Never Worry About

neverworry

Advertisements

True Freedom

So if the Son liberates you [makes you free men], then you are reallyย andย unquestionably free. John 8:36

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Galatia 5:1

Apakah maksudnya merdeka? Dan bagaimana sih kemerdekaan sejati itu? Belakangan ini ada banyak pihak yang mengajarkan saya what the true freedom is. Saya ambil dua ayat alkitab di atas.

Kita sering berpikir, kebebasan atau kemerdekaan itu adalah saat dimana kita punya banyak kesempatan dan bebas melakukan sesuatu semau-maunya kita. Apakah Tuhan mau kita melakukan segala sesuatu semau-maunya ? Saya rasa tidak. Dia bukan Tuhan yang membiarkan kita mengambil jalan sesuka hati kita.

So, what kind of freedom that God wants for us?

Suatu hari, di saat lagi berdoa bareng dengan Mas Alit (we usually pray together every Sunday), dia share mengenai sesuatu, yaitu tentang kemerdekaan. Yang saya tangkap kira-kira seperti ini. Di dalam Kristus, kita merdeka. Kalo kita merdeka, kita bisa dengan bebas mengasihi orang lain, merdeka untuk mengasihi orang, merdeka untuk memberi, merdeka untuk berkorban, dan merdeka untuk melakukan firman Tuhan. Oh oke, pikiran saya baru terbuka, tetapi saya belum sepenuhnya mengerti. Merdekanya dimana kalo begitu?

Terus saya inget ada ayat ini.

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Matius 10:39

Dalam kekristenan, prinsip utama berjuang adalah ketika kita berserah. Kita kuat ketika kita berserah dan melepaskan segala sesuatu alias tidak terikat oleh apapun. Kemudian, tiba-tiba saya dapat hubungannya. Kemerdekaan dan melepaskan sesuatu. Jadi kemerdekaan di dalam Kristus adalah ketika kita tidak terikat oleh apapun. Hmm, this is interesting. Let me tell you more..

Apa yang terjadi jika kita memberi hadiah ulang tahun kepada teman kita, tetapi di dalam pikiran kita, kita berharap waktu ultah kita nanti, teman kita akan memberi hadiah yg serupa bahkan lebih bagus? Atau apa yang terjadi bila kita berkorban untuk seseorang, tetapi di pikiran kita, kita mengharapkan sesuatu dari teman kita itu karena kita berkorban? Apa yang terjadi bila kita memberi tetapi berharap menerima? Ujung-ujungnya semua hal baik yang kita lakukan hanyalah untuk mendapat upah, dan ujung-ujungnya itu kembali ke diri kita sendiri. Hmm selfish juga ya kalo dipikir-pikir.

Nah disinilah letaknya kemerdekaan. Kemerdekaan yang dimaksud adalah kita merdeka untuk mengasihi tanpa berpikir balasan apa yang kita akan terima, kita bebas memberi tanpa terintimidasi oleh apa kata orang lain, kita bebas berkorban tanpa harus terbeban dengan masa lalu. Seringkali apabila kita berpikir mengenai reward atau balasan yang akan kita dapat, kita jadi gak merdeka untuk memberi dan mengasihi. Atau seringkali, ada pengalaman-pengalaman atau trauma yang membuat kita jadi ga bebas untuk mengasihi, terbuka, berdoa dan percaya kepada Tuhan. Hal-hal tersebut membuat kita jadi ga merdeka. Pikiran-pikiran mengenai apa kata orang, apakah saya terlihat baik atau buruk di hadapan orang lain ketika saya berbuat sesuatu yang baik, hal itu membuat kita jadi tidak merdeka. Ketika kita mau mengasihi, tetapi itu terhambat karena ada sakit hati atau kita berharap imbalan, hal itu juga bukan kemerdekaan.

Just let it go! If you want to love, love freely. If you want to give, give it freely. Justru yang membuat tersiksa adalah ketika kita mau memberi supaya kita juga diberi, ada pikiran-pikiran yang menghalangi kita. Lebih enak kalo kita memberi, ya berikan saja :)ย Saya menemukan suatu statement yang bagus.

Work like you don’t need the money
Dance like no one is watching
Sing like no one is listening
Love like you’ve never been hurt and
live life every day as if it were your last

We’ve received the freedom in Christ, soย do not let yourselves be burdened again by a yoke of slavery. Be free, be healed!

February Random

I got some really “something” picture from HJ Story and I think they are very sweet and some of his pictures reflect my life at the present time. Thanks God for these moments :)

patience

Thanks for being so patient these time

jacket

Thanks for this moment

dunnowhattodo

:p

wakeup
For waking me up

nomeat

Well, it happened with coffee and instant noodle, wahaa

overcomeobstacle

Overcoming problems together

laughingtogether

Laughing together

pickmeup

By the grace of God, we can support each other
gift
jake

Thank You and thank you :)

Special Promises

We got these in the beginning of this year. Praise God!

Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak. Ibrani 6:14

Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Kisah Para Rasul 3:25

 

Orang Seberang

Cerpen oleh Alit Dewanto, Favourite Winner Short Writing Competition at Level Lip Ice-Selsun Awards 2008 by Rohto Lab Indonesie

Tak akan kusangkan akan ada pertanyaan seperti ini. Aku seperti tak akan pernah memastikan jawabannya. Kususuri karang Pantai Nunsui, berharap akan bertemu seorang kawan disana. Pantai yang sangat indah, di kota yang sangat indah pula.Berbagai pengalaman terajut di sini.

Tiada seorang kawan pun ternyata. Sendiri, aku menatap debur ombak, silih berganti. Kecil namun konsisten dalam menunjukkan eksistensinya. Kugaruk sejumlah pasir dengan ibu jariku. Kutuliskan uneg-unegku. Kutumpahkan semua pada Pantai Nunsui ini. Belum genap sehari, aku bersama Nare dan Ted berburu kerang di sini, memanggangnya bersama-sama. Sungguh menyenangkan. Aku tahu sekarang mereka sedang pulang ke kampung halaman masing-masing sambil menunggu pengumuman kelulusan.

Kupang, aku sama sekali tak pernah berniat untuk meninggalkanmu. Hati kecilku berbicara bahwa engkaulah kotaku, meski bukan tempat kelahiranku, meski bukan pula tempatku dibesarkan oleh kedua orang tuaku. Tak apalah, keputusan akan segera dibuat.

Aku kembali memusatkan perhatianku kepada deburan ombak di sana. Tak akan ada tsunami di sini, guyonku pendek. Deburan ini mengingatkanku saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke kota ini. Begitu sampai, pemandangan laut yang sangat bersih, tersaji begitu stabil. Aku ingat pula suguhan sopii (minuman khas kota Kupang, beralkohol, dibuat dari beras) yang dianggap sangat biasa, sama sekali tak lazim di daerah kelahiranku. Menu makanan yang hampir ada setiap harinya ikan, apa saja jenisnya. Secara pribadi, aku sangat menggemari ikan raja dan ikan dusun.

Tetapi aku sudah bermupakat dengan diriku sendiri bahwa Pantai Nunsui inilah yang begitu terberkas di sanubariku. Pasir putih dan karang-karang terjalnya begitu tertata dengan uniknya. Andai saja seluruh keluargaku tinggal di sini. Argh, kurang bersyukur aku ini.

***

Pakdhe meninggal. Entah ini merupakan hari kesedihan, hari kebahagiaan bagiku, atau malah sekaligus keduanya. Seluruh sanak famili hadir, termasuk Kak Fung sekeluarga. Optimisme memang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Bagiku, itu sebuah pelajaran yang berarti. Jangan terlalu optimis sekarang, wejangku pada diriku sendiri.

Aku gagal diterima di sebuah STM negeri yang cukup diminati banyak orang. Aku sudah mencoba mencari alternatif-alternatif STM lainnya di kota yang sama. Pendaftaran negeri serentak menutup pintunya sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pasrah, aku menanti nasib. Aku belum melupakan Dyas, kakakku. Dia mengalami hal yang sama denganku tahun lalu. Terlalu optimis ialah kunci kegagalannya. Cita-citanya musnah karena hal tersebut.

Saat ini, aku hanya duduk termangu. Di sampingku terdapat beberapa berkas pendaftaran untuk beberapa STM swasta. Bapak sangat tidak menyarankan aku menerimanya. Aku pun menimbang hal ini. Sangat tidak bijak, jauh-jauh datang ke kota, hanya belajar di sekolah kacangan.Terlintas pula untuk menganggur selama setahun, mencoba lagi tahun depan. Tapi, kupikir itu sangat mustahil. Aku tak mau memberatkan dan memalukan kedua orang tuaku.

Sambil kusandarkan kepalaku di sofa belakang, kuserup segelas air putih. Rasanya lega sekali. Tamu-tamu sudah banyak berdatangan untuk melayat Pakdhe. Tugasku saat ini hanyalah menjaga kotak sumbangan. Kuamati jarum jam yang hampir menggenapkan dirinya dia angaka sepuluh. Masih belum siang. Tiba-tiba aku dikagetkan suara Bapak.

“San, ke sini sebentar. Kak Fung ingin bicara denganmu sebentar.” Panggil beliau. Aku menangkap kesan prihatin dari ucapan tersebut, entah bagaimana.

Tanpa ada minat khusus, aku berjalan menuju teras depan. Kak Fung sedang duduk di depan menyanggami beberapa tamu. Aku sudah menitipkan kotak
sumbangan kepada salah satu anak karang taruna.

” Maaf. Kak Fung mau bicara sama saya?” sapaku mendekat padanya.

Kak Fung hanya tersenyum melihat kedatanganku. Seperti biasa, aku jarang dapat mengartikan rona wajahnya. Dia begiu misterius, bagiku. Tidak seperti kakak-kakak sepupuku yang lain. Mungkin ini karena aku jarang bertemu dengannya. Dia menyulut sebatang rokok. Sejenak dia menghembuskan napasnya panjang-panjang. Aku sedikit gugup.

” San, kata Oom, kamu belum mendapatkan sekolah. Dan dengar-dengar pula dari beliau kalau kamu ingin melanjutkan ke STM.”

Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dia kembali bermonolog.

” Aku ingin menawarkanmu untuk bersekolah di STM yang sekarang kupimpin. Masalahnya: letaknya di Kupang. Bagaimana pendapatmu?”

Aku tak mampu menyembunyikan kebingunganku, antara senang atau sedih. Aku tahu sekarang ini Kak Fung memang menjabat sebagai seorang kepala sekolah STM di kota Kupang. Kupang… Kupang. Mengapa harus Kupang? Bila aku menerimanya tentu saja aku akan berpisah dengan keluargaku, jauh sekali. Tiga tahun, sampai aku tamat mungkin. Ya, selama itu aku tak akan bersua dengan mereka, jika aku menerima tawaran ini. Tapi, aku juga tak tahu, bagaimana kalau aku tak menerima tawaran ini. Wah, aku kalut sekali.

Lama kupandangi kursi sewaan di depanku. Aku tak bisa menggeser sedikitpun dari kedudukanku. Kuhela napas. Ya, aku bersiap memberi jawaban.

” Baik, Kak. Saya terima tawarannya.” putusku.

***

Entah apa namanya, yang jelas aku sangat menyukainya. Di kemudian hari, aku baru tahu kalau namanya jagung bose. Gurih, sedikit manis rasanya. Perlu sekitar dua hari untuk membuatnya, dan hanya muncul setiap perayaan atau pesta saja, misal pernikahan. Makanan ini terbuat dari jagung yang dihaluskan, kemudian direndam dalam rempah-rempah, dibungkus dengan daun pisang, lalu dipanggang. Setiap pesta, aku selalu menunggu-nunggu makanan ini.

” Bagaimana San, apa keputusanmu?” tanya seorang pria di dekatku.

Jujur, aku sama sekali tak mengharapkan pertanyaan itu. Ini sebuah keputusan yang sulit. Aku tak ingin tergesa-gesa mengabarkan hasil rapat antara hati dan otakku. Kuserup sisa kopi sabu (sejenis kopi tradisional yang sering dibuat oleh Suku Sabu, biasanya tinggal di daerah Flores) yang dibawanya dari kampung.

” Aku pasti akan mengabarkan kepada kalian.”

Aku sama sekali tak pernah berniat menyembunyikan perasaanku kepada Nare. Dia sudah lebih dari seorang saudara bagiku. Dia kelihatan tak begitu berangasan lagi setelah pulang dari pulau Flores.

Kututup mataku sejenak. Sebenarnya, aku sangat merindukan kembali berkumpul dengan keluargaku di tanah Jawa. Kembali aku mengingat bagaimana harmonis dan indahya keluarga kami. Sehari sebelum keberangkatanku ke kota Kupang, kutegaskan kepada mereka bahwa aku tak akan pulang sebelum berhasil. Memang terlihat sangat idealis, tetapi aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku. Mungkin, dulu aku agak terbawa emosi ‘anak lulusan SMP yang hampir putus harapan’.

” Tetapi kamu pasti pulang ke Jawa kan?” tanyanya memastikan.

” Kalau itu, tentu saja. Aku akan pulang untuk bertemu dengan keluargaku.” Aku sudah menabung sejak pertama kali aku bersekolah di sini. Aku memang disekolahkan oleh Budhe. Setiap bulan, beliau mengirimiku uang. Kutabung sebagian untuk membeli tiket kapal pulang ke Jawa. Kurasa sekarang lebih dari cukup.

” Lakukanlah apa yang terbaik menurutmu, San. Jangan lupa berdoa untuk pergumulanmu ini. Dia pasti akan membukakan jalan.” ceramah Ted, yang berdiri di belakang pundakku. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dari dulu, memang
dia yang berbakat di bidang rohani. Kami kembali terhanyut oleh suasana pesta. Terdengar sayup-sayup seseorang mendendangkan salah satu lagu dari The Canberrias.

” Baiklah, malam ini juga aku akan berdoa,” balasku. Tuhan, aku yakin Engkau akan menolongku, pintaku dalam hati.

***

” Lulusan terbaik STM Prawiyatna Kupang, jurusan Teknik Mesin Otomotif. Satu, Ihsan Oktoranto. Dua,…” Pembawa acara sedang membacakan pengumuman. Aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, kontan kawan-kawan di sebelahku beramai-ramai mengangkat tanganya, memelukku, menubrukku, menggoyang-goyang tubuhku. Entah selebrasi macam apa yang mereka kehendaki.

Tak ada rasa spesial di hatiku. Dari awal sampai akhir, aku hampir selalu menjadi yang terbaik di jurusan. Padahal semasa bersekolah di Jawa, predikat tiga besar pun belum pernah kucicipi. Di sini, persaingan sangat tidak merata. Dan cukup mudah bagiku, tentu saja. Apalagi, posisiku adalah adik sepupu dari kepala sekolahnya. Aku hanya terbahak dalam hati.

Di akhir acara, Kak Fung menarik tanganku, menuju ke kantornya. Aku pun menurut saja. Jelas dia akan menyampaikan sesuatu yang penting lagi. Sampai sekarang pun, aku masih belum terbiasa dengan karakternya. Pertama-tama, jelas dia mengucapkan selamat atas prestasiku di sekolah.

” Kedua, aku ingin menyampaikan beberapa opsi yang patut kamu pertimbangkan.” Dia meletakkan rokoknya di atas asbak. ” Kamu sekarang sudah lulus. Ketika aku menawarkan sekolah di Kupang, kamu tak mempunyai pilihan lain sehingga mau-tidak mau kamu harus menerimanya. Tetapi, sekarang kamu memiliki beberapa pilihan.”

Dia mulai memperbaiki tempat duduknya. Meskipun statusnya ialah kakak
sepupuku, tetapi kami berrselisih dua puluh lima tahun. Wajar kalau dia
menganggap dirinya sebagai orang tuaku di sini. Anak tertuanya bahan dua tahun
lebih tua dariku.

” Setelah ini, kamu akan pulang ke Jawa. Kamu sudah berencana untuk meneruskan kuliah diploma. Kamu bisa tetap melanjutkan di sini atau bisa pula melanjutkan ke Jawa, tetap dengan biaya Budhe. Hanya kamu bisa lebh dekat dengan keluargamu kalau kamu memilih kuliah di Jawa.”

Aku sudah paham ke arah mana pembicaraan ini sebelumnya. Seminggu aku telah menggumulkan masalah ini. Kupang. Di sinilah, karakterku semakin terbentuk. Di sinilah, sahabat-sahabat sejatiku muncul. Di sinilah, berbagai kenangan menyatu beradu dengan jiwaku. Sulit, sangat sulit, untuk meninggalkan begitu saja. Lagipula, aku lebih cocok menetap di sini. Aku termasuk salah satu siswa yang unggul sehingga bisa mempermudah akses. Inilah jalan yang akan kumanfaatkan. Lagipula satu-satunya politeknik negeri di sini sudah menawarkan program beasiswa kepadaku. Sangat sayang apabila dilewatkan begitu saja. Berbeda dengan Jawa yang menuntut persaingan yang snagat ketat.

” Ya, Kak. Saya sudah memikirkannya jauh hari. Saya akan pulang ke Jawa untuk bertemu dengan keluarga.” Aku menghela napas. ” Dan, akan kembali ke Kupang lagi untuk melanjutkan kuliah.” tambahku.

” Kamu yakin?”

” Saya sudah berhasil meyakinkan diri saya sendiri. Bapak-Ibu pasti akan mendukung keputusan saya ini. Saya akan berkarir di sini nantinya,” jawabku tegas.

Kak Fung terlihat melorotkan tubunhya ke kursi. Entah terkejut atau senang akan keputusanku ini. Wajahku menjadi semakin kerut.

” Baiklah. Kamu sudah bertekad dalam hal ini. Secara pribadi, aku sangat bangga akan keputusanmu. Ini menunjukkan kedewasaanmu selama ini.” Dia berdiri dan berjalan menuju teras kantor, mungkin sekedar menghirup udara segar. Belum sampai lima langkah dia berbalik dan berkata, ” Jangan lupa kamu sudah menjadi orang seberang sekarang.”

***

Akhirnya, sampai juga aku ke tanah kelahiranku. Bertransportasi via kapal sangatlah melelahkan. Selama tiga hari ini kuhitung, aku sudah berganti kapal sebanyak empat kali dan bus kota sebanyak tigak kali. Itupun belum terhitung taksi dan angkuta umum yang kugunakan dari pelabuhan menuju terminal bus.

Aku berjalan menyusuri kampung yang pernah menjadi saksi masa kecilku. Terlihat sebuah rumah sederhana, dilengkapi sebuah warung di depannya. Masih seperti dulu, ujarku dalam hati. Kutahan napas dan emosiku ketika mulai memasuki pekarangannya. Warung masih buka, dijaga oleh adikku yang paling tua. Aku berdiri memandangnya. Sekarang dia berusia sepuluh tahun, kuhitung dalam hati. Ya, salah satu alasanku kembali ialah melihat kedua adikku. Mereka
merupakan motivsi utamaku dalam mengerjakan segala hal. Tertama untuk merekalah, aku harus segera bekerja. Akulah yang nantinya akan membiayai sekolah mereka. Tugas ini tentunya sangat berat. Oleh karena itu, harus segera pulalah persiapan yang kujalani.

Dia terlihat ketakukan, meski akhirnya angkat suara, ” Mas, mau beli apa?”

Aku hanya tersenyum, memandanganya. Tiga tahun ternyata membuahkan perubahan yang besar pada diriku. Dia terlihat sangat ketakuan, mungkin karena tidak mendapatkan respon yang diharapkan. Dia berlari masuk, mendapatkan Bapak. Bapak pun keluar. Beliau sudah semakin tua, hampir mencapai kepala enam.

” Maaf. Anda siapa ya?” Beliau kelihatan sangat bingung menatapku. Lidahku sedikit kelu menjawabnya.

” Aku Ihsan, Pak.”

” Insan.” jerit beliau cukup kencang.

Sontak beliau memelukku, erat sekali seakan tak akan pernah lepas dari genggamannya lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyaksikan Bapak menangis sesenggukan. Wajahku dirabanya seakan-akan beliau tidak memercayai bahwa inilah aku. Aku paham akan ini. Selam tiga tahun, aku hanya sekali berhubungan telepon, dan sekali berkirim surat. Aksesnya sangat tebatas dan tidak ekonomis.

” Dek, Insan pulang.” teriak beliau kepada Ibu.

Ibu yang sedang berada di dapur langsung berlari terbirit-birit, kemudian menubrukku, mendekapku, sambil menangis penuh arti. Aku menyongsongnya sangat hangat. Beliau bahkan sampai rela menjinjitkan kakinya untuk bisa mengecupku. Berulang kali. Beliau berkali-kali melihat wajahku, mengelus pipiku. Hanya tangis yang ada. Akhirnya, kami berkumpul lagi.

Setelah emosi reda, aku menceritakan segala pergumulanku, tanpa ada rahasia sedikitpun. Mereka menerimanya dengan lapang dada, mendukungku. Aku bukan berarti dianggap sebagai anak hilang. Memang inilah jalan yang terbaik untuk masa depanku.

“Ya. Aku telah menjadi orang seberang.” kataku menirukan ucapan Kak Fung, mengakhiri pembicaraan.