Jesus

Never Ready Faith (Reblogged)

I have never been ready, Never – Ready Faith by Steven Furtick 

A lot of people weren’t ready in the Bible – Abraham wasn’t ready when God called him, Moses wasn’t ready, the disciples were never ready and they never got it. Even when they got it they still didn’t get it. Each time they were ready they started to doubt because their faith was in their readiness.

Jeremiah 1:4-10 Then the word of the Lord came to me, saying:
“Before I formed you in the womb I knew you; Before you were born I sanctified you; I ordained you a prophet to the nations.” Then said I: “Ah, Lord God!Behold, I cannot speak, for I am a youth.” But the Lord said to me: “Do not say, ‘I am a youth,’ For you shall go to all to whom I send you, and whatever I command you, you shall speak. Do not be afraid of their faces, For I am with you to deliver you,” says the Lord. Then the Lord put forth His hand and touched my mouth, and the Lord said to me: “Behold, I have put My words in your mouth. See, I have this day set you over the nations and over the kingdoms, to root out and to pull down, to destroy and to throw down, to build and to plant.”

  • God always look at the hearts, never the appearance.
  • There’s the time where God shapes you and calls you for something and then there’s the time where you become aware of it and responsive to it.
  • “I am not ready” is just an excuses because you will never been ready.
  • He’s got options and you just have to show up! Present yourself to God.. Here I am.
Mark 8:13-21 And He left them, and getting into the boat again, departed to the other side. Now the disciples had forgotten to take bread, and they did not have more than one loaf with them in the boat. Then He charged them, saying, “Take heed, beware of the leaven of the Pharisees and the leaven of Herod.” And they reasoned among themselves, saying, “It is because we have no bread.” But Jesus, being aware of it, said to them, “Why do you reason because you have no bread? Do you not yet perceive nor understand? Is your heart still hardened? Having eyes, do you not see? And having ears, do you not hear? And do you not remember? When I broke the five loaves for the five thousand, how many baskets full of fragments did you take up?” They said to Him, “Twelve.” “Also, when I broke the seven for the four thousand, how many large baskets full of fragments did you take up?” And they said, “Seven.” So He said to them, “How is it you do not understand?”

  • The disciples had just seen Jesus multiply the five loaves and 2 fishes, but yet they forgot. You’re never ready, it’s not about your preparation. God is with you.
  • There is no need for God to tell us the details, but He cares about every detail.
  • God doesn’t need me to be ready – I will never be. He just wants me to obey and follow Him (ask for His supernatural wisdom).
  • Insecurities happen because we compare our behind-the-scenes with everyone else’s highlight reel.

1. Cancel the audition! God CHOSE you!

Compared how some people may feel with those auditioning for the TV show “The Voice.” “Cancel the audition, you’ve already got the part. A lot of people spend their whole lives waiting on somebody to hit a button, turn around, and choose them,” he said. “A lot of believers spend their whole walk with God performing, trying out, feeling bad, waiting on God to hit a button and turn around and say now He loves you. God said before you were born ‘I chose you.’” Isn’t that enough?

  • He chose you before you were born.
  • You don’t need to impress God. You don’t need to try out, you just have to live out what God has already placed in you.
  • God gave you the part not because of anything you did; God chose you precisely because you’re awkward a.k.a uniquely awkward.
  • God’s got options, but He chose YOU.
  • Equip your spirit with the word of God.
  • “My Father says I am”
  • Live by what God says about you, about what you can do. His is the only opinion that matters.
  • When God is speaking, one word is more than enough. Have enough faith in your Father to go with one word.

2. Get ready on the way !

  • God doesn’t call you to “feel ready” or trying to be as ready as possible, He calls you to have faith and follow Him.
  • Trust that God will drive and get ready on the way. Just like husband and wife, sometimes the women will just never been ready until the car engine starts. As His bride, you just have to hop on to the car and get ready on the way. God will drive and you get ready on the way!
  • Blessings is God’s department, obedience is yours.
  • If you can hear God’s voice, you can stand in the face of your fear 
3. Stay behind the guide!
  • Psalm 23 – To have the Lord as my shepherd, I’ve to acknowledge that I’m a sheep
  • Psalm 48:14 – For this God is our God for ever and ever; he will be our guide even to the end. He does not want to give you guidance, He wants to be your Guide forever!
  • “I’m never going to audition for Your love again. I’m never going to audition for Your calling again. I receive Your love. I receive Your calling.”
“I’ve never been ready. I wasn’t ready when we started the church. I didn’t feel ready when the church started to grow, thousands of people were coming to Christ, but the church got bigger than the town I grew up in. I wasn’t ready for that.” said Steven Furtick

Taken from here

Sincere Songs

 

I’m glad to see the sincerity, especially from children. It takes me to the very heart of the human that can be the offering to God.

The people brought children to Jesus, hoping He might touch them. The disciples shooed them off. But Jesus was irate and let them know it: “Don’t push these children away. Don’t ever get between them and me. These children are at the very center of life in the kingdom. Mark this: Unless you accept God’s kingdom in the simplicity of a child, you’ll never get in.” Then, gathering the children up in His arms, He laid His hands of blessing on them.

Mark 10:13-16 MSG

Gloria

Gloria in excelsis Deo, yang artinya “Glory to God in the highest” (keren banget artinya).

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2012, 2011 akan berakhir. Merayakan Natal sudah menjadi seperti kebiasaan setiap tahun. Saking terbiasanya, saya menganggap Natal itu biasa saja. Yang asyik hanyalah perubahan suasana dari pernak-pernik natal, kue-kue, dan lagu-lagu.

Jujur saya, saya lebih suka Paskah ketimbang Natal, karena beberapa alasan. Yang pertama, saya banyak menemui bahwa natal itu lebih berkaitan dengan hedonisme daripada Tuhan Yesus sendiri. Di banyak negara, natal identik dengan party, holiday, dan hedonisme. Banyak gereja juga yang menghabiskan duitnya untuk perayaan natal besar-besaran. Yang kedua, gereja saya tidak merayakan natal, karena setahu saya, natal tidak tercatat di Alkitab untuk dirayakan, tetapi untuk Paskah, Tuhan menyuruh bangsa Israel untuk merayakan Paskah.

Namun cerita ini belum berakhir.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar pernyataan dari gembala saya di pelayanan mahasiswa. Itu membuka wawasan saya tentang natal. Beliau berkata, “semangat natal adalah semangat misi”. Artinya tidak ada pengorbanan Yesus di kayu salib kalau Dia tidak lahir ke dunia. Kedatangan Yesus ke dunia saja merupakan kesukaan besar bagi seluruh dunia. Kedatangan orang-orang yang membawa kabar baik ke suatu tempat adalah suatu sukacita bagi tempat tersebut, kedatangannya saja lho! Kedatangan orang yang membawa Injil ke kampus-kampus adalah sukacita besar bagi kampus-kampus.

Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik! Roma 10:15

Jadi tidak ada Paskah kalau tidak ada Natal. Tidak ada kematian dan kebangkitan Yesus kalau tidak ada kelahiran Yesus.

 

Merry Joyous Christmas!

Apakah Anda Produk Injil Murahan?

Disadur dari tulisan Bang Parlin – Sion

Pesan Injil sering dilunakkan untuk menjadi lebih popular dan lebih disukai banyak orang. Isu utama yang sering kali diangkat dalam pemberitaan Injil hari-hari ini adalah : ‘life enhancement’, bahwa Yesus Kristus datang kedalam hidup kita untuk membuat hidup kita bahagia, disembuhkan, penuh dengan berkat dan sukacita selama ada dibumi ini.

Isu utama dalam Injil bukanlah kebahagiaan tapi adalah pembenaran. Benar bahwa sukacita, kesembuhan dan berkat-berkat adalah pekerjaan dari kasih karunia yang sama tapi tidaklah tepat untuk menggunakan buah-buah ini sebagai isu utama untuk orang datang kepada Kristus. Isu yang utama adalah percaya kepada Yesus berarti keselamatan yang kekal, bahwa setiap orang akan mengalami kematian dan mereka yang percaya akan diselamatkan dari murka yang akan datang (Ibrani 9:27)

Coba pertimbangkan anekdot ini: “Dua orang ada dalam satu pesawat, si A diminta untuk menggunakan tas parasut dengan himbauan bahwa tas ini akan menambah kenikmatannya sepanjang perjalanan dalam pesawat –hence : life enhancement- . Dia ragu-ragu tapi dia mencobanya juga, siapa yang tidak mau tawaran yang baik spt ini pikirnya? . Sesudah dia pakai, dia perhatikan duduknya jadi kurang nyaman karena dia tidak bisa bersandar. Bukan hanya itu saja, ttp dia mulai melihat org-org lain dalam pesawat mulai menertawakan dia, karena: dalam pesawat kok pakai parasut ?, dia pahit dan kecewa, setelah itu dia buang tas itu dan tidak mau memakainya lagi.
Si B diminta menggunakan parasut dan diberitahu bahwa pesawat mengalami kerusakan sehingga sewaktu-waktu dia harus melompat dari pesawat itu. Dia tidak memperhatikan duduknya yang kurang nyaman – perhatiannya betul-betul tertuju kepada saat dimana dia harus melompat dari pesawat dengan parasutnya. Baginya menggunakan parasut adalah suatu keharusan. Ketika orang lain menghina dia karena memakai parasut: dia malah heran kenapa orang lain tidak menggunakan parasut? Apakah mereka tidak peduli akan nyawa mereka ? – begitu pikirnya”. Segala ketidaknyamanannya dalam menggunakan tas parasut itu di pesawat dia anggap sebagai kompensasi yang wajar untuk harga keselamatan nyawanya.”

Begitulah mereka yang dihimbau memakai ‘parasut Kristus’ untuk lebih banyak kebahagiaan didunia ini. Saat tekanan datang, penderitaan datang, aniaya datang karena imannya – dia segera akan meninggalkan Kristus. Keluhan akan terjadi konstan karena setiap hal yang salah dalam hidupnya disalahkannya kepada Tuhan. Bukankah Tuhan bekerja bagi kenikmatan saya ? Studi jelek, masalah keluarga, dll maka salahkan Tuhan – kok jadi seperti ini ikut Tuhan seru mereka.
Tapi mereka yang mendengar kabar Injil dan diberitahu bahwa manusia akan mati, dan api yang kekal akan menanti mereka yang tidak percaya Kristus akan bersyukur setiap hari u/jaminan hidup kekal itu. Tantangan dan aniaya adalah risiko wajar dari suatu iman yang memimpin mereka pada hidup yang kekal. Itu sebabnya rasul-rasul dan gereja mula-mula tidak takut untuk mati bagi Nama itu sementara hari ini sejumput uang bisa membeli iman seseorang.

Pendosapun juga bahagia dalam dosa-dosanya. Sebelum hati nurani merk makin mengeras, mereka memang akan cukup menderita dalam dosa. Setiap kali mereka melakukan itu, ada sesuatu dalam diri mereka yang menentang perbuatan dosa itu dan membuat mereka cukup menderita. Inilah hati nurani yang terganggu. Tapi setelah beberapa saat mengeraskan hati terhadap berkali-kali himbauan untuk pertobatan, maka hati nurani akan mengeras.

Yang salah akan kelihatan benar dan yang benar akan kelihatan salah. Seperti penduduk Niniwe yang tidak tahu membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Perbuatan dosa akan menjadi lebih nikmat, sekali-kali merk akan merasa kosong dan hampa, tapi hati yang keras itu seperti hati Firaun telah ditetapkan untuk kebinasaan. Pendosa yang keras hati seperti itu, bahagia akan dosa-dosanya – tapi tetap saja akan binasa tidak peduli betapa bahagianya pun mereka dengan dosanya.

Yak 2:9 , kita akan diyakinkan oleh Hukum Allah bahwa kita berdosa terhadap Allah. Dosa adalah yang paling utama pelanggaran kita terhadap hukum-hukum Allah. Kebanyakan orang tidak merasa berdosa, karena mereka yakini mereka baik terhadap orang lain, tidak menganggu hidup orang lain dsb. “Kan hidupku sendiri yang kurusakkan”, kata mereka. Tapi dosa adalah pelanggaran hukum-hukum Allah

Rom 7:7 What shall we say then? Is the law sin? God forbid. Nay, I had not known sin, but by the law: for I had not known lust, except the law had said, Thou shalt not covet.

Hukum Tuhan tidak membenarkan tapi menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Tidak menolong kita tapi hanya membuat kita merasa tidak berdaya sehingga kita melemparkan diri kepada kasih karunia Allah. Itulah fungsi Hukum Taurat.
Karena anda bersalah menurut Hukum Taurat, dan hukuman anda adalah kebinasaan, maka pesan Injil menjadi relevan. Kabar baik menjadi ‘kabar yang benar-benar baik’, setelah kita mengerti pelanggaran kita, betapa rusaknya kita dan betapa tidak berdayanya kita dalam dosa kita. Dan bahwa tanpa Kristus kita sedang menuju kebinasaan yang kekal.
KABAR BAIK adalah kabar baik apabila seseorang dibuat mengerti pelanggarannya dan hukuman kekal yang menantinya. Mereka yang puas akan Kalvari yang telah menyelamatkannya dari dosa dan penghukuman yang kekal tidak menuntut lebih banyak lagi tapi bahkan menjadi orang-orang yang rindu mengasihi Tuhan dan manusia lebih banyak lagi.