passion

Sampai ke Level Bangsa-bangsa

Apa kemiripan Yusuf, Daniel, Musa, Paulus, Gideon, Daud, Salomo, Yefta, Yunus pada waktu Tuhan memanggil mereka semua? Beberapa waktu ini, Tuhan bukakan satu pewahyuan bahwa anak-anak-Nya akan dipakai besar dan luar biasa. Ini bukan hal main-main. Pada waktu Allah memanggil orang-orang kenamaan-Nya, Dia tidak pernah memakai orang-orang tersebut untuk mendampaki segelintir orang saja, tetapi Tuhan memakainya sampai ke level bangsa-bangsa.

Sebagai contoh, Yusuf adalah anak yang dipakai Tuhan menjadi orang kenamaan di Mesir (Kejadian 41:37-57). Allah membawa Yusuf sampai ke level bangsa-bangsa. Pada saat itu, kelaparan terjadi di seluruh muka bumi.

Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi. Kejadian 41:56-57

Pada saat itu seluruh mata melihat ke Mesir dan orang-orang dari seluruh bumi membeli gandum di Mesir, termasuk juga saudara-saudara Yusuf. Yusuf dipakai untuk memberkati bangsa-bangsa dan nama Tuhan dimahsyurkan lewat hidup Yusuf.

Akan ada banyak cerita lagi jika kita membahas Daniel, pejabat yang pada akhirnya disegani oleh rajanya karena kesetiaannya pada Allah. Kesetiaannya berbuahkan berkat bagi bangsa-bangsa dan nama Tuhan menjadi dikenal di bangsa-bangsa.

Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: “Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa.” Daniel 6:26-28

Agaknya notes ini akan menjadi panjang kalau kita membahas lagi tentang Paulus, Musa, Gideon, Yefta, Yunus, dan tokoh-tokoh lainnya. Pola Tuhan tidak berubah di jaman sekarang ini. Dia tidak pernah memanggil kita untuk maksud yang kecil dan murahan. Dia akan akan memakai kita sampai kepada level bangsa-bangsa. Bukan segelintir orang lagi yang akan kita dampaki, tetapi sampai ke level bangsa-bangsa. Allah tidak pernah menciptakan kita dengan remeh. Dia berkehendak, bertujuan, dan tidak asal-asalan dalam merancang kehidupan kita.

Di akhir zaman ini, Allah sedang mempersiapkan pahlawan-pahlawan-Nya. Dia sedang membentuk suatu generasi yang mengasihi-Nya, yang mencintai apa yang Dia cintai, dan yang membenci apa yang Dia benci. Saat ini tangan-Nya sedang bekerja dengan kuat untuk membentuk setiap anak-anak-Nya menjadi prajurit-prajurit di garis depan yang akan memberkati sampai ke bangsa-bangsa. Visi Sion berbicara mengenai menjadi berkat sampai ke bangsa-bangsa. Panggilan Tuhan untuk hidup anak-anak-Nya besar dan tidak ternilai. Oleh sebab itu, ada beberapa poin penting dalam perjalanan kita ini.

1. Jangan anggap hidup kita kecil dan murah

 Terlalu banyak anak-anak Tuhan di jaman sekarang ini yang melihat hidupnya kecil dan tidak berarti, seolah-olah dirinya sedang menghadapi suatu raksasa yang tidak terkalahkan. Hai anak muda, ingatlah akan Daud yang menang melawan Goliat! Daud tidak berfokus pada kecil dan tertolaknya hidupnya, tetapi dia berharap kepada Allah yang besar. Daud mengerti bahwa Allah sudah menetapkan suatu tujuan ilahi dalam hidupnya selagi dia masih bakal anak (Mazmur 139:16). Daud tidak menerima hal-hal yang kecil, tetapi menerima yang luar biasa dari Tuhan. Tokoh lain yang mengalahkan raksasanya adalah Gideon. Gideon adalah orang yang rendah diri yang pada akhirnya dipakai Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari orang Midian. Hidup kita ini direncanakan dengan masak-masak oleh Tuhan. Dia memberikan rencana yang besar dan luar biasa untuk hidup kita.

Di lain sisi, orang-orang yang melihat hidupnya murah akan lebih banyak bermain-main dalam hidupnya. Cara pandang kita terhadap hidup kita menentukan keputusan-keputusan yang kita ambil di dalam hidup kita. Jika kita memandang kehidupan kita berharga dan bermakna, kita tidak akan sembarangan dalam hidup kita, tidak main tubruk sana-sini, dan melibatkan Tuhan di dalam setiap keputusan yang akan kita ambil. Ingatlah bahwa panggilan Tuhan buat hidup kita adalah sampai ke bangsa-bangsa dan Allah memandang kehidupan kita begitu berharga.

2.  Setia di dalam proses pembentukan

Untuk mencapai panggilan Allah sampai ke bangsa-bangsa, Allah berkepentingan untuk mempersiapkan anak-anak-Nya. Tangan Allah yang kuat membentuk dan memproses kita sampai kepada kemuliaan yang tertinggi. Ada pembentukan yang luar biasa pada Yusuf, Musa, Paulus, dll. Setiap orang memiliki takarannya sendiri. Namun, semakin orang tersebut diangkat tinggi oleh Tuhan, pembentukannya akan semakin luar biasa juga. Ada tahap-tahap yang akan Tuhan berikan ke dalam hidup kita jika kita ingin melihat kemuliaan-Nya dinyatakan lebih lagi. Semakin tinggi suatu pohon, angin yang menerpanya akan semakin kencang. Begitu juga anak Tuhan. Semakin kita dibawa tinggi, akan ada banyak goncangan yang terjadiJadi bersyukurlah ketika kita dibentuk, karena kita akan melihat kemuliaan Tuhan yang lebih lagi. Setia di dalam proses pembentukan Tuhan, karena kita akan melihat bangsa-bangsa dilahirkan.

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yesaya 40:31)

3. Punya hati yang mau diajar

Tidak bisa dipungkiri kalau kita ini manusia yang masih hidup di dalam daging. Ada kalanya kita salah ambil keputusan, terjebak dalam kedagingan, dan melenceng dalam hidup.

Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi.” (Roma 3:3-4)

Ini semua adalah inisiatifnya Tuhan, bukan manusia. Bukan karena kita baik, setia, dan taat kita bisa berhasil, tetapi karena kesetiaannya Tuhan. Hati dan pikiran kita bisa salah (Yeremia 17:9-10), tetapiAllah berkuasa mengarahkan dan membawa kita kembali kepada rencana-Nya. Tetapi, apa yang menjadi respon kita pada waktu Tuhan mengarahkan kita? Penting sekali untuk punya hati lembut yang mau diajar dan diarahkan. Waktu kita mau salah langkah, kita dengan cepat dapat menangkap suara Roh Kudus dan tidak jadi mengambil langkah yang salah. Samuel, seorang nabi yang besar dan dihormati di Israel pada waktu itu, pernah hampir salah mengurapi orang untuk menjadi raja (1 Samuel 16:1-13), tetapi Tuhan mengarahkan Samuel untuk mengurapi orang yang tepat.

Saya percaya kita sama-sama bergairah untuk dipakai Tuhan sampai ke bangsa-bangsa. Allah tidak pernah main-main ketika memanggil kita masuk ke dalam rencana-Nya. Warisan Sion adalah bangsa-bangsa dan itu pun menjadi warisan kita dan warisan keturunan-keturunan rohani kita.

Advertisements

Gloria

Gloria in excelsis Deo, yang artinya “Glory to God in the highest” (keren banget artinya).

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2012, 2011 akan berakhir. Merayakan Natal sudah menjadi seperti kebiasaan setiap tahun. Saking terbiasanya, saya menganggap Natal itu biasa saja. Yang asyik hanyalah perubahan suasana dari pernak-pernik natal, kue-kue, dan lagu-lagu.

Jujur saya, saya lebih suka Paskah ketimbang Natal, karena beberapa alasan. Yang pertama, saya banyak menemui bahwa natal itu lebih berkaitan dengan hedonisme daripada Tuhan Yesus sendiri. Di banyak negara, natal identik dengan party, holiday, dan hedonisme. Banyak gereja juga yang menghabiskan duitnya untuk perayaan natal besar-besaran. Yang kedua, gereja saya tidak merayakan natal, karena setahu saya, natal tidak tercatat di Alkitab untuk dirayakan, tetapi untuk Paskah, Tuhan menyuruh bangsa Israel untuk merayakan Paskah.

Namun cerita ini belum berakhir.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar pernyataan dari gembala saya di pelayanan mahasiswa. Itu membuka wawasan saya tentang natal. Beliau berkata, “semangat natal adalah semangat misi”. Artinya tidak ada pengorbanan Yesus di kayu salib kalau Dia tidak lahir ke dunia. Kedatangan Yesus ke dunia saja merupakan kesukaan besar bagi seluruh dunia. Kedatangan orang-orang yang membawa kabar baik ke suatu tempat adalah suatu sukacita bagi tempat tersebut, kedatangannya saja lho! Kedatangan orang yang membawa Injil ke kampus-kampus adalah sukacita besar bagi kampus-kampus.

Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik! Roma 10:15

Jadi tidak ada Paskah kalau tidak ada Natal. Tidak ada kematian dan kebangkitan Yesus kalau tidak ada kelahiran Yesus.

 

Merry Joyous Christmas!

smile

Today. I saw your smile.
Your early smile.
I was happy, but it’s not enough.

I saw it on you. Your smile.
You’re beautiful.
Like an angel.

But, it’s not enough.
I wish I can see your smile.
With joy.
From heaven. From Him.
I know you are so loved and blessed.
I will not give up.
I will ask Father for you.
Pray with agony.
To see your very smile.
:)


tentang mereka

mereka adalah karunia.
mereka sangat berharga.
mereka tidak ditolak, tetapi sangat dikasihi.
mereka tidak diabaikan, tetapi dipedulikan.
walaupun kadang mereka tidak mengetahuinya.

aku sayang mereka.
dunia tidak akan mengerti artinya mereka bagiku.
karena mereka bukan dari dunia.
kalau mereka terusik, aku pun terusik.
mereka layak diperjuangkan.
mereka layak ditangisi.

walau kadang mereka menolak,
atau tidak peduli sama sekali,
itu tidak akan mengubahku.
aku tetap sayang mereka.

Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

menghargai kerinduan

Pernah ga sih ngerasain yang namanya semangat melayani Tuhan, rajin sate en baca alkitab di suatu minggu, trus di minggu berikutnya ngerasa malesss banget sama yang namanya doa, baca alkitab, sama pelayanan, pokoknya yang berhubungan dengan hal yang “holy”?

Saya pernah mengalaminya. Rasanya seperti kehilangan rasa haus dan lapar.

Ada saat-saat di mana kita semangat banget, trus kemudian ngga berapa lama, kita jadi bosen dan merasa “enggan”. Kalo menurut saya ini alasan utama hal ini terjadi bukan gara-gara hal-hal yang kita lakukan sehari-hari, seperti studi, pelayanan, main, nonton, facebook-an dll. Ada yang beranggapan kalo kita berada dalam situasi “males” seperti ini, itu gara-gara kita sibuk studi, asik main internet atau nonton. Ada juga yang ngerasa kita jadi “males” karena sibuk pelayanan sana-sini. Tapi, hal- hal seperti itu bisa juga jadi sebabnya, tapi bukan yang utama.

Hmm, tapi saya baru sadar belakangan ini, sebenarnya bukan hal-hal seperti itu yang menjadi alasan utama kita ngerasa “tawar” atau “enggan”. Hal itu disebabkan hilangnya rasa haus dan lapar akan Tuhan. Kita kehilangan kerinduan akan Tuhan. Seolah-olah doa dan baca firman adalah kewajiban, seperti ikut upacara bendera. Saya baru sadar, sesibuknya kita atau seberapa senangnya kita sama sesuatu, kalo hati kita rindu dan haus sama Tuhan, kita pasti ninggalin semuanya itu untuk sekedar duduk diam di bawah kaki Tuhan dan ngobrol simpel dengan Dia. Ini benar-benar bukan soal apa yang ada di sekeliling kita atau apa yang terjadi sama kita, tapi masalah kehausan dan kerinduan.

Pertanyaannya, kenapa sih Tuhan ijinin kita mengalami hal itu?

Karena Dia ngga ingin anak-Nya jadi sombong dan mengandalkan kekuatannya sendiri, walaupun mungkin alasannya terlihat rohany (rohani dan holy :p). Tuhan ingin melalui semua yang terjadi dalam hidup kita, kita melihat Tuhannya yang bekerja, bukan kita sendiri. Berapa banyak dan berapa sering dari kita yang pake kekuatan sendiri kalo berdoa? Istilahnya “berusaha” untuk dapatkan hadirat Tuhan. Padahal itu semua kasih karunia lho. Apa kita lupa sebenarnya kita ngga layak masuk hadirat-Nya, tapi kita dilayakkan dengan darah Anak Domba? Karena penebusan Yesuslah, kita bisa memiliki hubungan yang dekat dengan Bapa. Apakah itu masih berlaku bagi kita waktu kita datang ke hadapan-Nya dalam doa?

Jadi, beberapa hari ini saya ngerasa seperti “enggan”. Enggan berdoa, baca alkitab, bahkan sampai males dateng ke Gereja. Saya mikirnya awalnya mungkin karena saya sibuk nugas sama seneng-seneng, tapi lambat laun saya sadari saya kehilangan kehausan. Kehilangan kerinduan sama Tuhan. Sepertinya “enggan” ketemu Bapa. Bayangin, analoginya kayak anak kecil yang ga mau ketemu orang tuanya, padahal orang tuanya udah kangeeeenn banget sama anak itu. Saya tahu kalo saya serius mempersiapkan hati di waktu-waktu itu, pasti Dia datang. Pasti. Tapi masalahnya, saya bener-bener enggan :(

Saya juga pusing gimana. Saya cuma minta sesekali dalam hati ama Dia supaya Dia mengembalikan rasa haus dan kerinduan saya. Saya tahu kerinduan itu juga anugerah, bukan sesuatu yang diusahakan manusia. Bukan sesuatu yang harus diusahakan sangat keras.

Tuhan baik banget deh pokoknya. Dia ngga ngebiarin saya lama-lama kaya gini. Dia tahu saya perlu hadirat-Nya, Dia tahu saya perlu disegarkan lagi. Saya tahu Tuhan bekerja di hati saya. Entah datang dari mana dan gimana caranya, tiba-tiba saya merasa semua kesenangan dan hal-hal lain seperti ngga berharga. Hanya Tuhan yang saya inginkan. Hanya Tuhan.

Seperti menemukan harta karun, saya berbinar-binar banget waktu ngeliat alkitab. Ngga tau kenapa. Sepertinya saya kangen banget ama Firman Tuhan. Sepertinya udah lamaa banget rasanya ngga baca alkitab. Dan rasanya seneng dan damai aja, ngga ada rasa tertuduh atas apa yang saya lakukan selama ini. Waktu nyanyi menyembah juga, rasanya Tuhan bilang ke saya ngga usah mikir apa-apa, hanya cukup duduk di kaki-Nya aja. Dan itu bener-bener damai dan gimana gitu rasanya.. hehe.. Trus sepertinya Tuhan bicara tentang menghargai kerinduan. Saya mengalami apa yang namanya menghargai kerinduan yang Dia berikan, karena kerinduan itu anugerah juga. Bukan saya yang mengusahakannya, tetapi Tuhan sendiri yang menganugerahkannya. Saya rasa bersyukur banget. Tuhan ngajarin sesuatu yang baru sama saya. Pas baca alkitab juga rasanya senaaangg banget. Yah itu sih yang saya rasain, saya juga bingung kalo disuruh meneruskan dengan kata-kata. Intinya sih menghargai kerinduan. ;)

Trus satu hal lagi saya belajar. Biarkan Tuhan yang memimpin acara doa kita, baik korporat atau pribadi. Karena sebenarnya kita ngga tahu gimana harus berdoa (kata Roma 8:26). Saya belajar cukup siapkan hati dan waktu. Pekalah terhadap apa yang pengen Tuhan sampaikan dan rindukan Dia yang berkarya.

Oiya, ada satu lagu yang sangat merhema buat saya, dari pertama kali dengar lagu itu sampai sekarang. Pertama kali dengar itu waktu ujian praktek agama di SMA. Ada salah satu teman saya nyanyi lagu ini, dan saya suka lagunya. Tapi sayangnya saya lupa lirik awalnya, cuma hafal reff-nya aja. Saya cari banyak referensi tentang lagu ini, ga ada. Lagu ini kena banget (touching) sama saya. Eh, beberapa tahun kemudian, waktu komsel sama kak Christ lagu ini dinyanyikan lagi, dan berhubung ga ada yang tahu lagunya kecuali kak Christ, jadi lagunya ditulis. Ihhh saya seneng banget.. Lagunya diambil dari Mazmur 63.

Ya Allah Engkau kerinduanku
S’lalu kucari wajah-Mu Tuhan
S’perti tanah yang kering rindukan air
Demikianlah jiwaku rindu Engkau
Kumemandang-Mu di tempat kudus
Dan kulihat kemuliaan-Mu
Kuberdiam di bawah naungan sayap-Mu
Dan kudapati kekuatan baru

Reff:
S’bab kasih setia-Mu
Lebih dari hidup
Kebaikan-Mu melimpah atasku
Jiwaku melekat kepada-Mu Tuhan
Betapaku merindukan-Mu

be blessed.. :)

>>>more to come,,,