nostalgia

February Random

I got some really “something” picture from HJ Story and I think they are very sweet and some of his pictures reflect my life at the present time. Thanks God for these moments :)

patience

Thanks for being so patient these time

jacket

Thanks for this moment

dunnowhattodo

:p

wakeup
For waking me up

nomeat

Well, it happened with coffee and instant noodle, wahaa

overcomeobstacle

Overcoming problems together

laughingtogether

Laughing together

pickmeup

By the grace of God, we can support each other
gift
jake

Thank You and thank you :)

Advertisements

Belajar Lagu Klasik dengan Tidak Klasik

Saya ternyata pernah belajar main lagu klasik dengan keyboard, hohoho (sedikit bangga). Waktu saya masih SMP, saya punya keyboard di rumah bermerk Yamaha, tapi saya lupa tipenya apa. Keyboard itu rencananya dibelikan mama saya supaya saya dan adik saya bisa menyalurkan bakat musiknya, selain itu keyboard itu juga dibeli untuk mendukung les keyboard adik saya. Sementara saya ngga pernah les musik. Jadi saya main keyboard-nya ga pake teknik.

Waktu itu saya suka sekali sama keyboard itu. Hampir semua lagu yang saya pernah denger saya cariin nadanya pake keyboard. Mulai dari lagu pengamen sampai lagu soundtrack film. Iseng-iseng gitu, siapa tahu saya berbakat main keyboard :D Kadang- kadang saya suka ngebayangin saya lagi konser piano tunggal (haha, maaf agak norak).

Bersama keyboard Yamaha ini, ada buku musiknya, yang isinya adalah tak lain dan tak bukan toge-toge yang menggantung yang terhubung satu sama lain alias partitur (hehe). Kebanyakan yang ada toge-togenya itu adalah musik klasik.

Ini dia toge-toge yang kyut dan imut hahahaha..

Bandingkan dengan ini..

Bentuknya mirip kan? Wkwkwk..

Di dalem keyboard-nya sendiri ada semacam tutorial untuk belajar beberapa lagu. Banyak banget genre lagu yang dijadikan tutorial di keyboard saya ini. Tapi yang paling saya SUKA adalah musik klasik :”> Saya suka sekali musik klasik yang ada di keyboard saya itu. Ada beberapa lagu klasik yang saya ingat. Ada Prelude (Bach), Turkish March (Mozart), Fur Elise & Marcia alla Turca (Beethoven), Petit Chien & Nocturne (Chopin), Dolly’s Dreaming and Awakening (T. Oesten), Arabesque yang versi cepet, dan The Entertainer (Joplin). Trus ada lagi yang di disket yaitu lagu Romance de Amor.

Hampir tiap hari saya main keyboard dan tiap hari saya mendengarkan lagu klasik itu. Lama-lama timbul keinginan di dalam hati saya untuk belajar lagu-lagu klasik itu. Hmm kelihatannya susah, mengingat saya ngga punya basic apa-apa buat main keyboard, apalagi musik klasik. Namun tekad saya sudah bulat (lebay!)

Pelajaran dimulai dari lagu Turkish March. Lagunya enak banget dan enerjik. Saya paling suka lagu ini di keyboard. Lalu saya mulai mempelajarinya dengan melihat tuts-tuts yang dipencet di keyboard dengan memperlambat temponya. Hahaha.. Benar-benar cara yang ga banget (menurut saya). Jadi setiap hari waktu itu, saya mempelajari tuts-tuts apa aja yang dipencet, yang buat tangan kanan dan tangan kiri. Akhirnya  singkat cerita, saya waktu itu bisa memainkan lagu Turkish March dengan lumayan cepet sesuai tempo aslinya (prok prok prok). Haha rasanya bangga pisan..

Ini lho lagu Turkish March pakai piano

Dari sekian panjang lagunya, saya cuma bisa sampai 00:43 di video di atas. Selebihnya.. susaahhh hahahahah.. Dengan belajar dengan cara yang ga klasik gitu, ngelanjutinnya jadi susaah pisan :D

Lagu selanjutnya yang saya pelajari yaitu Fur Elise (Beethoven). Lagu ini agak terkenal. Jadi gini, awalnya saya gak tertarik buat belajar lagu Fur Elise, soalnya susah dan sepertinya butuh jari yang panjang untuk memainkannya. Mengingat jari saya cilik-cilik dan bantet, jadi saya mengurung niat saya.

Sampai pada suatu hari, saya ikutan lomba se-Jawa Barat yang mengharuskan pesertanya menunjukkan bakat. Lombanya 5 hari dan nginep di hotel. Saya waktu itu emang mau main keyboard, tapi lagunya cupu. Auld Lang Syne (lagu tahun baru). Mana waktu ditampilkan, saya gugup lagi, jadi salah-salah di bagian akhir, wkwk..duh..

Oke, cukup OOT-nya. Jadi, di lomba itu, saya ketemu sama peserta lain yang menunjukkan bakat dengan main keyboard juga. Dan waktu di kamar, dia memainkan lagu Fur Elise.. WAOOWW.. keren banget. Semua peserta lain terpana memandangnya. Maklum waktu itu, kami masi SMP, jadi seolah-olah hal itu hebat banget.. hehe.

Jadi mulailah saya belajar lagu Fur Elise dengan cara yang tidak klasik tadi. Tanpa mengetahui toge-togenya, saya belajar dengan mengikuti tutorial di keyboard. Tentunya dengan memperlambat temponya :p

Saya ingat waktu itu saya belajar lagu Fur Elise dengan penuh perjuangan. Mengingat setiap tuts yang ditekan (bukan melihat partiturnya) dan mengulang-ulangnya. Saya ingat waktu itu, mama saya lagi nyapu bersihin rumah, sementara saya di kamar yang terkunci pintunya dengan keyboard saya. Hanya kami berdua. Tidak ada yang lain.

Pada akhirnya, di hari itu juga, saya berhasil menguasai lagu Fur Elise (bangga). Walaupun masih agak lambat, tapi udah ketahuanlah lagu apa yang saya mainin. Saya keluar kamar dengan berkeringat dan berdebu. Dengan cara yang ngga klasik banget ini, saya bisa menguasai lagu dengan main keyboard.

Singkat cerita, dengan teknik yang ga klasik itu saya berhasil menguasai beberapa lagu lain, seperti Dolly’s Dreaming and Awakening, The Entertainer, Petit Chien, Nocturne, dan Romance de Amor (dengan keyboard). Yah, tentu saja, lagu-lagunya ga selesai semua (hehe, malu). Kalo ga salah, cuma Romance de Amor aja yang tuntas, soalnya saya keburu pengen belajar lagu yang lain.

Hmm, kalo diingat-ingat, saya dulu niatnya gede banget. Oh ya, waktu itu ada semacam pentas seni di SMP saya. Ada seorang teman saya yang main keyboard, sebut saja Geri. Geri adalah pemain keyboard yang handal di SMP saya. Waktu senggang, saya meminjam keyboard dari Geri dan memainkan lagu andalan saya. Teman-teman yang lain waktu itu pada kagum sama saya (hehe). Trus ada yang nanya,

Juli, bisa baca partitur dong?

Kontan saja saya senyum, nyengir, dan berkata, “Kalo baca partitur aku ga bisa. hehe..”

Hahaha. Saya ga bisa baca partitur tapi bisa main beberapa lagu klasik. Gara-gara latihan saya yang kelihatannya ga klasik itu. hehehe..

Beberapa tahun kemudian, karena keyboard-nya udah jarang dipake lagi, keyboardnya dijual deh :( Sayang banget, padahal keyboard Yamaha itu jadi benda bersejarah buat saya, hehehe. Tapi memang karena jarang dipake dan berdebu, akhirnya keluarga saya memutuskan untuk menjual keyboard itu.

——-

Kalau mengingat masa lalu saya itu, luar biasa rasanya. Sepertinya dulu, niat saya besar sekali untuk bisa memainkan lagu klasik di keyboard. Satu hal yang saya bisa ambil di sini, seringkali kita menunggu diri kita untuk memiliki sesuatu untuk bisa melakukan sesuatu. Misalnya (kalo berhubungan dengan pengalaman saya), kita nunggu bisa les musik untuk bisa belajar musik. Padahal kalo kita memang punya passion dan niat yang kuat untuk melakukan sesuatu, kita pasti akan segera mengerjakannya.

Seorang teman saya pernah bilang, perbedaannya jauh sekali antara keinginan dan tindakan. Contoh yang sederhana, kita sekarang ingin sekali belajar, tetapi ga ada tindakan untuk belajar. Hal itu sangat jauh sekali perbedaannya dengan orang yang mengambil tindakan belajar. Jauhnya bagai langit dan bumi.

Ada 3 ekor kucing di atap gedung yang ingin sekali untuk terjun ke bawah. Berapakah kucing yang ada di atas gedung? Jawabannya tetap 3, karena kucing-kucing itu hanya punya keinginan. Hanya punya niat saja.

>>>more to come,,,

TERNYATA MANADO-CHINA…

Waktu kecil tu saya bingung, saya ni orang suku apa. Hahaha.. abisnya di keluarga saya nggak terlihat kegiatan yang mendukung suku bangsa tertentu..

Ayah saya berasal dari kota Malang. Jadi setiap pulang kampung, kami sekeluarga juga suka ke kota Malang. Di Malang, saudara- saudara saya semua pake bahasa Jawa en logatnya juga Jawa…

Wah, saya pikir, keren juga nih bahasa,, rada gaul gitu (pikiran anak SD).. Mulai saat itu, saya belajar logat dan bahasa Jawa. Walaupun yang saya dapat sedikit, tapi saya bangga banget bisa bahasa Jawa. Semangat nasionalisme saya pun tumbuh.

Trus waktu balik ke Bandung, saya pake tuh bahasa ke teman- teman, sama logat-logatnya, padahal secara di Bandung gitu lho.. untungnya ada yang bisa juga… wkwwkwkwk..

Nah, kalo ibu saya itu kampungnya di Banjarmasin, cuman beberapa tahun belakangan jadi pindah ke Surabaya. Wah, di sini bahasanya lebih dahsyat lagi… hahaha… makin smangat deh saya blajar bahasa Banjarmasin. Logatnya juga oke punya. Unik. Antik. Artistik.

LAMPIRAN : KAMUS SINGKAT BAHASA BANJARMASIN – BAHASA INDONESIA

(untuk sekedar tahu aja.. ini bahasa yang biasa saya pakai sama saudara- saudara saya)

bujur : benar

bulik : pulang

guring : tidur

handak : mau

ikam : kamu

kada : tidak / nggak

kawa : bisa

kena : nanti

kereda : tidak ada / euweuh

munyak : dasar! (mengumpat gitu)

rongkang : berlubang

tukar : beli

unda : saya

Jadi waktu itu, waktu kelas 5 SD, pas pelajaran geografi kalo ngga salah, guru saya nanya saya suku bangsa saya apa..

Lalu saya jawab, “ Jawa – Kalimantan, Pak!”

Dan orang- orang menyangka saya itu orang Dayak – Jawa. Saya juga agak ngerasa aneh..

WEW

Setelah beberapa lama, saya baru dikasihtau kalo ayah saya itu orang Manado dan ibu saya keturunan Tionghoa (China). Jahhhh..

Pantesan kalo kunjungan ke rumah saudara ibu saya, saya suka dikasih angpau.. hahahahaha… (panen gitu deh)

Wah, kalo saya pikir- pikir, saya banyak juga campurannya. BLASTERAN gitu (kayak kucing aja ih !)

Oia… Kombaitan itu salah satu fam Manado…

Sampai sekarang, bahasa Manado yang saya tau cuma 1, yaitu ngana yang artinya kamu.

Krikkrikkrikkrik…

Parah banget deh.. hehehe

Yang lebih parah lagi, saya ga kenal dan ga pernah ketemu saudara- saudara saya yang di Manado.

Yang lebih lebih parah lagi, saya ngga pernah ke Manado !

Yang tiga kali lebih parah lagi, ayah saya juga ngga pernah ke Manado…

Iya sih, secara, ayah saya lahirnya di kota Malang, besar di Malang…

Malangnya ga pernah ke Manado…..

>>>> more to come ,,,,,,,,,