article

Lompatan Iman

Written by Alit Dewanto

Seorang atlet lompat galah dengan sungguh-sungguh melompat melewati rintangan yang ada di depannya. Perjuangannya tidaklah sia-sia karena dia berhasil melewati dan menunggu kesempatan berikutnya untuk melompat lebih tinggi, lebih tinggi, seakan-akan tidak pernah puas dengan lompatan yang ada saat ini. Kalau kaki bisa melompat, maka orang Kristen akan berbicara mengenai lompatan iman.

Spirit perintisan tidak bisa dipisahkan dengan apa yang disebut lompatan iman. Kita berada di dalam masa dimana Tuhan membawa kita untuk melayani hal-hal yang lebih besar dan luar biasa. Ada tenaga, waktu, pikiran, uang, semangat, perhatian yang harus dicurahkan dan diinvestasikan. Ada keputusan demi keputusan yang diambil berdasar kasih kepada Kristus. Lahir anak-anak rohani yang tertanam di berbagai wilayah dan pemimpin-pemimpin baru yang ditahbiskan.

Namun seringkali perintisan tidak lagi menggairahkan, pertambahan jiwa sangat sedikit, ada banyak tantangan dari lingkungan, pekerja yang mudah menyerah, dan anak-anak rohani yang tidak kunjung setia dan hanya sekedar hadir. Ditambah kekurangan finansial dan waktu pun disebut-sebut sebagai penghalang terbesar lainnya.

2 Korintus 4: 11-13 “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikialah maut juga giat di dalam kamu. Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”

Ada sesuatu yang berbeda ketika Paulus memberi diri untuk melayani Kristus. Mereka tanpa henti memberi hidupnya, mengalami bahaya mau sepanjang waktu, hidup seperti terombang-ambing kemana Tuhan hendak membawa mereka. Namun hidup mereka menjadi semakin kuat hari lepas hari. Secara fisik, mereka tidak mempunyai apa-apa, namun kekuatan mereka adalam IMAN. Iman adalah DASAR mereka berharap dan BUKTI pembelaan Tuhan yang sempurna (Ibr 11:1). Sehingga ditengah himpitan-himpitan yang ada, kita perlu terobos dengan IMAN, dengan IMAN, dengan IMAN.

 

Dalam hal finansial pun demikian

Ketika pelayanan ini berkembang, ada satu prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita yang harus menyesuaikan diri kita kepada Tuhan, bukan sebaliknya Tuhan yang menyesuaikan dengan kita. Diri kita sangat terbatas, dan kadang-kadang keterbatasan itulah yang membuat terbatasnya juga pekerjaan tangan Tuhan yang harusnya tidak terbatas.

Sangat erat kaitannya dengan masalah finansial. Hampir semua mahasiswa masih bergantung kepada orang tua dalam hal keuangan. Banyak yang jadi ciut hatinya dan tidak yakin bisa memberi untuk pelayanan. Saya pernah mengalami pergumulan seperti itu. Antara mau menabur dengan ketaatan atau mencukupkan diri dengan kebutuhan-kebutuhan. Suatu kali saya ingat betul, pelayanan Sion belum memiliki keuangan yang cukup mapan di awal-awal tahun 2011, dan kemudian kita mau mengadakan HC/ HW beberapa kali. Kebutuhan sangat banyak dan dibuka ladang taburan bagi yang rindu untuk menabur. Saat itu awal bulan dan saya ingat betul jumlah uang di rekening saya 900 ribu rupiah, dan itu untuk satu bulan penuh.

Saya menjadi penuh pertimbangan dalam menabur. Bagaimana dengan uang makan saya? Kan saya sudah kasih perpuluhan dan itu cukup? Bagaimana uang angkot, fotokopi buku, dsb? Namun di saat itu saya ingat betul, kebenaran Firman Tuhan yang benar adalah jangan sampai kita memberi remah-remah kepada Tuhan. Anjing kita kasih remah-remah, masakan Tuhan kita beri remah-remah juga. Dan saat itu saya dengar suara Tuhan, saya tabur 700 ribu dari rekening saya. Tertinggal 200rb di rekening saya untuk kehidupan selama satu bulan, ada damai sejahtera sejati.

 

Saya percaya lebih daripada saya berusaha, TUHAN jauh lebih berusaha untuk menggenapi janji-Nya. Tuhan yang akan gantikan uang tersebut karena saya tabur dengan sungguh-sungguh, Dia tidak akan membiarkan saya berhutang, dan saya benar-benar yakin hidup saya DIJAMIN oleh kekuatan Kristus. Di saat itu, pikiran saya mulai berusaha berpikir untuk menghemat makan menjadi dua kali sehari dan apapun yang bisa dihemat, namun seminggu kemudian saya diundang oleh pemberi beasiswa saya, kalau ada jatah THR bagi para penerima beasiswa dan saat itu juga uangnya cair dan diberikan. Saya sungguh terpesona sekali di masa muda saya, Tuhan menunjukkan bahwa Dia bedaulat atas keuangan saya. Yang saya perlukan hanyalah IMAN, IMAN, IMAN, dan IMAN. Ketika IMAN itu berbicara, segala sesuatu akan tunduk.

Waktu kali pertama mengadakan HC di depok, kita kekurangan dana 7 juta lebih. Saat itu saya ingat berdoa “Tuhan kalau Engkau berikan saya 7 juta bulan ini, saya akan langsung berikan untuk HC”. Dan tepat sekali saya berdoa, Tuhan jawab bulan itu 7 juta diberikan kepada saya sebagai bonus dari kantor dimana saya bekerja, dengan jumlah yang tepat.

Ada banyak godaan untuk tidak beriman, ada banyak godaan untuk kita tidak menabur namun Firman Tuhan kekal. Ketika mempersiapkan pernikahan bersama dengan isteri saya, kami memegang prinsip Tuhan yang pertama. Jadi begitu dapat gaji, yang pertama kami berikan ialah perpuluhan dan uang taburan, kemudian sisanya baru untuk kehidupan keluarga, penghidupan sehari-hari, dan tabungan pernikahan.

 

Sejak dini dan awal sekali…

Rekan-rekan sekalian, jika engkau saat ini merasa kurang uang untuk penghidupmu, tabur uangmu untuk melayani Tuhan. Jika engkau sangat berlebih uangmu, tabur lebih untuk uang. Kamu melihat dirimu bisa makan 3 kali sehari dengan sehat, namun dengan mata yang sama kamu membiarkan rumah Tuhan terbengkelai karena sedikit yang mengorbankan diri. Harusnya tidak demikian bukan? Hiduplah dengan sederhana dan cukupkanlah yang ada. Adik-adik yang masih muda tidaklah terlalu muda untuk melayani, memberi persembahan untuk rumah Tuhan, untuk menjangkau dan melahirkah keturunan-keturunan rohani.

Suatu kali, ketika saya sudah bekerja, saya mengalami pergumulan dalam hal keuangan. Saya tahu dengan persis bahwa uang yang tertinggal dalam rekening sudah tidak cukup untuk penghidupan saya. Saya sudah bekerja, tidak mungkin saya minta-minta sama orang tua saya. Meminjam pun segan. Dan pelayanan sedang membutuhkan banyak dana operasional. Saya terduduk dalam kamar saya dan merenung, apalagi saat itu saya sedang dalam masa-masa persiapan pernikahan. Mungkin itu adalah titik dimana saya bergumul hebat dalam perkara ini. Namun di saat seperti itu, ketika saya berdoa dan berada dalam hadirat Tuhan yang kudus, urapan-Nya begitu mengalir dan berkuasa. Di saat-saat itu, yang saya butuhkan adalah saya bertemu dengan Tuhan dan Firman-Nya dengan teguh menguatkan saya. Saya tersungkur sambil terus merenunginya.

Mazmur 23: 1 Tuhan adalah gembalaku, tidak akan kekurangan aku

Mazmur 23: 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

Mazmur 23: 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah

YA YA YA, Dia sungguh setia, teramat setia, dan sangat amat setia. Firman Nya cukup untuk menjadi pegangan bahwa kita TERJAMIN.

 

Sakit bersalin dan terus sakit bersalin.. 

Nah saya mengajak semua mengerjakan hal yang sama bahkan lebih. Tidak cukup satu dua orang yang panas namun yang lain suam-suam kuku. Tuhan ingin menggerakkan kita semua untuk menjadi satu tim yang kokoh, memiliki nilai dan prinsip yang kuat, dan mengerjakan kegerakan rohani ini dalam satu haluan.

Awal tahun ini selain sion depok dan cawang, dirintis juga sion bekasi, sion bintaro, sion grogol, dan juga sion semanggi. Banyak dana yang dikeluarkan, banyak tenaga dan pikiran dicurahkan untuk memuridkan. Saya dan isteri tetap berusaha untuk mengerjakan yang terbaik dengan apa yang sudah Tuhan percayakan. Namun tetap peliharalah rasa “SAYA TIDAK AKAN PERNAH PUAS” karena apa yang kita kerjakan belum SEBERAPA. Dibandingkan dengan Rasul Paulus, Petrus, dan lainnya, yang kita lakukan masihlah belum seberapa.

Siapa yang mau beriman? MELOMPATLAH!

KATAKAN BERSAMA-SAMA: Iman saya mau melompat sejauh yang Tuhan kehendaki. Saya mau melompat sampai batas-batas yang sudah tidak bisa dirasakan oleh tubuh saya sendiri. Dan sejauh itulah kemah saya dikembangkan, keturunan saya tinggal tetap, dan itulah akhir hidup saya.

 

Generasi perkasa dilahirkan dari angkatan ini,

Alit Dewanto

Advertisements

The Truth of Hope

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Ibrani 6:19

Seorang manusia bisa hidup selama beberapa minggu tanpa makanan dan beberapa hari tanpa air. Namun manusia hanya bisa hidup sekitar satu jam tanpa harapan. Pak Bob Foster – SPRINT 2012

Setiap manusia pasti mempunyai pengharapan dan pengharapan itulah yang membuat hidup lebih berwarna. Terkadang suka, duka, tawa, dan tangis itu disebabkan salah satunya oleh pengharapan- pengharapan yang kita miliki. Pengharapan bagaikan jangkar untuk jiwa kita, kata Alkitab. Saya pribadi mendapatkan bahwa pengharapan itulah yang membuat seseorang tetap teguh dan tidak terombang-ambing oleh keadaan.

Pengharapan seperti apa itu? Pertanyaan sekarang, kepada siapakah kita letakkan pengharapan kita? Beberapa orang berkata, buat apa berharap, toh kalo tidak terjadi, nanti kecewa. Jadi jangan membuat harapan terlalu tinggi, nanti kalau tidak terwujud, kita akan kecewa. Pernyataan ini ada benarnya juga secara logika, tetapi sebenarnya ada unsur ketidakmengertian di situ. Saya juga pernah mengalami yang namanya berharap. Sampai suatu titik saya sadari, mengapa banyak harapan saya yang tidak terjadi? Kemudian ada kekecewaan karena tidak terjadinya harapan itu. Ujung-ujungnya saya berpikir, apakah lebih baik saya tidak usah berharap saja sekalian?

Ternyata jawabannya bukan mematikan pengharapan, namun kepada siapa kita letakkan pengharapan itu? Kepada sesuatu yang absolut atau sesuatu yang relatif? Suatu pengharapan akan kuat bila diletakkan di sesuatu yang absolut. Saya bisa berkata, lebih dari sesuatu, itu adalah Seorang Pribadi, yaitu Sang Empunya Hidup Kita, Tuan segala tuan, Raja segala raja, Bapa yang sejati. Kepada Dialah kita dapat meletakkan seluruh pengharapan-pengharapan kita.

Seseorang berkata kepada saya, “Jika kamu berharap, harapan-harapan itu bukan kamu letakkan di manusia, tetapi diserahkan ke Tuhan”. Itulah kuncinya. Pengharapan akan menjadi lebih indah dengan sentuhan surgawi, bukan manusiawi. Manusia adalah sesuatu yang relatif, bisa mengecewakan, tetapi Bapa tidak. Kesalahan kita adalah meletakkan harapan-harapan pada sesuatu yang relatif seperti manusia, harta, pekerjaan, atau kedudukan. Pada akhirnya kita kecewa dan mematikan pengharapan. Bukan, jawabannya bukan meniadakan pengharapan, tetapi meletakkannya di Tangan yang Benar.

Be blessed.. more to come..

Secarik #1

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Roma 11:36

Segala sesuatu adalah tentang Tuhan, bagaimana Dia berpikir, berkehendak, berkata, dan bertindak. Segala hal yang berhubungan dengan Dia, itulah yang menjadi inti dari segala sesuatu. Bahkan karya penebusan Yesus di kayu salib pun adalah berpusat kepada-Nya, bukan kepada manusia. Apalah kita ini, hanya seonggok debu yang dipandang-Nya begitu berharga, sehingga kita begitu diinginkan-Nya.

Menghadapi keadaan dan atmosfer yang berubah belakangan ini banyak membuat saya merenung dan berpikir. Sampai sedalam apa dan sampai setinggi apa Dia itu? Dia yang kita sembah, kita tinggikan setiap hari. Apa sebenarnya yang menjadi kerinduan hati-Nya? Apa yang terletak di jantung hati-Nya?

Mengapa manusia diciptakan? Mengapa kita ada di dunia ini? Saya pernah sempat berpikir kok saya bisa ada di dunia ini, dengan mata, hidung, telinga, dan indera yang lainnya. Mengapa saya hidup di jaman ini dan bukan jaman dulu atau masa depan? Apakah ada tubuh yang pernah saya diami beberapa abad yang lalu? Well, pertanyaan terakhir memang aneh, tetapi itulah yang ada di pikiran saya. Waktu saya dimuridkan, saya mendapat pernyataan bahwa manusia diciptakan sebagai sasaran kasih Allah. Oh betapa indah, bukan? Dia yang menciptakan kita dan melimpahkan kasih-Nya yang lebih luas dari samudera kepada kita. Inilah hati Tuhan yang saya kenal. Segala jalan-Nya adalah kasih, keadilan, dan kebaikan.

Kita sudah pernah mendengar tentang dosa, hukum Allah, dan kasih karunia yang dikerjakan Yesus di kayu salib. Yah, kita biasa mendengar itu semua dalam penginjilan, bahkan mungkin kita sudah sering sekali membagikan Injil. Tetapi untuk mengerti tentang kasih karunia sepenuhnya, membutuhkan waktu seumur hidup. Selalu ada hal yang baru yang Tuhan nyatakan untuk sasaran kasih-Nya. Pernahkah kita benar-benar merasa berdosa? Pernahkah kita benar-benar merasa terpuruk dan butuh pertolongan untuk keluar dari semuanya?

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Mungkin kita pernah merasa begitu terpuruk dan benar-benar butuh pertolongan Tuhan. Tetapi pernahkah kita merasa, dengan dosa-dosa yang kita perbuat itu, kita melanggar hukum Allah? Pernahkah kita merasa kita menghina hukum-Nya dengan dosa-dosa kita? Seperti Daud di Mazmur 51: 6 berkata “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.”

Bagi sebagian orang (dan pikiran saya waktu dulu), masalah dosa dan kesalahan terlihat horizontal, misalnya, jika saya membenci orang, saya punya dosa terhadap orang tersebut, atau misalnya jika saya melawan orangtua, saya berdosa terhadap orang tua saya. Namun setelah saya pikir sekarang, itu terlalu rendah untuk menjadi alasan seseorang bertobat. Saya berpikir dan merenung, wow, pasti Tuhan tersakiti pada waktu saya melakukan dosa. Pribadi yang Agung itu saya hina dengan perbuatan dosa dan nafsu saya. Mungkin bagi orang-orang yang terikat rokok, mereka berpikir harus bertobat karena itu rokok berbahaya untuk kesehatan, merugikan keluarga, menghabiskan duit, dan sebagainya. Namun pernahkah mereka berpikir bahwa perbuatan mereka itu menyakitkan hati Allah yang Maha Tinggi dan perbuatan sama seperti mengolok dan meludahi Yesus di kayu salib?

Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 2 Korintus 7:10

Betapa malangnya manusia, betapa malang! Dilahirkan dalam dosa, tanpa bisa memilihnya. Betapa celakanya manusia, kecenderungannya adalah dosa. Siapa yang bisa memilih untuk dilahirkan atau tidak? Siapa yang bisa memilih untuk lahir dalam dosa atau tidak? Oh how pathetic! Mungkin lebih baik kita menjadi kecoa yang hidup di selokan dan mati diinjak manusia tetapi tidak memiliki tabiat dosa, tidak berakhir dalam kekekalan neraka, dan tidak menyakiti Dia dengan dosa kita.

Tetapi syukur kepada Allah. Semuanya berpusat kepada-Nya. Ini bukan tentang kita, manusia. Dalam keterpurukan dan ketidakberdayaan kita dalam dosa, Dia datang sebagai Juruselamat. Menyelamatkan kita dari kematian kepada kehidupan. Membawa kita kepada kemuliaan-Nya. Jika kita mengerti betul hukuman apa yang akan datang, kita akan sangat menghargai salib. Jika kita paham benar kita ini diselamatkan dari apa, kita tidak akan main-main lagi dengan Dia.

Hukum-Nya dibuat supaya kita mengerti bagaimana standar Allah, apa itu dosa (Roma 7:7), dan melihat ketidakberdayaan kita memenuhi hukum itu. “I have found by long experience that the severest threatenings of the law of God have a prominent place in leading men to Christ. They must see themselves lost before they will cry for mercy; they’ll not escape danger until they see it.” – A.B. Earl. Injil tidak bisa dipisahkan dari Hukum Taurat. Justru hukum itulah yang secara sempurna menyegarkan jiwa-converting the soul (Mazmur 19:8). Dengan hukum itu saya tahu saya berdosa dan bersujud di kaki Yesus meminta pengampunan.

Itulah yang seharusnya benar-benar berharga bagi setiap orang. Yesus yang menyelamatkan dari kematian. Walaupun dianiaya, dicibir, dikucilkan, seseorang akan tetap bertahan kalau Dia menjadikan Yesus segala-galanya. Salib-Nya tidak ternilai, lebih tinggi dari semua apa yang bisa dunia capai.

Setelah lulus, saya memang minta ke Tuhan untuk menempatkan saya di Bandung, dengan beberapa alasan tertentu, seperti anak rohani dan perintisan kampus pengembangan. Dan kadang hal ini menjadi pergumulan sekarang. Pergumulan ini banyak membuat saya mencucurkan air mata, tetapi ketika saya ingat lagi apa yang Yesus sudah lakukan di kayu salib, semua pergumulan itu seolah-olah kecil dan terlihat kurang penting. Saya diingatkan kembali apa yang kekal dan benar-benar berharga. Seperti seseorang yang menjual seluruh harta miliknya untuk mendapat mutiara yang berharga. Saya kembali terduduk diam dan bersyukur bahwa saya diselamatkan dari hukuman kekal. Dan selalu ada alasan untuk bersyukur, dan bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga (Luk 10:20)

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? Amsal 20:6

Bagaimana untuk menjadi tetap setia sampai kepada akhirnya? Kita, manusia, tahu bahwa kemanusiawian kita tidak mampu melakukannya. Manusia adalah makhluk lemah, tak berdaya, bagaimana bisa kita punya kekuatan untuk tetap setia?

Looking away [from all that will distract] to Jesus, Who is the Leader and the Source of our faith [giving the first incentive for our belief] and is also its Finisher[bringing it to maturity and perfection]. He, for the joy [of obtaining the prize] that was set before Him, endured the cross, despising and ignoring the shame, and is now seated at the right hand of the throne of God. Hebrews 12:2 AMP

Seiring berjalannya waktu, saya banyak diajari Tuhan mengenai remuk hati dan hati yang lembek seperti plastisin yang mudah dibentuk. Sebenarnya untuk menjadi setia pun adalah kasih karunia Tuhan. Dialah yang mengawali, menjadi sumber dari iman kita dan yang mengakhirinya juga dengan kedewasaan dan kesempurnaan. Hmm jadi apa bagian kita? Bagian kita adalah mengikuti-Nya. Taat dan ikut kemanapun Dia membawa kita.

Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls. Matthew 11:29 NIV

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Ada satu lirik lagu berbunyi seperti ini,

“I will not boast in anything, no gifts, no power, no wisdom.

But I will boast in Jesus Christ, His death and resurrection”

Ada hal menarik di salah dua dari murid Yesus, Yohanes dan Petrus. Kita tahu Petrus memiliki karakter meledak-ledak, omong-doang, dan bersemangat. Kita mengetahui kasih manusiawinya pada Yesus yang mengatakan, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Pada akhirnya, ia menyangkal Yesus dengan sukses. Yohanes yang menyebut dirinya dalam kitabnya “murid yang dikasihi Yesus” memiliki pengertian yang luar biasa mengenai kasih Yesus terhadap dirinya. Pada akhirnya, Yohaneslah yang tetap bertahan pada saat Yesus disalib (Yoh 19:26-27).

Petrus membanggakan kasihnya kepada Yesus, dan dia gagal membuktikannya. Tetapi Yohanes membanggakan kasih Yesus kepadanya, sampai-sampai ia mengganti namanya dengan “murid yang dikasihi Yesus” di dalam kitabnya sendiri. Siapakah yang kita banggakan? Apakah kita membanggakan sesuatu yang ada di dalam diri kita? Kasih kita, kemampuan kita, ketaatan kita, kesetiaan kita? Ataukan Yesus dan kasih-Nya yang kita banggakan dalam kehidupan kita?

Segala sesuatu berpusat kepada Tuhan. Be blessed : )

Apakah Anda Produk Injil Murahan?

Disadur dari tulisan Bang Parlin – Sion

Pesan Injil sering dilunakkan untuk menjadi lebih popular dan lebih disukai banyak orang. Isu utama yang sering kali diangkat dalam pemberitaan Injil hari-hari ini adalah : ‘life enhancement’, bahwa Yesus Kristus datang kedalam hidup kita untuk membuat hidup kita bahagia, disembuhkan, penuh dengan berkat dan sukacita selama ada dibumi ini.

Isu utama dalam Injil bukanlah kebahagiaan tapi adalah pembenaran. Benar bahwa sukacita, kesembuhan dan berkat-berkat adalah pekerjaan dari kasih karunia yang sama tapi tidaklah tepat untuk menggunakan buah-buah ini sebagai isu utama untuk orang datang kepada Kristus. Isu yang utama adalah percaya kepada Yesus berarti keselamatan yang kekal, bahwa setiap orang akan mengalami kematian dan mereka yang percaya akan diselamatkan dari murka yang akan datang (Ibrani 9:27)

Coba pertimbangkan anekdot ini: “Dua orang ada dalam satu pesawat, si A diminta untuk menggunakan tas parasut dengan himbauan bahwa tas ini akan menambah kenikmatannya sepanjang perjalanan dalam pesawat –hence : life enhancement- . Dia ragu-ragu tapi dia mencobanya juga, siapa yang tidak mau tawaran yang baik spt ini pikirnya? . Sesudah dia pakai, dia perhatikan duduknya jadi kurang nyaman karena dia tidak bisa bersandar. Bukan hanya itu saja, ttp dia mulai melihat org-org lain dalam pesawat mulai menertawakan dia, karena: dalam pesawat kok pakai parasut ?, dia pahit dan kecewa, setelah itu dia buang tas itu dan tidak mau memakainya lagi.
Si B diminta menggunakan parasut dan diberitahu bahwa pesawat mengalami kerusakan sehingga sewaktu-waktu dia harus melompat dari pesawat itu. Dia tidak memperhatikan duduknya yang kurang nyaman – perhatiannya betul-betul tertuju kepada saat dimana dia harus melompat dari pesawat dengan parasutnya. Baginya menggunakan parasut adalah suatu keharusan. Ketika orang lain menghina dia karena memakai parasut: dia malah heran kenapa orang lain tidak menggunakan parasut? Apakah mereka tidak peduli akan nyawa mereka ? – begitu pikirnya”. Segala ketidaknyamanannya dalam menggunakan tas parasut itu di pesawat dia anggap sebagai kompensasi yang wajar untuk harga keselamatan nyawanya.”

Begitulah mereka yang dihimbau memakai ‘parasut Kristus’ untuk lebih banyak kebahagiaan didunia ini. Saat tekanan datang, penderitaan datang, aniaya datang karena imannya – dia segera akan meninggalkan Kristus. Keluhan akan terjadi konstan karena setiap hal yang salah dalam hidupnya disalahkannya kepada Tuhan. Bukankah Tuhan bekerja bagi kenikmatan saya ? Studi jelek, masalah keluarga, dll maka salahkan Tuhan – kok jadi seperti ini ikut Tuhan seru mereka.
Tapi mereka yang mendengar kabar Injil dan diberitahu bahwa manusia akan mati, dan api yang kekal akan menanti mereka yang tidak percaya Kristus akan bersyukur setiap hari u/jaminan hidup kekal itu. Tantangan dan aniaya adalah risiko wajar dari suatu iman yang memimpin mereka pada hidup yang kekal. Itu sebabnya rasul-rasul dan gereja mula-mula tidak takut untuk mati bagi Nama itu sementara hari ini sejumput uang bisa membeli iman seseorang.

Pendosapun juga bahagia dalam dosa-dosanya. Sebelum hati nurani merk makin mengeras, mereka memang akan cukup menderita dalam dosa. Setiap kali mereka melakukan itu, ada sesuatu dalam diri mereka yang menentang perbuatan dosa itu dan membuat mereka cukup menderita. Inilah hati nurani yang terganggu. Tapi setelah beberapa saat mengeraskan hati terhadap berkali-kali himbauan untuk pertobatan, maka hati nurani akan mengeras.

Yang salah akan kelihatan benar dan yang benar akan kelihatan salah. Seperti penduduk Niniwe yang tidak tahu membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Perbuatan dosa akan menjadi lebih nikmat, sekali-kali merk akan merasa kosong dan hampa, tapi hati yang keras itu seperti hati Firaun telah ditetapkan untuk kebinasaan. Pendosa yang keras hati seperti itu, bahagia akan dosa-dosanya – tapi tetap saja akan binasa tidak peduli betapa bahagianya pun mereka dengan dosanya.

Yak 2:9 , kita akan diyakinkan oleh Hukum Allah bahwa kita berdosa terhadap Allah. Dosa adalah yang paling utama pelanggaran kita terhadap hukum-hukum Allah. Kebanyakan orang tidak merasa berdosa, karena mereka yakini mereka baik terhadap orang lain, tidak menganggu hidup orang lain dsb. “Kan hidupku sendiri yang kurusakkan”, kata mereka. Tapi dosa adalah pelanggaran hukum-hukum Allah

Rom 7:7 What shall we say then? Is the law sin? God forbid. Nay, I had not known sin, but by the law: for I had not known lust, except the law had said, Thou shalt not covet.

Hukum Tuhan tidak membenarkan tapi menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Tidak menolong kita tapi hanya membuat kita merasa tidak berdaya sehingga kita melemparkan diri kepada kasih karunia Allah. Itulah fungsi Hukum Taurat.
Karena anda bersalah menurut Hukum Taurat, dan hukuman anda adalah kebinasaan, maka pesan Injil menjadi relevan. Kabar baik menjadi ‘kabar yang benar-benar baik’, setelah kita mengerti pelanggaran kita, betapa rusaknya kita dan betapa tidak berdayanya kita dalam dosa kita. Dan bahwa tanpa Kristus kita sedang menuju kebinasaan yang kekal.
KABAR BAIK adalah kabar baik apabila seseorang dibuat mengerti pelanggarannya dan hukuman kekal yang menantinya. Mereka yang puas akan Kalvari yang telah menyelamatkannya dari dosa dan penghukuman yang kekal tidak menuntut lebih banyak lagi tapi bahkan menjadi orang-orang yang rindu mengasihi Tuhan dan manusia lebih banyak lagi.

IT’S TIME TO DANCE (Saatnya Untuk Menari)

Oleh Julie Meyer

Sumber: freeevangelismcds.com

Julie Meyer

Kunjungan Julie Meyer: Julie Meyer adalah pemimpin puji-pujian pada International House of Prayer/Rumah Doa Internasional, di Kota Kansas sejak tahun 1999

Tuhan datang padaku dan berkata, “Ku-mau engkau bertemu sahabat-sahabat-Ku.”Saya bersukacita dan berpikir bahwa akan bertemu Yesaya, Yeremia, Petrus, Zacharia,Musa. Dia memegang tanganku dan kami pun terangkat terbang keliling langit, seperti film kartun loop to loop. Saya tak takut walaupun berada sangat tinggi dari tanah. Kami berkeliling dan dapat kurasakan terpaan angin lembut di wajahku. Dapat kurasakan tangan-Nya memegang tanganku dan sangat tinggi dari permukaan tanah dan senang merasakan angin pada wajahku. Saya tak takut, dan terus memegang tangan-Nya. Tiba-tiba kulihat wajah-Nya berubah. Dia menatap sesuatu pada bumi dan kamipun mulai menurun. Ku-pandangi Dia, pada wajah-Nya dan dapat kulihat mata-Nya, wajah yang penuh kepastian. (Yesaya 50:7 Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu).

Kuterus berpikir bahwa kami tak akan menabrak tanah, tetapikulihat wajah-Nya dan ada ketentuan pasti di wajah itu dan kurasakan sesuatu yang mengerikan muncul padaku, walaupun tangan-Nya kupegang. Kami tetap terbang menuju ke bumi dengan kepala tertuju ke tanah dan Dia terlihat seperti tak akan berbalik. Tiba-tiba kami menabrak dan masuk terus kedalam tanah. Kurasakan gumpalan. Seperti menonton film aksi. Dapat kudengar suara meledak disekeliling kami seperti suara saat berdiri disamping pesawat roket yang siap meluncur. Sangat memekakkan. Kami masuk tembus ke bumi dan wajah Tuhan tak pernah menoleh ke kanan atau ke kiri; sangat pasti, kedepan. Dapat kulihat dengan mataku saat mendekat ke bumi,menabrak tanah dan ledakan itu saat kami melaluinya. Dapat kulihat bumi, batu, air, api yang bernyala dan kurasakan seperti tersengat dan kulit ku seperti terbakar. Saya sungguh merasakan batu-batu dan bumi yang merobek kulitku seolah-olah terjadi padaku. Dapat kurasakan kesakitan yang sangat dalam mimpiku.

Starving ChildrenTiba-tiba kami menembus keluar bumi dan berada ditempat lain. Saya berdiri disana dan kulihat tubuhku yang terkelupas, kulitku terkelupas, dan sangat menderita karenanya, tetapi semuanya itu bukan tentang saya. Yesus memandangku, dekat pada wajahku, mata dengan mata, dan Dia berkata, “Kumau engkau bertemu teman-teman-Ku.”

Saya menangis kesakitan. Dan berpikir pasti Dia akan mengerti betapa sakit kulitku yang terluka dan terkelupas, tetapi Dia tidak melakukannya. Kulihat sekelilingku dan kulihat tempat yang ramai. Saya tak pernah berada disana sebelumnya, namun kutahu tempat itu India. Bau yang menyebalkan dan banyak orang dimana-mana ,saya mengikuti Tuhan. Dia tak menoleh padaku. Seolah-olah IA mau aku merasakan kesakitan dan luka pada kulitku. Banyak anak-anak yang kulihat disana sini.

Ada anak-anak perempuan cantik terkurung dan Tuhan sertai mereka masing-masing. Dia hanya berdiri disana bersama mereka. Mereka di dunia merekalah yang Tuhan sebutkan sahabat-sahabat-Nya. Kulihat anak-anak kecil terbaring di tanah dengan lalat-lalat pada kulitnya, dan kulihat mereka meninggal saat di kehidupan yang keji ini dan saat terbangun, Tuhan pun ada disana, bagi tiap-tiap mereka, Dia ada disana. Dari mereka yang terlupakan dimata-Nya, tak satupun.

Sedih kulihat, bersamaan dengan rasa sakit di tubuhku,membuatku menangis. Tuhan berdiri di hadapanku, kupikir pasti Ia mengenaiku saat ini, Ia pasti melihat penderitaanku, namun Ia berkata, “Sampai hatimu terluka dan tersayat seperti dagingmu saat ini, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku.” Saya tak sanggup. Berada disana melihat anak-anak meninggal, ibu-ibu yang menarik nafas terakhir, penyakit-penyakit menyebar, dan anak-anak perempuan kecil dijual dan Tuhan terus menerus berkata, “Sampai hatimu terluka dan tersayat seperti dagingmu saat ini, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku. Engkau tak mengenal-Ku”.Lalu saya tenggelam dalam tangisan, kejutan terjadi, Tuhan memandang wajahku, mata bertemu mata lalu berbisik, “Saatnya untuk menari.” Ia berbicara seperti itulah senjata rahasia-Nya, Menari…

Tuhan menari, kaki-Nya dihentakkan. Kaki sempurna yang menyatakan luka-luka kematian dan kehidupan sedang menari dengan ritmenya, detak suku-suku, Kaki-Nya menghentak ketidakadilan. Tarian yang sangat dahsyat dan hentakan kaki yang pernah kusaksikan. Menonton Tuhan sendiri, bekas luka oleh pengasihan menari di atas ketidakadilan atas sahabat sahabat-Nya. Ia berkata,”Sampai hati-mu terluka dan tersayat menjadi dua,kau tak kenal sahabat-sahabat-Ku. kau
tak mengenal-Ku.”
Aborted Babies Lalu tanganku dipegang dan kami pergi menuju pusat bumi, kurasakan sakit pada kulitku dan kulit yang terkelupas serta daging yang tersayat dari tulangku dan suara ledakan saat kami melalui bumi. Tiba-tiba kami berada di ruangan Dokter di RS. Awal pikiranku adalah sakit tubuhku. Aku merasa seperti tak ada kulit pada tulangku, seperti semuanya terkelupas. Dia berkata,”Kumau kau temui sahabat-sahabat-Ku.” Kulihat tempat sampah terisi bayi-bayi mungil. Dapat kulihat kepala dan tangan dan kaki-kaki mungil mengisi tempat-tempat sampah. Beberapa masih hidup dan bergerak, kulitnya terbakar, beberapa kepala diantara mereka hancur, beberapa lagi utuh, mata terbuka dan menatap. Saya terkejut. Tuhan menatapku dan berkata,”Sampai hatimu terluka dan tersayat seperti dagingmu, kau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku, inilah sahabat-sahabat-Ku. Merekalah sahabat-sahabat-Ku.”

Saya melihat saat bayi dipegang melalui kakinya dan dibuang pada tempat sampah, bayi utuh. Dapat kurasakan pikiran Tuhan.

“Oh kesunyian di bumi, mereka terlihat seperti dilupakan. ENGKAU TAK DILUPAKAN! ENGKAU TAK TERLUPAKAN! ENGKAU TAK TERLUPAKAN!”

Sunyi di bumi, namun suara mereka terdengar di telinga sang Bapa, Allah Maha Tinggi. Jeritannya tak terhenti di koridor Surga. Terdengar pagi dan malam, malam dan pagi, tangisan mereka MENARIK PERHATIAN SURGA. SELURUH PERHATIAN TERTUJU PADA MEREKA, telinga ALLAH MAHA TINGGI. Saya menjerit. “KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU. KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU Engle ! KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU!” Kulihat di koridor Surga dan bahwa nama Lou Engle dikenal. Lou kenal sahabat-sahabat Tuhan. Kudengar tangisan bayi-bayi terus-menerus melalui koridor Surga, terlihat hening di bumi, yang terlupakan oleh bumi, namun tangisan mereka mendapat telinga Bapa dan pagi dan malam serta malam dan pagi menangis bagi keadilan di bumi, menangis bagi keadilan mereka yang telah mengambil kehidupannya. namun…..di seberang sana MEREKA BERSUARA!!! Pagi dan malam serta malam dan pagi…..menangis akan keadilan di bumi……dan MEREKA mendapat TELINGA SANG BAPA! Dan lagi, Tuhan memandangiku dan berkata, “Sampai hatimu terluka dan tersayat seperti dagingmu saat ini, kau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku, kau tak mengenal-Ku.”

Saya menangis lalu Tuhan memandangku, dekat di wajahku, dan berbisik, “Saatnya untuk menari.” Dia memulai “Tarian Baru” dengan kaki yang sempurna yang telah menapak bagian bumi tertinggi, sekarang kaki-kaki tersebut menari dan berdetak, tepat di antara Klinik pengguguran bayi. Sangat dahsyat. Di saat saya sangat terluka Tuhan akan berkata,”Saatnya untuk menari.Saatnya untuk berperang, menari ialah berperang.” Dia mendetakkan kaki, dengan ritme baru, detakan kaki-Nya. Bukan dua langka, hanya mendetakkan kaki pengadilan akan ketidakadilan, dengan kaki-Nya sendiriIah Berkata, “Hanya nantikan saja hingga seluruh bumi bergabung dengan-Ku dalam tarian ini, beberapa telah bergabung dengan-Ku dan Aku membuka undangan namun engkau hanya menari saat hatimu sangat terluka dan tersayat.”

Lalu Ia datang pada-ku dan berkata, “Aku-mau engkau bertemu beberapa dari sahabat-sahabat-Ku.” Dan kami pun pergi melewati pertengahan bumi, lagi-lagi. Saya hampir tak dapat berdiri. Hatiku hancur. Kulitku tersayat. Kulihat kebawah dan terlihat seperti kejatuhan bom disampingku. Kami berjalan di jalan yang sangat, sangat ramai. Dia berjalan didepanku sedang saya dalam kesakitan yang sangat, ingin sekali agar Ia berjalan perlahan, namun bukan mengenaiku. Dia mau saya merasakan penderitaan, sebab Ia mau hatiku MENGENAL penderitaan, memeluknya dan memilikinya sebagai milikku. Dia menungguku berjalan disamping-Nya. Tempat ini Israel. Saat yang lain kulihat Dia menyondong pada seseorang, seolah-olah berkata,”Hello” atau “Syalom”. Dia tak berbicara, hanya menyondongkan kepala. Dia memandang mata mereka dan menyondongkan kepala-Nya dan kulihat orang yang didatangi-Nya, mata mereka membesar. Kulihat juga hati mereka dan kulihat nyala terang. Hanya sesaat, Yesus membuka hati mereka dan mereka dapat MELIHAT DIA, sebagai Yesus, Mesias. Saya dapat melihat ke dalam mereka saat kami berjalan di jalan Yerusalem di saat dimana tiba-tiba mata hati mereka dibuka oleh Tuhan dan nyala terang mulai bersinar dalam hati mereka.

Beberapa orang diantara mereka aku tahu mempunyai wewenang, pemimpin-pemimpin Yahudi dalam golongan Yahudi – Rabbi-Rabbi. Dapat kulihat sejenak Tuhan membuka mata mereka; Kulihat Tuhan menampakkan diri-Nya. Dia menampakkan diri-Nya kepada beberapa Rabbi-Rabbi di daerah itu, dan hanya dalam sekejap, Api penglihatan ini mulai membakar hati mereka, dalam sekejap mata hati mereka terbuka. (Mazmur 102:17 Bila Tuhan sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya.)

Kami mengikuti Rabbi-Rabbi ini kekamar atas mereka dan saya melihat mereka jatuh berlutut dan menangis, “Ini merubah SEMUANYA. Ini merubah SEMUANYA.” Saya dapat melihat Tuhan berdiri dan meniup api dalam hati mereka dan sedikit demi sedikit mulai menyala tak terkendali . Saya melihat api dalam hati mereka menjadi seperti ‘Api yang menutup kulit mereka.” Kulihat api ini terus menyala hingga hari yang ditentukan tiba saat Rabbi-Rabbi ini tak dapat menahan lagi dan mereka akan berteriak di atas gunung-gunung,

“Yeshua adalah Mesias”……YESHUA ADALAH MESIAS!”
Saya sebenarnya sedang berpikir bagaimana kami berdoa dalam kumpulan doa kami di Kota Kansas, bahwa Tuhan Yesus akan muncul, dalam kemuliaan-Nya. Dia sungguh-sungguh mulia.

Wailing WallSaya menoleh dan saat pertama kali kupandang wajah Yesus dan air mata yang jatuh di pipi-Nya dan kudengar IA berkata, “Oh Yerusalem, Oh Yerusalem.” kurasakan di hatiku belas kasihan dan cinta yang dimiliki-Nya bagi Israel. Dan kurasakan sakit hati kekasih itu ketika tak ada yang mencintai-Nya sebagaimana Cinta-Nya pada Israel dan Ia memandangku, dan berkata lagi, “Sampai hati-mu terluka dan tersayat, sama seperti kulitmu,engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku.Engkau tak mengenal-Ku.” Dalam hatiku Kurasakan cinta-Nya yang mendalam bagi Israel. Seperti Yakub mencintai Rahel, Elkana mencintai Hana, namun belas kasih-Nya menyeluruh lebih dari cinta alami. Saya menangis dan air mataku membasahi luka di dagingku, walaupun demikian saya tak dapat berhenti saat saya berpikir bahwa saya tak sanggup lagi, dan terjatuh di lantai, Dia berbisik, “Saatnya untuk menari.”

Tiba-tiba kami berada di tembok duka dan Tuhan memulai lagi, hentakan kaki, menghentak, ritme ini, tarian ini dengan kaki sempurna-Nya, tak pernah kulihat sebelumnya. Selalu terjadi pada saat saya merasa terluka dan berduka Tuhan akan berkata, “Saatnya untuk menari.” Saya dapat merasakan kehadiran Kuasa dan Kuasa tarian ini, menari karena ketidakadilan. Oh alangkah indahnya menyaksikan saat Anak Allah menari dengan kaki sempurna berputar dan berdansa atas ketidakadilan. Yesus terus mengatakan, “Saatnya untuk menari. Saatnya untuk menari.” Ada tarian baru yang muncul, yang muncul pada saat kita menyembah-Nya dan hati kita bagi bumi yang hina ini, bagi mereka yang terlupakan, namun yang disebut Tuhan sahabat-sahabat-Nya dan saat hati kita sungguh hancur, SAAT ITULAH saat menari. Oh alangkah indahnya saat RAJA segala raja, Hakim seluruh bumi dan kaki sempurna yang berbekas luka pengasihan, mulai berdansa dan menghentakkan ketidakadilan. Sebuah tarian bermakna. Hentakkan kaki bermakna! Saatnya menari. Dan kutahu dalam mimpiku dimana kami berjalan di Yerusalem, terus ke atas puncak tembok duka, dimana Ia memulai tarian-Nya. Saya tahu bahwa Ia telah menampakkan diri-Nya pada, Orang-orang penting dalam golongan Yahudi, bahkan Rabi tertinggi dalam golongan Yahudi, di tengah-tengah tarian-Nya, kulihat mata mereka terbuka. Dapat kulihat ke dalam hati. Hati mereka mulai bergejolak. Kulihat Tuhan menaruh dalam hati mereka, “pengenalan” bahwa Dialah Mesias itu. Saatnya telah pasti ketika Rabi-Rabi tertinggi ditentukan di bumi, waktu Tuhan – Dia akan mengaduk hati mereka dan hati mereka akan bergejolak dan mereka berlari ketempat tertinggi di Yerusalem dan berseru keseluruh Yerusalem, Yeshua adalah Mesias. Yeshua ADALAH MESIAS!

Diberkatilah Dia yang datang dalam Nama Tuhan. Saat ini, mereka menyembunyikan-Nya dan menanyakan diri mereka sendiri jika hal itu sungguh-sungguh terjadi. Telah ditentukan saatnya dan hari-hari ke depan, Dia sedang menampakkan diri-Nya dan membuka mata hati manusia dan menyalakan api dalam tulang-tulang itu. Kulihat Rabi-Rabi ini melonjak dengan Firman Tuhan, menyatakan penampakan-Nya. Sedang terjadi. Saatnya telah ditentukan. Sedang terjadi hari ini.


Yeremia 20:9

Tetapi apabila Aku berpikir, “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan Firman lagi demi nama-Nya,”maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku.

Kemudian, Tuhan berkata lagi,”Sampai hatimu tersayat dua dan hatimu terbelah dua, seperti dagingmu, engkau tak
mengenal sahabat-sahabat-Ku.”

Saatnya untuk menari!

>>>more to come,,,