feeling

Finally, I’m Married! Yay!

Akhirnya status saya sekarang sudah tidak single lagi. Sekarang saya sudah menikah. Menikah. Jadi inilah inti dari tulisan ini :D

Banyak sekali hal-hal yang saya lalui bersama calon suami saya. Banyak pembentukan dan kasih karunia yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya, mulai dari si dia maju (nembak) ke saya, sampai akhirnya kami jadian, lalu memasuki masa pranikah, kemudian merencanakan untuk menikah dan bertemu keluarga, tunangan, kemudian menikah. Kalau diceritakan semua, bisa jadi panjang dan memakan beberapa page :p Intinya, saya bersyukur sekali dan semakin hari merasa makin diteguhkan dengan pilihan Tuhan buat hidup saya.

Namun saya, eh.. kami sadar sih kalau ini bukan akhir dari perjalanan petualangan kami. Marriage is not finish line. Saya tahu apa yang diceritakan di film-film mengenai happily ever after yang ending ceritanya adalah pada saat pemeran cowok dan ceweknya menikah itu tidak sepenuhnya benar, karena pernikahan membutuhkan kerja keras, tidak serta merta jadi happy terus sampai akhir hidupnya. Jadi kami sama-sama berusaha untuk menciptakan kehidupan pernikahan yang bahagia sesuai dengan Firman Tuhan, tentunya dengan kasih karunia Tuhan, seperti janji yang kami ucapkan pada saat pemberkatan pernikahan kami ;)

Juliana-Alit
Di post ini, kami mau membagikan beberapa hal yang Tuhan ajarkan sama kami selama masa pranikah dan kehidupan setelah pernikahan (walau baru sebulan menikah).. I’m sure that these are very precious to share, especially to our next generation..

HOLINESS

Ketika kami berkomitmen untuk menjalani hubungan pranikah (jadian), ya pasti senang banget dong haha. Kami jadian pada bulan Juni 2012. Akhirnya dia mendengar dari mulut saya kalau saya menjawab “iya” untuk pernyataannya. Yah pada intinya, we was committed to pre-marriage relationship. Rasanya senang sekali, saudara-saudara, seolah-olah ada bunga-bunga di dalam hati dan pikiran ini seolah-olah ditarik oleh magnet besar yang namanya si dia, hehe. Namun ada satu hal yang saya sadari waktu itu. Jika saya benar-benar menghormati hubungan ini sampai ke pernikahan, saya dan dia harus menjaga kekudusan. Terlebih dari itu, jika kami berkata kami menghormati Tuhan, kami harus menjaga kekudusan kami sebelum pernikahan. Saya tahu bahayanya ketika kami berkompromi dengan perasaan-perasaan, mulai tidak kudus dengan banyak bersentuhan, dan pada akhirnya jatuh ke dalam hubungan sebelum pernikahan.

Jadi kami bersepakat untuk not to touch each other, kecuali salaman atau salim pada saat bertemu, hehehe.. Jadi selama menjalani masa pranikah, kami komit untuk menjaga tubuh kami masing-masing dan pasangan dengan tidak bersentuhan lebih banyak dari salaman. Hmm oke, ini memang sangat tidak lazim untuk generasi modern jaman sekarang, dimana banyak anak muda yang pacaran dengan tidak terkontrol. Awal-awalnya, dengan perasaan yang membunga dan menggebu-gebu, sejujurnya agak berat bagi kami, karena jujur di dalam pikiran saya ada keinginan untuk bersentuhan dengan calon pasangan hidup saya. Dan tidak hanya itu, kami juga menceritakan value yang kami pegang kepada teman-teman kami, ada juga tanggapan yang biasa dan bahkan memandang aneh apa yang kami lakukan. Wah tantangannya banyak, baik dari dalam diri kami sendiri, maupun dari luar. Namun, kami saling menguatkan satu sama lain, percaya kalau apa yang kami lakukan ini benar, berusaha menutup semua celah untuk ketidakkudusan.

Tantangan banyak juga datang dari diri kami pribadi. Pernah pada suatu kali, dalam suatu perjalanan, saya dan dia duduk bersebelahan. Dalam pikiran saya, saya pengen menyandarkan kepala saya di bahunya, sekali-kali deh Tuhan, hehe, tetapi setelah itu malah jadi perang batin. Holy Spirit reminded me to keep the holiness, tapi Tuhan sekali aja gapapa kan. Sampai akhirnya saya jadi menyandarkan sedikit kepala saya ke badannya, sementara dia tidur. Dan disitu makin menjadi perang di dalam batin saya, sampai saya akhirnya menangis (diam-diam). Tetapi setelah kami tiba di tempat tujuan, kemudian pada suatu pembicaraan di BBM, saya mengaku sama dia tentang pengalaman saya di perjalanan tadi, saya minta ampun sama Tuhan, dan rekonsiliasi. Selain itu, pernah juga saya salah paham dengan dia. Di suatu perjalanan lainnya, kami duduk di travel yang lumayan kosong, dan ada 3 seat yang bisa kami pakai. Saya duduk duluan di pinggir, kemudian dia mengambil tempat di ujung satunya, sehingga menyisakan satu tempat kosong di tengah. Entah kenapa, itu membuat saya agak tertolak sebenernya dan membuat hati pedih, hehehe.. Tetapi, setelah diceritakan olehnya, saya jadi sadar, kalau itu adalah langkahnya untuk menjaga supaya dia tidak bertingkah aneh-aneh. Di lain kesempatan, Mas Alit pun mengalami hal-hal yang sama, dimana dia pernah ingin mencium saya pada saat perpisahan di travel, tetapi ga jadi. Dia mengakuinya pada saat kami sudah berpisah ke tempat masing-masing.

Bahkan foto prewedding kami pun bercerita soal komitmen kami. Kami komit untuk tidak berpose terlalu mesra untuk prewedding, karena ya itu pre kan? Sebelum-menikah. Artinya ya hak-hak keintiman itu boleh kami dapatkan ya setelah menikah. Kami agak sedikit ‘mengatur’ fotografernya untuk tidak mengarahkan ke pose yang berlebihan hehe. Pada saat sebelum pemberkatan pun, di hari H, ada waktu untuk kami foto-foto berdua dulu sebelum kebaktian. Fotografer kami mengarahkan saya untuk menggandeng tangan Mas Alit, namun kami kompak menolaknya dengan halus, karena kami belum resmi suami-istri, dan fotografernya menerima keputusan kami. Hehehe. Mas Alit akhirnya bilang, bahkan sampai akhir pun, kami tetap mau jaga value kami, sampai akhirnya kami resmi jadi suami-istri. Hehe how sweet ya suami saya :)

Sukacita keintiman adalah upah dari komitmen. Itu adalah statement yang pernah saya baca dari sebuah buku rohani tentang relationship. Dan itu benar, apalagi setelah kami menjalani pernikahan.

Masyarakat sekarang beranggapan, ooh bulan madu yang bahagia itu harus ke tempat yang jauh dan bagus, seperti Bali atau Singapore. Namun kami sendiri membuktikan, ga harus seperti itu kok. Yang penting itu bukan tempat atau mahalnya rencana bulan madu itu, tetapi ketika kami menikmati keberadaan satu sama lain :) Bulan madu kami anggap sebagai tempat kami lebih mengenal pasangan. Kami memesan kamar hotel untuk beberapa hari di Bandung, ga jauh-jauh kok hehe, dan hotel tersebut punya fasilitas yang cukup oke untuk bulan madu. Ada beberapa rencana kegiatan di dalam pikiran saya, namun ternyata hal-hal tersebut ga jadi dilakukan, karena kami sudah cukup senang dengan keberadaan masing-masing, tidak ditambah-tambah dengan kegiatan lain. Bahkan kami berdua jarang keluar kamar ketika kami berlibur di situ. Lalu Tuhan ingatkan kami, wah sukacitanya sangat berlipat-lipat-lipat-lipat ketika kami jaga kekudusan dan menutup celah dosa sebelum kami menikah. Ketika menikah, itu menjadi sebuah surprise yang sangat luar biasa. Thank You, Lord!

Jadi, kami mau bilang ke next generation, bahwa ikut apa kata Tuhan itu akan mendatangkan sukacita. Melakukan hal yang sebelum waktunya tidak akan mendatangkan damai sejahtera. Ketika Tuhan menjadi Tuhan dalam hidup kita, segala sesuatu akan berada pada tempat yang seharusnya, dan ada sukacita berlimpah yang Tuhan mau kasih ke dalam kehidupan kita ;)

45440_10200335773188780_1230100392_n

MARRIAGE PREPARATION

Saya ingat, pada bulan Maret 2013, Mas Alit mengatakan waktu yang dia pikirkan untuk pernikahan kami. Februari 2014. Saya menerimanya dengan hati yang senang dan tunduk (hehe). Setelah itu, dia datang ke rumah untuk bertemu orang tua saya dan menyatakan keseriusannya untuk menikahi saya :) :) :) Jadi kira-kira persiapan pernikahan memakan waktu kurang dari setahun.

Ada banyak juga pembentukan karakter dan iman yang Tuhan kerjakan dalam persiapan pernikahan ini. Ada satu value tentang keuangan yang kami pegang, yaitu cukupkan dirimu dengan apa yang ada atau dengan kata lain kami berkomitmen untuk tidak berhutang sana-sini. Yah kami tahu biaya pernikahan itu tidak sedikit dan kami memutuskan untuk menabung. Setiap menerima uang, kami menabung ke satu rekening untuk persiapan pernikahan kami. Kami berprinsip, tidak perlu pesta yang mewah dan mengundang hampir ribuan orang, walaupun kalau ditotal, teman-teman kami bisa sampai ribuan, hehehe. Cukup resepsi yang sederhana saja dan tidak perlu mencari perkenanan manusia. Justru yang lebih penting adalah kehidupan setelah pernikahan, kecukupan untuk kebutuhan sehari-hari, tempat bernaung, dan sebagainya. Jadi kami mendobrak pemikiran-pemikiran selama ini yang mengatakan kalau menikah harus di gedung mewah dan mengundang ribuan orang. Pemberkatan dan resepsi kami diadakan di sebuah restoran di Dago, Bandung yang berkapasitas maksimal 700 orang. Kami tidak memakai adat-adat yang benar-benar adat, jadi dari dekorasi sampai kostum pun sederhana saja. Berkaitan dengan tata cara, puji Tuhan, keluarga dari masing-masing kami tidak terlalu banyak keinginan dan lembut untuk menerima apa yang kami rancangkan.

Namun walaupun begitu, tetap saja pada saat dua bulan sebelum hari H, kami merasa tabungan kami belum cukup. Kami terus berdoa dan saling menguatkan iman satu sama lain supaya tetap percaya sama Tuhan kalau Dia bakal sediakan uang buat kami :’) Ada kejadian yang luar biasa, satu bulan sebelumnya, acara tunangan  diselenggarakan. Semula, tanpa berkonsultasi dengan keluarga, kami membuat anggaran untuk lamaran dengan pemikiran kami sendiri. Singkat cerita, setelah konsultasi dengan keluarga Mas Alit, dana yang dibutuhkan menjadi 9-10 kali lipat. Weew, uang darimana??? Kami jujur sempat bingung, karena biaya-biaya tersebut kami yang menanggungnya, tapi kami taat saja dengan keluarga. Namun Tuhan itu memang setia, keluarga saya di luar kota datang ke acara lamaran, dan memberikan pas sesuai dengan jumlah kurangnya anggaran pernikahan kami karena membengkaknya dana lamaran. Wowww dahsyat Tuhan! Bahkan kami bisa menabur buat pelayanan di masa-masa kami butuh duit itu. Selain itu pas sekali, papa saya mendapat pekerjaan pada bulan November 2013 dengan gaji di atas rata-rata, sehingga papa mama bisa membantu kami dalam mengurus pernikahan. Kami sangat sangat terbantu dengan papa dan mama. Tepat sekali memang pertolongan Tuhan!

Banyak sekali yang saya mau ceritakan di masa-masa persiapan pernikahan, dimana banyak sekali kemurahan dan ketepatan Tuhan. Kami berdoa juga buat cuaca supaya tidak hujan pada saat kami menikah. Kami menikah pada tanggal 23 Februari 2014. Pada tanggal 20-22 Feb, Bandung terus diguyur hujan. Saya sempat pesimis sebenernya, tetapi terus berdoa sama Tuhan. Ajaibnya, di tanggal 23 Feb itu pagi-pagi sebelum pemberkatan itu memang gerimis sedikit, tetapi habis itu berhenti sampai malam. Alhasil, cuaca pada saat acara kami itu tidak hujan, tetapi tidak panas juga, adem gitu deh, sehingga kami dan para tamu pun merasa nyaman. Ajaibnya, besoknya tanggal 24 dst hujan mengguyur Bandung kembali. Hahaha..

Our Pose

Kami mau berkata, kami adalah saksi hidup yang melihat Tuhan sendiri setia dalam kehidupan kami. Semoga pengalaman kami ini memberkati dan menginspirasi generasi-generasi berikutnya. Be blessed :)

Aku akan mendirikan bagi mereka suatu taman kebahagiaan, sehingga di tanah itu tidak seorangpun akan mati kelaparan dan mereka tidak lagi menanggung noda yang ditimbulkan bangsa-bangsa. Yehezkiel 34:29

-this is God’s promise for our marriage

1

Surprise! Gantengnya suamiku :3

Advertisements

Sincere Songs

 

I’m glad to see the sincerity, especially from children. It takes me to the very heart of the human that can be the offering to God.

The people brought children to Jesus, hoping He might touch them. The disciples shooed them off. But Jesus was irate and let them know it: “Don’t push these children away. Don’t ever get between them and me. These children are at the very center of life in the kingdom. Mark this: Unless you accept God’s kingdom in the simplicity of a child, you’ll never get in.” Then, gathering the children up in His arms, He laid His hands of blessing on them.

Mark 10:13-16 MSG

Gloria

Gloria in excelsis Deo, yang artinya “Glory to God in the highest” (keren banget artinya).

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2012, 2011 akan berakhir. Merayakan Natal sudah menjadi seperti kebiasaan setiap tahun. Saking terbiasanya, saya menganggap Natal itu biasa saja. Yang asyik hanyalah perubahan suasana dari pernak-pernik natal, kue-kue, dan lagu-lagu.

Jujur saya, saya lebih suka Paskah ketimbang Natal, karena beberapa alasan. Yang pertama, saya banyak menemui bahwa natal itu lebih berkaitan dengan hedonisme daripada Tuhan Yesus sendiri. Di banyak negara, natal identik dengan party, holiday, dan hedonisme. Banyak gereja juga yang menghabiskan duitnya untuk perayaan natal besar-besaran. Yang kedua, gereja saya tidak merayakan natal, karena setahu saya, natal tidak tercatat di Alkitab untuk dirayakan, tetapi untuk Paskah, Tuhan menyuruh bangsa Israel untuk merayakan Paskah.

Namun cerita ini belum berakhir.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar pernyataan dari gembala saya di pelayanan mahasiswa. Itu membuka wawasan saya tentang natal. Beliau berkata, “semangat natal adalah semangat misi”. Artinya tidak ada pengorbanan Yesus di kayu salib kalau Dia tidak lahir ke dunia. Kedatangan Yesus ke dunia saja merupakan kesukaan besar bagi seluruh dunia. Kedatangan orang-orang yang membawa kabar baik ke suatu tempat adalah suatu sukacita bagi tempat tersebut, kedatangannya saja lho! Kedatangan orang yang membawa Injil ke kampus-kampus adalah sukacita besar bagi kampus-kampus.

Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik! Roma 10:15

Jadi tidak ada Paskah kalau tidak ada Natal. Tidak ada kematian dan kebangkitan Yesus kalau tidak ada kelahiran Yesus.

 

Merry Joyous Christmas!

Dusk

Maybe, the title of the post is not related with the content, hehe. Well, I’m trying to improve my English skill, so I’m writing it in English. I hope not a lot of bad grammar here.

If you search on your dictionary, dusk means senja in Indonesian. Senja is the name of company where I work. Yes, I started to work here from end of July 2011, soon after my graduation. This company is so homy. The office buildings looks like an apartment. Unlike most people who work with formals, we usually work with casual clothing. The office hours starts from 11am until 7pm. Hmm, it’s late if we compare to other company in Indonesia. We start from 11am because we have to match the time with the company in UK. Our boss is a German. I’m employed here as a web developer. I’ve got so many experiences about web developing since I worked here.

This is my workspace. Yeah, I got 2 monitors. It makes me work easier.

The office is relatively far from anywhere. It’s located in Resor Dago Pakar, Bandung. Well, one of the furthest way is in the Resor Dago Pakar itself. We have to pass the road, up and down, like hills -__- I realize that it takes extra gasoline.

That’s my keyboard and office’s gadget. I like working here. So many gadgets, haha

There’s a weird stuff in my office. It’s a fake radish. You can see the picture below. Can you find the difference with the original radish? haha. Which one is the original stuff? Radish or orange?

When our boss was still in Indonesia, he often invited us out for lunch. Wow, I couldn’t wait if it was the day to go out, hehe. Here’s the example of the food for our lunch.

First of all, Nasi Liwet Ayam Jamur from Boemi Joglo Restaurant. It’s delicious. The second image is Nasi Timbel from The Valley. And the third one, is the best lunch ever (lebay haha), Kambing Bakar Madu :3 from Kambing Soen Restaurant. Those are the food I’ve ever tasted when my boss was in Indonesia for lunch. He invited us to go out weekly.

When we are invited to The Valley, we played golf freely, paid by my boss. That was the first time I played golf and the stick was so heavvyy. Well, I thought the golf stick is light enough before. After playing golf, there was tremor in my right hand. It has hurt for few days, huhu. There was a golf car at The Valley, and I took photo with it. Ta da!

That’s our Dusk :D

…more to come…