hope

The Truth of Hope

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Ibrani 6:19

Seorang manusia bisa hidup selama beberapa minggu tanpa makanan dan beberapa hari tanpa air. Namun manusia hanya bisa hidup sekitar satu jam tanpa harapan. Pak Bob Foster – SPRINT 2012

Setiap manusia pasti mempunyai pengharapan dan pengharapan itulah yang membuat hidup lebih berwarna. Terkadang suka, duka, tawa, dan tangis itu disebabkan salah satunya oleh pengharapan- pengharapan yang kita miliki. Pengharapan bagaikan jangkar untuk jiwa kita, kata Alkitab. Saya pribadi mendapatkan bahwa pengharapan itulah yang membuat seseorang tetap teguh dan tidak terombang-ambing oleh keadaan.

Pengharapan seperti apa itu? Pertanyaan sekarang, kepada siapakah kita letakkan pengharapan kita? Beberapa orang berkata, buat apa berharap, toh kalo tidak terjadi, nanti kecewa. Jadi jangan membuat harapan terlalu tinggi, nanti kalau tidak terwujud, kita akan kecewa. Pernyataan ini ada benarnya juga secara logika, tetapi sebenarnya ada unsur ketidakmengertian di situ. Saya juga pernah mengalami yang namanya berharap. Sampai suatu titik saya sadari, mengapa banyak harapan saya yang tidak terjadi? Kemudian ada kekecewaan karena tidak terjadinya harapan itu. Ujung-ujungnya saya berpikir, apakah lebih baik saya tidak usah berharap saja sekalian?

Ternyata jawabannya bukan mematikan pengharapan, namun kepada siapa kita letakkan pengharapan itu? Kepada sesuatu yang absolut atau sesuatu yang relatif? Suatu pengharapan akan kuat bila diletakkan di sesuatu yang absolut. Saya bisa berkata, lebih dari sesuatu, itu adalah Seorang Pribadi, yaitu Sang Empunya Hidup Kita, Tuan segala tuan, Raja segala raja, Bapa yang sejati. Kepada Dialah kita dapat meletakkan seluruh pengharapan-pengharapan kita.

Seseorang berkata kepada saya, “Jika kamu berharap, harapan-harapan itu bukan kamu letakkan di manusia, tetapi diserahkan ke Tuhan”. Itulah kuncinya. Pengharapan akan menjadi lebih indah dengan sentuhan surgawi, bukan manusiawi. Manusia adalah sesuatu yang relatif, bisa mengecewakan, tetapi Bapa tidak. Kesalahan kita adalah meletakkan harapan-harapan pada sesuatu yang relatif seperti manusia, harta, pekerjaan, atau kedudukan. Pada akhirnya kita kecewa dan mematikan pengharapan. Bukan, jawabannya bukan meniadakan pengharapan, tetapi meletakkannya di Tangan yang Benar.

Be blessed.. more to come..