari RS, Januari 2015

Dokter kandungan saya waktu itu mengecek luka jahitan caesar dan berkata lukanya sudah bagus. Saya harus mengkonsumsi cukup protein untuk penyembuhan luka. Satu pernyataan juga dari dokter yaitu jika ingin punya anak kedua, harus setelah dua tahun dari tanggal operasi caesar dulu baru boleh hamil lagi. Itu artinya, jika ingin melahirkan anak kedua dengan normal, jaraknya kelahirannya minimal 2 tahun 9 bulan, itu adalah jarak amannya.

 

Maret 2016

Saya positif hamil. Ga nyangka. Antara senang dan bingung. Ternyata sudah hamil kira-kira 6 – 8 minggu. Saya hitung HPL kira-kira akhir Oktober sampai awal November. Wah, Tuhan, ini belum 2 tahun lho. Diel aja sekarang masih 14 bulan. Ya ampun, apalah kata dokter nanti, ga ada yang mau bantuin lahiran normal kali ya, langsung vonis caesar, ckckck. Tetapi pada saat itu, saya merasa damai dengan kehamilan anak kedua ini. Ini adalah surprise dari Tuhan dan kami semestinya berterima kasih untuk anak ini.

Markus 7:34

Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya; “Efata!” artinya : Terbukalah!

Saya ingin menamai anak saya yang kedua dengan nama Efata. Saya berpikir Efata akan bisa membuka jalan lahirnya. Oleh sebab itu saya sudah punya keinginan, anak kedua akan diberi nama EFATA.

Perjalanan dimulai dari kunjungan ke dokter kandungan. Saya excited sekali, dan kami pergi ke RS dekat rumah tempat dulu Diel lahir. Dokter kandungan yang lagi praktek itu pria dan ketika saya menanyakan rencana lahiran, dia langsung bilang, “Iya bu, harus caesar soalnya belum 2 tahun.” Agak hancur sih hati saya (lebay), dan sempat sedikit menangis pada saat mengantri pembayaran.

Kemudian kami coba pindah dokter, ke dokter perempuan di RS yang sama, tetapi bukan dokter saya yang dulu. Beliau sih bilang, agak beresiko untuk lahiran normal karena jaraknya belum 2 tahun, tapi nanti kita akan lihat tebal leher rahimnya pada saat usia kehamilan 36 minggu. Kalau cukup, mungkin bisa diusahakan persalinan normal. Oiya, resiko persalinan VBAC adalah robek rahim atau ruptur uteri. Okay, saya pikir 36 minggu masih lamaa sekali. Jadi kami memutuskan untuk mencari dokter lain yang pernah menolong VBAC di bawah 2 tahun.

Singkat cerita, akhirnya kami menemukan dokter kandungan perempuan di RS lain yang menurut suatu forum yang saya baca di internet, pernah menolong VBAC dengan jarak kelahiran 17 bulan. Mulailah kami konsultasi ke dokter tersebut, sebut saja namanya Dokter N. Dokter ini orangnya cukup detil dan semua kemungkinan diperiksa oleh dia. Luka caesar saya sudah bagus waktu itu katanya. Kemudian saya menceritakan riwayat caesar saya dan rencana saya untuk VBAC, dan beliau berkata tidak apa-apa untuk VBAC karena harusnya sudah aman. Berdasarkan statement itu, kami memutuskan untuk kontrol rutin ke Dokter N saja. Selama kontrol kehamilan pun, hal-hal seperti jumlah Hb, gula darah, tekanan darah,dan notching pun dipantau untuk mencegah terulangnya pre-eklampsia. Dari USG, HPL jatuh pada tanggal 9 November 2016.

Selama kehamilan yang kedua ini, saya merasa lebih menikmati. Masa mual muntah hanya berlangsung sampai kira-kira minggu ke 12. Sambil mengurus Diel, saya menjalani masa-masa kehamilan ini. Mungkin di sini keuntungannya. Karena sambil mengurus anak balita, jadi mau ga mau saya akan banyak bergerak. Lari kesana-sini mengejar-ngejar Diel, memandikan dengan duduk jongkok, serta mengajaknya jalan-jalan keluar rumah. Bengkak di kaki dan tangan tidak saya alami sama sekali di kehamilan kedua ini, buktinya cincin kawin saya masih cukup dipakai sampai kepada hari lahiran, hehe. Bahkan di kehamilan kedua ini, saat hamil 7 bulan, saya bisa mengikuti les mengemudi dan pergi misi ke pulau Bangka. Saya juga mengikuti kelas senam hamil di RS. Disana diajarkan teknik bernapas dan mengejan dengan benar.

Saya pernah mendapat mimpi untuk lahiran anak kedua ini. Waktu itu saya berdoa sama Tuhan, Tuhan saya ingin mimpi yang menyenangkan. Ceritanya saya baru lahiran dan saya sedang memakaikan bandana kepada seorang bayi perempuan, tapi di mimpi itu saya lupa proses melahirkannya bagaimana. Kemudian saya tanya papa saya, dan beliau menjawab lahirannya normal. Bangun dari mimpi itu, saya merasa bahagia sekali rasanya, karena sepertinya Tuhan menjawab doa kecil saya.

Mimpi kedua, agak konyol menurut saya. Nggak tau juga kenapa saya bisa mimpi seperti ini. Jadi ceritanya saya lagi di ruang bersalin, tetapi bersama Diel. Saat itu mau melahirkan ceritanya, tetapi yang ngeden itu Diel, persis seperti dia mau pup. Kemudian entah darimana bayinya lahir dan besarnya sama dengan Diel. Hahaha. Mimpi yang aneh.

Mazmur 21:3

Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak.

Satu ayat yang saya dapatkan dari Tuhan bahwa Ia akan mengabulkan harapan saya. Entah kenapa saya merasa ayat ini untuk peneguhan bahwa saya bisa untuk melakukan VBAC. Saya merasa damai sekali dan pengharapan saya menjadi teguh.

Minggu 36 kehamilan, 12 Okt 2016

Pada saat kami cek ke dokter, ternyata dari USG terdapat 1 lilitan tali pusat.

Minggu 37 Kehamilan, 19 Okt 2016

Di minggu 37 akan dilakukan USG Vaginal untuk melihat ketebalan mulut rahim dan luka SC, dan menurut dokter N, saya masih bisa melakukan VBAC kalau liat ketebalan rahimnya. Dan lilitan tali pusat masih ada disana.

Minggu 38 Kehamilan, 26 Okt 2016

Saya belum merasakan kontraksi. Lilitan tali pusat masih ada. Perkiraan berat bayi sudah 3.1 kg. Dokter N pun memberikan pilihan, mau dijadwalkan untuk operasi caesar atau menunggu. Saya dengan mantap bilang untuk menunggu. Dokter bilang, kemungkinan belum ada kontraksi asli karena ada lilitan tali pusat itu, tapi entah kenapa saya tenang saja mendengarkan dia berbicara seperti itu. Ya tapi di situ, saya mulai sedikit ragu sih ini dokter niat ga ya menolong saya untuk VBAC, hoho..

29 Oktober 2016

Kira-kira pukul 12 atau 13 siang saya merasa tekanan ke bawah di perut saya makin besar. Perut saya jadi sering kontraksi tetapi saya belum merasa mulas, cuma kencang-kencang di perut saja. Saat itu saya lagi di rumah saudara di Cakung. Waktu itu saya sampai nanya RS atau bidan terdekat in case saya lahiran di sana. Frekuensi pipis jadi makin sering. Saya ga tau juga ya apa karena pengaruh hujan + cuaca dingin + AC makanya jadi pengen pipis terus, atau udah terjadi lightening (bayi jatuh). Tapi perut bagian atas sudah terasa agak kosong.

30 Oktober 2016

Kontraksi itu datang lagi sekitar jam 9 pagi. Yak, perut saya makin sering kontraksinya, tapi belum mulas2 amat, cuma kadang terasa ga nyaman juga kencang-kencang seperti itu.

31 Oktober 2016

Mama saya sudah standby di rumah di Depok untuk menemani lahiran dan mengurus Diel. Mulai siang kira-kira pukul 12, kontraksi makin terasa sering dan sudah disertai sedikit mulas. Okay, kemudian saya hitung kontraksinya pakai aplikasi di hp, dan ternyata sudah early stage. Rata-rata sudah 10 menit sekali. Di situ saya masih bisa ketawa-ketiwi sama mama saya dan bercanda sama Diel. Masih bisa masak tahu telor tek khas Surabaya dan makan dengan enak.

Mama bercanda, “Wah jangan2 bentar lagi lahiran kak haha.”

“Ya liat aja nanti ma haha.”

Mana waktu itu ada salah seorang kawan yang mengucapkan “Selamat ya jul udah lahiran,” karena melihat picture WA saya bersama foto Diel usia sebulan. Haha

“Jangan-jangan itu nubuatan…” kata Mama.

1 November 2016, kira-kira pukul 00.00

Saya tidak bisa tidur sekarang karena mulasnya makin terasa. Entah karena excited atau karena tegang. Saya tungguin aja mulasnya, masih 10 menit sekali, dan nyerinya mulai terasa, tapi saya masih bisa tahan. Saya pun membangunkan suami saya, dan dia pun ikut ga bisa tidur. Saya mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa.

Akhirnya pukul 03.30 pagi kami memutuskan untuk pergi ke RS. Saya dan suami pun pergi dan Diel masih tertidur. Saya minta tolong mama saya untuk menjaga Diel. Saya berjalan sudah agak terseok-seok karena mulas waktu itu, tetapi masih bisa berjalan dan mengarahkan parkir mobil, hehe.

Pukul 05.00

Saya masuk ke ruang bersalin RS dan kemudian dicek pembukaan. Sudah pembukaan 3 ternyata. Wah senang sekali rasanya sudah ada pembukaan. Kemudian tekanan darah saya dicek, dan uh oh ternyata tinggi lagi, 150/100. Wew ada apa lagi ini? Apakah karena tidak tidur kah? Bidan pun menyarankan supaya saya tidur kalau bisa tidur supaya tekanan darah bisa normal lagi. Memang sih ada riwayat tensi tinggi dari ayah saya, jadi mungkin tekanan darah tinggi karena ga tidur.

Kemudian darah dan urin saya dicek untuk melihat apakah ada pre-eklampsia lagi atau tidak. Ternyata kandungan protein di urin negatif. Puji Tuhan, bukan pre-eklampsia lagi.

CTG pun dilakukan dan kondisi bayi baik-baik saja.

Pukul 08.00 – 09.00

Sambil menunggu di ruang bersalin, saya mencoba untuk tidur, tetapi hanya bisa tidur-tidur ayam saja. Suami saya menemani di samping sambil menyetel lagu penyembahan dari youtube dan membacakan Mazmur kepada saya.

“…. Dan janganlah berharap kepada manusia yang akan mati…”

Kira-kira seperti itulah bunyinya. Ayat Mazmur yang dibacakan suami saya tiba-tiba berbicara di dalam hati saya, tepatnya di Maz 146:3. Apa maksudnya Tuhan? Apakah yang akan saya hadapi nanti?

Tiba-tiba ada semacam benturan di dalam perut saya. Tidak lama setelah itu, saya merasa ada rembesan air keluar. Wah sepertinya pecah ketuban nih.. Saya menekan bel untuk memanggil bidan, dan setelah dicek ternyata memang air ketuban beserta lendir darah yang keluar. Kemudian pembukaan dicek lagi, masih pembukaan 3 ke 4. Oke, saya jujur gatau harus senang atau panik. Dari cerita-cerita yang saya tahu sih kalau sudah pecah ketuban, artinya sebentar lagi bayi harus segera dilahirkan, ga bisa lama-lama.

Sebenarnya saya inginnya jalan-jalan supaya mempercepat proses persalinan, tetapi karena ketuban sudah pecah, saya dilarang terlalu banyak gerak, takut tambah banyak air ketubannya keluar, kata bidannya seperti itu. Mulai saat ini, bidan yang bertugas adalah Bidan J. Akhirnya saya lanjut tiduran, sambil menunggu. Suami saya tetap membacakan Mazmur. Saya juga tidak tahu menunggu apa, yang jelas sih menunggu Dokter N datang. Tetapi saya harus menyiapkan tenaga untuk menunggu sesuatu yang lain.

Pukul 10.00 (ini jam terakhir yang saya ingat sebelum persalinan)

“Wah tensinya kok naik lagi..”

Dokter N pun datang sambil tersenyum. Dia melakukan USG dan kondisi bayi baik-baik. Air ketuban masih cukup dan detak jantung bayi ok. Pembukaan udah 4, bagus deh udah ada kemajuan. Kemudian dia menyampaikan hasil lab dari darah saya. Memang tidak terjadi pre-eklampsia berulang, tetapi ternyata kandungan leukosit dalam darah saya tinggi, dan kandungan CRP (C Reactive Protein) juga tinggi. Kemungkinan ada infeksi dan kemungkinan hal ini jugalah yang menyebabkan tekanan darah saya tinggi.

Dokter N adalah orang yang lembut dan menjelaskan semuanya dengan detail.

“Jadi Bu, karena kondisinya seperti ini, ibu kan ada riwayat caesar dan kami ga bisa memajukan proses persalinan dengan induksi, karena ada resiko robek rahim kalau sebelumnya pernah caesar. Jadi opsi yang bisa saya lakukan adalah melakukan sectio caesaria untuk melahirkan bayinya.”

“Iya ini juga mulesnya kayak tiba-tiba hilang ya bu?” Bidan J menimpali.

Kami cuma bisa diam.

“Ga bisa menunggu ini dok?”

“Hmm sebenernya gini sih bu, jangan sampai terjadi apa-apa dulu baru diambil tindakan. Ini ada kemungkinan infeksi bayi, jadi sebisa mungkin bayinya harus cepat dilahirkan.”

Wah apa lagi ini? Ada ya istilah infeksi bayi? Masa harus caesar lagi, Tuhan?

Kemudian karena belum ada keputusan dari kami, dokter N pergi. Saya dan suami bertatapan. Sepertinya hampir pupus harapan saya untuk melahirkan Efata dengan persalinan normal.

“Gimana ma? Kalau dari hati mama sendiri bagaimana? Kalau keyakinan mama sendiri gimana?” tanya suami saya.

….

“Tuhan, kalau aku caesar lagi kali ini gimana Tuhan?” tanya saya dalam hati.

Ga ada jawaban. Sepi. Senyap. Tuhan gimana ini???

Akhirnya saya memberanikan diri bilang, “Yaudah pa, kita tetep tunggu aja ya, kita tetep selesaikan ini sampai akhir.”

Sambil mengelus perut, saya bilang, “Ata, ayo kita selesaikan sama-sama sampai akhir ya Nak”

Dokter N datang lagi menanyakan keputusan.

“Dok ini beneran ga bisa nunggu ya dok?”

“Ya mau ditunggu sampai gimana bu? Yaudah ya bu ini sedang kami siapkan peralatan dan kamar operasinya. Jadi sectio caesaria itu bla bla blaa……..”

Saya udah ga denger lagi. Saya udah tahu caesar dan mengalaminya. Sementara itu, sakit di perut saya makin kuat.

“Dok sini dok, ada yang mau lahiran…!!!” Suara dari bilik sebelah saya. Dokter N akhirnya pergi membantu ibu yang mau lahiran di sebelah saya. Tiba- tiba perut saya sakiit banget. Semua bidan dan tenaga medis pergi meninggalkan kami dan membantu proses lahiran di sebelah saya. Heboh sekali.

Saya cuma bisa menarik tiang infus menahan sakit. Oh Tuhan, kok jadi sakit banget yaaa…

Selesai ibu sebelah lahiran, kemudian ada suster S yang mendatangi kami. Saat itu mulas sudah agak tak tertahankan, setiap mulas datang, saya pasti menarik tiang infus kuat-kuat dan meremas tangan suami saya kuat-kuat.

“Pak gimana jadi mau dilakukan operasi atau tidak?”

Suami saya diam, “Sebenernya masih mau dirundingkan dulu sih.”

“Oh yaudah, kalau gitu, dokter N ada tindakan di RS lain, harusnya ibu dijadwalkan jam 12, gimana bu?”

Saya terdiam.

“Yaudah ke RS lain dulu aja mbak” saya bilang.

“Oke kalau gitu, saya kasih surat penolakan operasi caesar ya pak, kalau ada apa-apa terjadi, kami sebagai pihak RS gamau tanggung jawab, itu tanggung jawab keluarga dan pasien.” Suster S bilang dengan agak ketus. Hmmm…

“Oke oke tandatangan aja…” saya bilang, “tapi tapi bayi saya masi dipantau detak jantungnya kan? Masi bisa di CTG kan?”

Di situ saya mulai panik. Mulas di perut makin intens dan kuat. Tuhan, kenapa ini? Banyak tekanan sekali. Sambil suami tandatangan, saya mulas lagi menarik tiang infus.

“Pa yaudah kita kasih deadline aja, kalau sampai jam 13.00 belum lahiran, yaudah pa aku operasi aja.” Saya berkata pada suami dengan memelas dan agak hopeless.

Kemudian kami menunggu. Mulas pun datang lagi. Kali ini sakit sekali.

Tiba-tiba Bidan J datang dan mengecek pembukaan. “Oh udah 5 bu…” Okay pembukaan 5 ternyata. Suster S pun datang dan bilang, “iya bu kalau udah 5 atas udah sakit banget.” Oke oke saya ngerti.

Kemudian alat CTG dipasang lagi. Jujur saat itu saya merasa kurang gerakan dari Ata. Sambil mulas dan harap2 cemas saya berharap hasil CTG bagus.

Perut saya tiba-tiba sakit lagi. Suster S yang memasang karet di perut saya. “Mbak mbak ini kekencengan ga ya?”

“Ini karet bu, itu sakitnya sakit mulas.” Suster S menjawab dengan ketus. Duh ya opo, orang mau lahiran ini kok galak-galak amat sih.

Puji Tuhan, detak jantung bayi masih oke.

Mulas makin heboh. Setiap mulas sekarang sudah mulai ada sensasi ngeden. Tapi saya ingat di senam hamil, kalau belum pembukaan 10, ga boleh ngeden dulu, tarik nafas panjang, buang nafas. Wah saya ga bisa nafas panjang2, suakit banget. Jadi saya nafas hah huh hah huh udah kayak serigala kelaparan. Suami sayalah yang melihat dengan mata kepalanya sendiri semua kesakitan dan keanehan saya waktu mulas2 itu. Beberapa kali saya failed, kelepasan buat ngeden. Kalau ga lagi nafas, saya pasti teriak atau kelepasan ngeden. Tapi suami saya terus bilang, “Tarik nafas ma, Ata butuh oksigen ma..”

“Gimana kalau tiba-tiba kamu udah capek mules2 gini, ujung2nya harus operasi? Di mana pertolongan Tuhan?” Tiba-tiba datang intimidasi. Saya merasa saat itu udah berada dalam lembah yang gelap. “Iya, dimana ya Tuhan?”

…..

“Udah 8 ya bu..” Bidan J mengecek pembukaan.

Tiba-tiba harapan saya timbul. Saya jadi semangat lagi.

“Ayo ma, tinggal dua lagi ma..” Saya mengangguk.

“Minum pa minum…” Saya minum air ketika lagi ga mules.

Kemudian rasa sakitnya datang lagi. Ibaratnya sakitnya seperti sebuah gunung, makin lama makin sakit sampai ke puncaknya terus mereda lagi. Kamu tau saatnya ketika akan mencapai puncak, jadi kamu mempersiapkan segala sesuatu sebelum puncak itu datang. Saya pun menarik tiang infus. Earrrgghhh…. Jadilah saya dan suami berebutan tiang infus.

“Oke bu udah 9 ya….” Wah cepat juga..

Bidan J mulai menemani kami sejak waktu itu.

“Ibu ga lagi mules ini ya sekarang? Kita belajar ngedennya ya bu..”

What? Masih sempat2nya…

“Saya udah pernah belajar di senam hamil mbak.”

“Iya gapapa kita latihan lagi ya.. Wah ini cepet berkat doa ibunya ya..”

Saat lagi ga mules saya belajar ngeden. Jadi posisi ngangkang, tangan menjepit ujung paha.

“Coba ibu ngeden. Ngedennya di perut ya bu. Matanya ngeliat ke perut, jangan ditutup matanya.”

“Kalau capek, nafas hah-huh-hah-huh, dari mulut ya bu”

Jadilah kami latihan ngeden.

Lalu tirai disibakkan. Dokter N datang sambil tersenyum, “Wah ternyata cepet ya majunya. Yaudah kita siap-siap buat lahiran ya…”

Kemudian beberapa tetes obat induksi ditambahkan ke infus saya untuk mempercepat bukaan.

Suster S dan Bidan J pun sibuk mempersiapkan peralatan untuk lahiran. Saya pun mengambil posisi siap-siap untuk ngeden.

“Bu, ini saya robek ya…” (episiotomy)

“Iya iya dok!” Senang sekali rasanya karena sebentar waktunya untuk ngeden. Saya dari tadi udah ga tahan pengen ngeden banget.

“Ya udah bukaan lengkap ya…”

“Ini udah boleh ngeden belum?” saya bertanya dengan nada tinggi.

“Sebentar.. sebentar bu! Yak, kalau mulesnya dateng, ngeden ya bu, kayak BAB keras bu!”

Oke saya pun mengumpulkan segenap tenaga. Kemudian saya pun naik gunung (mulai sakit kontraksi) dan ngedeeeen…

“Bu matanya jangan ditutup, liat perutnya bu…”

Belum keluar, saya pun mengambil nafas seperti anjing, huh-hah-huh-hah.

Sekali lagi ngeden. Di otak saya cuma ada pikiran, “Anak ini HARUS keluar.. HARUS keluar…!”

Saya ngeden lebih keras lagi dan akhirnya EFATA… Lahirlah putri kecil kami…

“EFATA… Puji Tuhan… Terima kasih Tuhan!” Saya terharu sekali, akhirnya Efata kecil keluar dengan selamat.

Menurut cerita suami saya, ketika keluar, lilitan tali pusatnya masih ada. Kemudian Dokter N melepaskan lilitannya dan membawa Ata untuk dibersihkan.

“Bu, ini saya mau lahirkan ari-arinya ya Bu..” Kemudian ada lagi sensasi ngeden tapi yang keluar sepertinya lebih kecil dari yang tadi. Haleluya, ari-arinya sudah keluar juga.

Singkat cerita, Ata pun ditimbang, ternyata beratnya 2,9 kg dengan panjang 47 cm. Ata lahir dengan sehat dan normal pada pukul 12.20. Kemudian dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), Ata diletakkan di dada saya untuk skin to skin contact. Aduh anak ini imut banget, batin saya.

Perjuangan belum selesai. Karena bagian perineum dirobek, saya harus menjalani penjahitan perineum yang ternyata dibiusnya cuma sebagian aja. Untung ada Ata lagi nemplok di dada saya, jadi sakit sakit waktu dijahit bisa agak teralihkan. Sakitnya ya kayak ditusuk jarum aja sih, yah bayangin aja kayak dijahit tapi kulitnya ga dikasih bius. Untung cuma sebentar dijahitnya.

Bagi saya pribadi, cerita VBAC Ata ini bukanlah soal berhasil melahirkan secara normal. Banyak wanita sepertinya merasa lebih berharga ketika melahirkan secara alami, padahal sebenarnya tidak begitu juga. Bagi saya yang penting dari cerita ini adalah bagaimana janji-Nya digenapi, bagaimana Tuhan tidak pernah bohong atas janji-Nya, sekalipun manusia dan keadaan berkata sebaliknya. Kalau dipikir-pikir, siapa gue berani ngelawan dokter, berani tanda tangan surat penolakan operasi, gimana kalau ada apa-apa sama Ata? Kan kita ga bisa melihat dia di dalam perut keadaannya gimana. Saya merasa ketika saya berdoa tanya Tuhan untuk operasi aja, Tuhan seperti diam, seolah-olah Dia bilang, “Kan aku udah bilang, Aku sudah janji, masa kamu ga percaya sama Aku? Aku telah berikan apa yang menjadi keinginan hatimu. Kamu ingin melahirkan normal? Yes sudah Aku berikan!” Wow luar biasa.

Special thanks to my husband, yang suportif menemani dari hamil sampai lahiran sampai mengurus bayi. Jadi ingat, waktu ketuban udah pecah dan saya ga boleh lagi ke WC, suami saya yang membantu saya untuk pipis di pee spot. Suami saya yang sibuk wara-wiri kesana-kemari untuk mengurus ini itu. Dia yang sabar mendengar semua keluhan saya. Dia yang mendampingi, mengambilkan makanan minuman, memberi semangat, dan dia yang membacakan Mazmur waktu menikmati mulas-mulas yang semakin meningkat. Dia yang melihat proses keluarnya Ata dari rahim saya. Karena mulasnya tiba-tiba, dan ga ada keluarga lain saat itu, cuma saya berdua sama suami saya. Mama saya di rumah menjaga Diel. What a romantic moment!

Ketika Tuhan mengingatkan untuk jangan mengandalkan manusia, ternyata benar. Dokter N yang selama ini saya kira akan membantu persalinan normal justru akhir-akhirnya memvonis caesar. Saya ga nyalahin dokternya sih, mungkin memang beresiko untuk lahir normal. Cuma in the end, saya ga punya lagi orang atau manusia untuk diandalkan. Sebenarnya di tanggal 1 November itu, saya sudah janjian konsultasi dengan salah satu bidan gentle birth. Saya sudah bilang akan datang sekitar jam 10 pagi, tetapi gagal karena ternyata sudah lahiran, hehehe. Kok sepertinya Tuhan menghalangi saya untuk bertemu, seolah –olah Dia mau menyakinkan saya bahwa janji-Nya saja sudah lebih dari cukup. Dan itu semua terbukti terjadi.

Agniya Efatasia Dewanto, itulah nama putri kecil kami. Agni artinya api, sedangkan Efata artinya “terbukalah”. Ata lahir di minggu 38 kehamilan saya, tepatnya 39 minggu kurang 1 hari. Hal ini pun sebenarnya pernah saya minta sama Tuhan. “Tuhan kalau bisa lahirannya sebelum 40 minggu ya..” Karena kalau sudah di atas 40 minggu, bayinya akan tambah besar, kemungkinan caesar berulang juga akan semakin besar. Dan pas sekali tanggal 1 November, di AWAL bulan, Tuhan kasih Ata lahir ke dunia.

Segala pujian hanya bagi Tuhan!

Advertisements