GOD

Never Worry About

neverworry

Advertisements

Special Promises

We got these in the beginning of this year. Praise God!

Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak. Ibrani 6:14

Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Kisah Para Rasul 3:25

 

Hubungan dengan Saudara Seiman di Dalam Kristus

Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib membelah tabir pemisah antara manusia dan Allah. Betapa Allah rindu akan pulihnya suatu hubungan. Allah adalah Kesatuan yang sempurna yang merupakan Kasih.

Matius 5:22-24

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Berdasarkan ayat di atas, hubungan lebih penting dari pelayanan yang kasat mata. Allah rindu setiap umatnya dipulihkan dalam hal hubungan. Alangkah menyedihkannya jika seseorang berkata bahwa ia mengasihi Tuhan tetapi ia membenci saudaranya (1 Yohanes 4:20)

Teladan Jemaat Mula-mula dalam Perjanjian Baru

Jemaat mula-mula merupakan teladan yang luar biasa mengenai kesatuan hati (Kisah Para Rasul 2:46-47). Mereka berkumpul setiap hari dan bersatu hati. Di ayat 27, setelah dijelaskan mengenai kesatuan, ada tertulis

“..Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Artinya Allah bekerja dengan leluasa di dalam kesatuan. Dengan kata lain, Allah akan lebih mempercayakan jiwa kepada kumpulan orang-orang percaya yang bersatu hati.

Dalam 1 Tesalonika 3, Paulus rindu untuk mengunjungi jemaat-jemaat Tesalonika. Paulus adalah rasul besar di dalam alkitab. Paulus memiliki hati untuk jemaatnya. Dalam suatu hubungan, penting untuk memiliki hati untuk saudara-saudara kita. Hati inilah yang membedakan orang-orang yang sungguh-sungguh peduli dengan yang tidak. Orang yang memiliki hati untuk sesamanya tidak akan cepat menyerah, tidak turun naik dalam mengasihi, dan sabar menanggung segala sesuatu.

Paulus berkata, “Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.” (1 Tesalonika 3:8). Paulus menyadari bahwa seorang kepala tidak bisa berbuat apa-apa tanpa tubuh. Kepala membutuhkan tubuh, begitu pun tubuh, tubuh juga membutuhkan kepala. Tidak ada yang bisa berjalan sendiri-sendiri di sini. Semuanya saling membutuhkan. Kesombonganlah yang membuat seseorang merasa kuat dan tidak butuh siapapun.

Kesatuan/kesepakatan

Kesatuan memiliki kekuatan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah kisah Menara Babel, dimana manusia dengan kekuatannya berusaha membuat satu bangsa dan satu bahasa (Kejadian 11). Sampai-sampai Tuhan harus turun tangan mengatasi ini, betapa dahsyatnya persatuan. Hal lain mengenai kesatuan dikemukakan Yesus di Matius 12:25-26

Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?

Kesatuan begitu dahsyat kekuatannya dan inilah bagian yang sering diserang di Gereja Tuhan. Adanya benih perpecahan, rasa saling tidak percaya, mencurigai satu sama lain, dan kepahitan membuat Gereja tidak maksimal dalam menjalankan panggilannya. Iblis tahu di celah mana dia menyerang anak-anak Tuhan. Untuk itu, kita perlu memandang penting kesatuan Tubuh Kristus dan waspada terhadap perpecahan. Kenakanlah Kristus sebagai pengikat kita bersama.

Kesatuan itu bekerja di dalam aliran. Maksudnya, kesatuan itu dihasilkan dari kasih yang terus menerus mengalir. Jika kita mengasihi seseorang dan berharap orang itu mengasihi kita kembali, itu artinya tidak mengalir. Lepaskanlah kasih itu, alirkan dengan murah dengan tidak mengharapkan imbalannya.

Hal-hal yang berhubungan dengan hubungan dengan sesama di dalam Kristus:

1. Keterbukaan (1 Yohanes 1:7, Yakobus 5:16)

Sifat Allah adalah terang dan di dalam terang tidak ada yang tersembunyi. Keterbukaan membuka jalan untuk pemulihan. Keterbukaan dapat menutupi celah-celah yang bisa dipakai iblis untuk menyerang kita. Allah ingin anak-anak-Nya hidup di dalam terang, jujur, tulus, apa adanya, dan tidak memakai topeng.

Dalam persekutuan Kristen sejati, kita tidak perlu berusaha menutup-nutupi kekurangan-kekurangan kita. Kita dapat bersikap jujur dan terbuka karena kita berada di antara orang-orang yang juga mengalami realita pengampunan Tuhan. Secara manusiawi, tidak mudah untuk hidup jujur dan saling terbuka. Hal ini disebabkan oleh kesombongan, iri hati, kuatir, curiga dan kebencian terhadap orang lain. Hanya Roh Kudus yang dapat menolong kita hidup untuk dalam terang – Bertumbuh dalam Kristus

Tentu saja, kita tidak terbuka ke semua orang, tetapi hanya kepada orang-orang yang memiliki akuntabilitas dan tanggungjawab atas hidup kita. Dengan keterbukaan, akan terbuka jalan untuk saling mendoakan dan menjagai satu sama lain.

2. Menasihati/menegur (Matius 18:15-20)

Menasihati/menegur sesama saudara diperlukan dalam proses pertumbuhan karena di dalam sebuah proses bersama pasti terdapat gesekan (Amsal 27:17). Oleh karena itu perlu menyelesaikan persoalan hubungan dengan saudara seiman dengan mengacu pada Firman Tuhan. Prinsip Firman Tuhan adalah menegur secara empat mata pertama kali. Ketika ada persoalan dalam hal hubungan, jangan langsung di “floor” kan di forum besar supaya orang yang lemah imannya tidak menjadi tambah lemah dan tidak terjadi distorsi cerita atau gosip di pelayanan. Selain itu, bereskanlah konflik sesegera mungkin (Efesus 4:26). Sebenarnya perselisihan antara anak Tuhan adalah hal yang tidak perlu. Hal ini menghabiskan banyak energi, pikiran, dan emosi. Segeralah bereskan dan buanglah beban yang merintangi.

Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati. (Amsal 13:18)

Jika kita ditegur, artinya kita dicintai. Seringkali seseorang merasa teguran itu adalah penghinaan baginya, sebetulnya tidak begitu. Respon kita jika menerima teguran seharusnya berterimakasih, tidak reaktif, dan menginginkan perbaikan diri. Jika memang ada klarifikasi, lakukanlah, dan mintalah maaf :) Jika kita ingin menegur seseorang, kita harus ingat bahwa dosanyalah yang kita benci, bukan orangnya. Artinya kasihi orangnya, tetapi benci dosanya, bukan benci orangnya. Berikanlah usulan/ solusi/ perbaikan dan jangan memakai kata-kata penghakiman, seperti, “Kamu selalu… kamu tidak pernah…”

3. Pengampunan (Matius 18:21-35)

Pengampunan bukanlah hal yang sulit jika dilakukan dengan kasih karunia. Kita akan lebih mudah mengampuni jika kita tahu kita juga diampuni banyak oleh Tuhan. Kasih tidak mengingat kesalahan orang lain. Mintalah kepada Allah supaya kita memiliki hati yang luas dan mudah “melepas”. Jika ada orang yang menyakiti kita, kita tidak menyimpan kesalahannya dalam hati kita, tetapi melepaskannya. Menyimpan akar pahit kepada siapapun akan merusak kehidupan kita dan menghambat pertumbuhan kita. Hal ini bisa diibaratkan seperti layang-layang yang terbang tinggi, tetapi layang-layang ini hanya bisa pergi sebatas panjang benangnya, tidak bisa lebih jauh lagi. Akar pahit dapat menghambat rencana Tuhan dalam hidup kita dan membuat kita tidak maksimal. Percayalah firman, lakukan, berantas akar pahit, dan ambillah keputusan untuk mengampuni orang yang bersalah pada kita.

Ada hal menarik dalam cerita penangkapan Yesus di taman Getsemani. Pada waktu Yesus akan ditangkap, Petrus dengan reaktif memotong telinga Malkhus dengan pedang, kemudian Yesus menyembuhkan telinga Malkhus. Cerita ini ditulis dalam keempat Injil, artinya ada sesuatu yang mau Tuhan katakan untuk kita. Sebagian besar orang mengira dia akan pulih dari sakit hatinya kalau orang yang menyakitinya minta maaf dan melakukan setimpal dengan apa yang dia harapkan. Akibatnya kita menjadi orang yang suka menuntut dan sukar mengampuni. Tuhan berkata, terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Artinya kita tidak bisa mengharapkan manusia yang menjadi penyembuh luka kita. Kalau manusia bisa menyembuhkan luka, Malkhus akan datang ke Petrus dan dia akan disembuhkan. Namun pada kenyataannya Petrus tidak bisa menyembuhkan Malkhus, tetapi Yesuslah yang menyembuhkannya. Segala luka hanya bisa disembuhkan oleh Yesus, manusia tidak bisa menyembuhkannya. Kesalahan kita adalah mengharapkan orang lain untuk menjadi penyembuh luka kita. Arahkahlah pengharapan dan kesembuhan kita pada Yesus. Ketika kita melihat Yesus, kita akan dapat mengampuni dan dipulihkan.

4. Penghakiman dan Tuntutan (Matius 7:1-5)

Apa yang kita lakukan ketika saudara kita jatuh? Atau misalnya pemimpin kita jatuh ke dalam dosa? Sebagian orang akan bersikap menghakimi dan memandang sinis orang tersebut. Apa yang Allah lakukan ketika melihat anak-anak-Nya jatuh?

Penghakiman seringkali menghinggapi orang-orang yang sudah lama ikut Tuhan atau memiliki banyak pengetahuan akan Firman. Yesus melarang penghakiman, sebab kita tidak punya hak untuk menghakimi. Penghakiman erat kaitannya dengan sikap menuntut. Ada seseorang yang selalu menuntut setiap orang. Orang-orang yang suka menuntut berkata, “Harusnya dia seperti itu, seperti ini, harusnya dia tahu itu” dan sebagainya. Penghakiman dan tuntutan membuka jalan untuk kepahitan. Sadarlah bahwa di hadapan Tuhan, kita semua sama, ditebus dengan darah yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah daripada yang lain. Allah menerima kita apa adanya, kita pun harus menerima orang lain apa adanya. Beranilah untuk melepaskan penuntutan, dan miliki kerelaan berkorban untuk saudara seiman.

Love bears up under anything and everything that comes, is ever ready to believe the best of every person, it hopes and fadeless under all circumstances, and it endures everything [without weakening] – 1 Corinthians 13:7 Amplified Bible

Kasih adalah pengikat persatuan. Kasih percaya yang terbaik di dalam diri setiap orang. Ayat di atas adalah kasih Allah kepada kita. Dia percaya yang terbaik dari setiap kita. Jika kita mengasihi seseorang, kita akan percaya yang terbaik dari dirinya sebagaimanapun dirinya pada masa sekarang.

Be blessed. All glory and honor belong to God :)

Gloria

Gloria in excelsis Deo, yang artinya “Glory to God in the highest” (keren banget artinya).

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2012, 2011 akan berakhir. Merayakan Natal sudah menjadi seperti kebiasaan setiap tahun. Saking terbiasanya, saya menganggap Natal itu biasa saja. Yang asyik hanyalah perubahan suasana dari pernak-pernik natal, kue-kue, dan lagu-lagu.

Jujur saya, saya lebih suka Paskah ketimbang Natal, karena beberapa alasan. Yang pertama, saya banyak menemui bahwa natal itu lebih berkaitan dengan hedonisme daripada Tuhan Yesus sendiri. Di banyak negara, natal identik dengan party, holiday, dan hedonisme. Banyak gereja juga yang menghabiskan duitnya untuk perayaan natal besar-besaran. Yang kedua, gereja saya tidak merayakan natal, karena setahu saya, natal tidak tercatat di Alkitab untuk dirayakan, tetapi untuk Paskah, Tuhan menyuruh bangsa Israel untuk merayakan Paskah.

Namun cerita ini belum berakhir.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar pernyataan dari gembala saya di pelayanan mahasiswa. Itu membuka wawasan saya tentang natal. Beliau berkata, “semangat natal adalah semangat misi”. Artinya tidak ada pengorbanan Yesus di kayu salib kalau Dia tidak lahir ke dunia. Kedatangan Yesus ke dunia saja merupakan kesukaan besar bagi seluruh dunia. Kedatangan orang-orang yang membawa kabar baik ke suatu tempat adalah suatu sukacita bagi tempat tersebut, kedatangannya saja lho! Kedatangan orang yang membawa Injil ke kampus-kampus adalah sukacita besar bagi kampus-kampus.

Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik! Roma 10:15

Jadi tidak ada Paskah kalau tidak ada Natal. Tidak ada kematian dan kebangkitan Yesus kalau tidak ada kelahiran Yesus.

 

Merry Joyous Christmas!

Secarik #1

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Roma 11:36

Segala sesuatu adalah tentang Tuhan, bagaimana Dia berpikir, berkehendak, berkata, dan bertindak. Segala hal yang berhubungan dengan Dia, itulah yang menjadi inti dari segala sesuatu. Bahkan karya penebusan Yesus di kayu salib pun adalah berpusat kepada-Nya, bukan kepada manusia. Apalah kita ini, hanya seonggok debu yang dipandang-Nya begitu berharga, sehingga kita begitu diinginkan-Nya.

Menghadapi keadaan dan atmosfer yang berubah belakangan ini banyak membuat saya merenung dan berpikir. Sampai sedalam apa dan sampai setinggi apa Dia itu? Dia yang kita sembah, kita tinggikan setiap hari. Apa sebenarnya yang menjadi kerinduan hati-Nya? Apa yang terletak di jantung hati-Nya?

Mengapa manusia diciptakan? Mengapa kita ada di dunia ini? Saya pernah sempat berpikir kok saya bisa ada di dunia ini, dengan mata, hidung, telinga, dan indera yang lainnya. Mengapa saya hidup di jaman ini dan bukan jaman dulu atau masa depan? Apakah ada tubuh yang pernah saya diami beberapa abad yang lalu? Well, pertanyaan terakhir memang aneh, tetapi itulah yang ada di pikiran saya. Waktu saya dimuridkan, saya mendapat pernyataan bahwa manusia diciptakan sebagai sasaran kasih Allah. Oh betapa indah, bukan? Dia yang menciptakan kita dan melimpahkan kasih-Nya yang lebih luas dari samudera kepada kita. Inilah hati Tuhan yang saya kenal. Segala jalan-Nya adalah kasih, keadilan, dan kebaikan.

Kita sudah pernah mendengar tentang dosa, hukum Allah, dan kasih karunia yang dikerjakan Yesus di kayu salib. Yah, kita biasa mendengar itu semua dalam penginjilan, bahkan mungkin kita sudah sering sekali membagikan Injil. Tetapi untuk mengerti tentang kasih karunia sepenuhnya, membutuhkan waktu seumur hidup. Selalu ada hal yang baru yang Tuhan nyatakan untuk sasaran kasih-Nya. Pernahkah kita benar-benar merasa berdosa? Pernahkah kita benar-benar merasa terpuruk dan butuh pertolongan untuk keluar dari semuanya?

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Mungkin kita pernah merasa begitu terpuruk dan benar-benar butuh pertolongan Tuhan. Tetapi pernahkah kita merasa, dengan dosa-dosa yang kita perbuat itu, kita melanggar hukum Allah? Pernahkah kita merasa kita menghina hukum-Nya dengan dosa-dosa kita? Seperti Daud di Mazmur 51: 6 berkata “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.”

Bagi sebagian orang (dan pikiran saya waktu dulu), masalah dosa dan kesalahan terlihat horizontal, misalnya, jika saya membenci orang, saya punya dosa terhadap orang tersebut, atau misalnya jika saya melawan orangtua, saya berdosa terhadap orang tua saya. Namun setelah saya pikir sekarang, itu terlalu rendah untuk menjadi alasan seseorang bertobat. Saya berpikir dan merenung, wow, pasti Tuhan tersakiti pada waktu saya melakukan dosa. Pribadi yang Agung itu saya hina dengan perbuatan dosa dan nafsu saya. Mungkin bagi orang-orang yang terikat rokok, mereka berpikir harus bertobat karena itu rokok berbahaya untuk kesehatan, merugikan keluarga, menghabiskan duit, dan sebagainya. Namun pernahkah mereka berpikir bahwa perbuatan mereka itu menyakitkan hati Allah yang Maha Tinggi dan perbuatan sama seperti mengolok dan meludahi Yesus di kayu salib?

Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 2 Korintus 7:10

Betapa malangnya manusia, betapa malang! Dilahirkan dalam dosa, tanpa bisa memilihnya. Betapa celakanya manusia, kecenderungannya adalah dosa. Siapa yang bisa memilih untuk dilahirkan atau tidak? Siapa yang bisa memilih untuk lahir dalam dosa atau tidak? Oh how pathetic! Mungkin lebih baik kita menjadi kecoa yang hidup di selokan dan mati diinjak manusia tetapi tidak memiliki tabiat dosa, tidak berakhir dalam kekekalan neraka, dan tidak menyakiti Dia dengan dosa kita.

Tetapi syukur kepada Allah. Semuanya berpusat kepada-Nya. Ini bukan tentang kita, manusia. Dalam keterpurukan dan ketidakberdayaan kita dalam dosa, Dia datang sebagai Juruselamat. Menyelamatkan kita dari kematian kepada kehidupan. Membawa kita kepada kemuliaan-Nya. Jika kita mengerti betul hukuman apa yang akan datang, kita akan sangat menghargai salib. Jika kita paham benar kita ini diselamatkan dari apa, kita tidak akan main-main lagi dengan Dia.

Hukum-Nya dibuat supaya kita mengerti bagaimana standar Allah, apa itu dosa (Roma 7:7), dan melihat ketidakberdayaan kita memenuhi hukum itu. “I have found by long experience that the severest threatenings of the law of God have a prominent place in leading men to Christ. They must see themselves lost before they will cry for mercy; they’ll not escape danger until they see it.” – A.B. Earl. Injil tidak bisa dipisahkan dari Hukum Taurat. Justru hukum itulah yang secara sempurna menyegarkan jiwa-converting the soul (Mazmur 19:8). Dengan hukum itu saya tahu saya berdosa dan bersujud di kaki Yesus meminta pengampunan.

Itulah yang seharusnya benar-benar berharga bagi setiap orang. Yesus yang menyelamatkan dari kematian. Walaupun dianiaya, dicibir, dikucilkan, seseorang akan tetap bertahan kalau Dia menjadikan Yesus segala-galanya. Salib-Nya tidak ternilai, lebih tinggi dari semua apa yang bisa dunia capai.

Setelah lulus, saya memang minta ke Tuhan untuk menempatkan saya di Bandung, dengan beberapa alasan tertentu, seperti anak rohani dan perintisan kampus pengembangan. Dan kadang hal ini menjadi pergumulan sekarang. Pergumulan ini banyak membuat saya mencucurkan air mata, tetapi ketika saya ingat lagi apa yang Yesus sudah lakukan di kayu salib, semua pergumulan itu seolah-olah kecil dan terlihat kurang penting. Saya diingatkan kembali apa yang kekal dan benar-benar berharga. Seperti seseorang yang menjual seluruh harta miliknya untuk mendapat mutiara yang berharga. Saya kembali terduduk diam dan bersyukur bahwa saya diselamatkan dari hukuman kekal. Dan selalu ada alasan untuk bersyukur, dan bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga (Luk 10:20)

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? Amsal 20:6

Bagaimana untuk menjadi tetap setia sampai kepada akhirnya? Kita, manusia, tahu bahwa kemanusiawian kita tidak mampu melakukannya. Manusia adalah makhluk lemah, tak berdaya, bagaimana bisa kita punya kekuatan untuk tetap setia?

Looking away [from all that will distract] to Jesus, Who is the Leader and the Source of our faith [giving the first incentive for our belief] and is also its Finisher[bringing it to maturity and perfection]. He, for the joy [of obtaining the prize] that was set before Him, endured the cross, despising and ignoring the shame, and is now seated at the right hand of the throne of God. Hebrews 12:2 AMP

Seiring berjalannya waktu, saya banyak diajari Tuhan mengenai remuk hati dan hati yang lembek seperti plastisin yang mudah dibentuk. Sebenarnya untuk menjadi setia pun adalah kasih karunia Tuhan. Dialah yang mengawali, menjadi sumber dari iman kita dan yang mengakhirinya juga dengan kedewasaan dan kesempurnaan. Hmm jadi apa bagian kita? Bagian kita adalah mengikuti-Nya. Taat dan ikut kemanapun Dia membawa kita.

Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls. Matthew 11:29 NIV

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Ada satu lirik lagu berbunyi seperti ini,

“I will not boast in anything, no gifts, no power, no wisdom.

But I will boast in Jesus Christ, His death and resurrection”

Ada hal menarik di salah dua dari murid Yesus, Yohanes dan Petrus. Kita tahu Petrus memiliki karakter meledak-ledak, omong-doang, dan bersemangat. Kita mengetahui kasih manusiawinya pada Yesus yang mengatakan, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Pada akhirnya, ia menyangkal Yesus dengan sukses. Yohanes yang menyebut dirinya dalam kitabnya “murid yang dikasihi Yesus” memiliki pengertian yang luar biasa mengenai kasih Yesus terhadap dirinya. Pada akhirnya, Yohaneslah yang tetap bertahan pada saat Yesus disalib (Yoh 19:26-27).

Petrus membanggakan kasihnya kepada Yesus, dan dia gagal membuktikannya. Tetapi Yohanes membanggakan kasih Yesus kepadanya, sampai-sampai ia mengganti namanya dengan “murid yang dikasihi Yesus” di dalam kitabnya sendiri. Siapakah yang kita banggakan? Apakah kita membanggakan sesuatu yang ada di dalam diri kita? Kasih kita, kemampuan kita, ketaatan kita, kesetiaan kita? Ataukan Yesus dan kasih-Nya yang kita banggakan dalam kehidupan kita?

Segala sesuatu berpusat kepada Tuhan. Be blessed : )