Diluar Aku, Kamu Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Kejadian 3: 4-6

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

Sejak awal, Allah menciptakan manusia serupa dengan gambaran-Nya dan Dia menciptakan mereka untuk hidup bergantung seluruhnya kepada-Nya. Yang memberikan nafas kehidupan kepada mereka adalah Allah sendiri, dan karena hembusan nafas Allah-lah mereka dapat hidup. Desain awal manusia adalah untuk hidup di dalam Allah dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya seterusnya.

Pada saat manusia dicobai iblis, manusia diperhadapkan kepada dua pilihan, yaitu untuk tetap percaya pada perkataan Allah atau memilih jalan di luar perkataan Allah. Pada akhirnya manusia tidak cukup percaya akan perkataan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Dalam hal ini, manusia memilih untuk mendapatpengertian dengan memakan pohon pengetahuan baik dan jahat. Dosa dimulai bukan ketika manusia itu memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, tetapi pada saat manusia merasa bisa mengatur dan mengerti segala sesuatu dengan pemikirannya sendiri dan memilih untuk tidak percaya sepenuhnya lagi kepada Allah. Ketika manusia merasa dapat mengatur segala sesuatunya sendiri dan hidup di dalam kemandiriannya, kekacauan mulai memasuki kehidupan manusia, dan keturunan-keturunan Adam dan Hawa adalah keturunan-keturunan yang dilahirkan dengan benih dosa, mempunyai kecenderungan untuk lepas dari Allah dan melawan Allah.

Dalam kisah Menara Babel di Kejadian 11:1-9, manusia membuat satu kesatuan dengan satu bahasa dan satu logat dan kemudian mereka berencana membuat menara yang puncaknya sampai ke langit. Namun, perbuatan mereka itu akhirnya dikacaubalaukan Tuhan. Saya dulu pernah berpikir, mengapa sistem kesatuan yang dibuat manusia ini pada akhirnya dikacaubalaukan oleh Tuhan? Apa yang salah dari kesatuan manusia ini? Pada akhirnya Tuhan membukakan kepada saya bahwa hal ini menunjukkan independensi atau kemandirian manusia dari Tuhan. Manusia membuat satu kota yang tidak terserak dengan kesatuannya sendiri, tetapi hal yang menyedihkan adalah, mereka ingin lepas dari Allah. Mereka ingin mengatur segala sesuatunya dengan kekuatan mereka sendiri dan Allah tidak senang dengan hal ini dan turun untuk mengacaubalaukan mereka.

Filipi 2:6-7

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Yesus adalah Allah sepenuhnya dan Dia adalah manusia sepenuhnya ketika hidup di dunia. Pada waktu Dia hidup di dunia, Dia tidak  menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi menjadi sama dengan manusia. Karena Yesus adalah manusia, Dia tidak bisa berjalan sendirian. Dia berjalan dengan Bapa-Nya dan Roh Kudus.

Yohanes 5:19

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.

Selama Yesus hidup di dunia, Dia tidak menganggap keallahannya sebagai milik yang dipertahankannya, namun Dia hidup sebagaimana manusia seharusnya hidup, yaitu bergantung sepenuhnya kepada Bapa-Nya dan hidup oleh kuasa Roh Kudus. Karena sebab inilah, Yesus baru memulai pelayanan-Nya setelah Roh Kudus turun ke atasnya pada saat pembaptisan oleh Yohanes. Dia, Yesus tidak bisa berjalan dengan kekuatannya sendiri, tetapi Dia hanya bisa berjalan dengan kekuatan Roh Kudus, Dia tidak memakai kekuatan keilahiannya. Selain itu, Yesus sering menghabiskan waktu-waktu untuk pergi ke tempat sunyi dan berdoa di sana. Saat berdoa itulah, Yesus berkomunikasi dengan Bapanya dan mendapatkan kekuatan untuk pelayanannya di dunia. Sebagaimana manusia, Yesus hidup bergantung sepenuhnya kepada Bapanya dan sangat membutuhkan nafas dari Bapanya dan kuasa Roh Kudus.

Saudara-saudara yang terkasih, sejak awal, Allah mendesain kita untuk hidup bergantung sepenuhnya di dalam Dia. Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah (Yohanes 15:4). Ketika kita merasa bisa melakukan segala sesuatu dengan kekuatan kita sendiri, kita lepas dari Allah, dan kekacauan mulai terjadi di dalam hidup kita. Ketika kita punya pemikiran sendiri di luar Firman Tuhan, pada saat itulah hal-hal yang buruk mulai terjadi. Di luar Allah, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Bapa adalah Bapa yang baik dan selalu baik, Ia merancangkan hal-hal yang luar biasa dan penuh damai sejahtera untuk anak-anak-Nya. Bukan hal yang membahayakan jika kita benar-benar mempercayakan seluruh kehidupan kita kepada-Nya. Kebanyakan kekacauan dan hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan kita disebabkan oleh pemikiran dan perbuatan kita sendiri yang mau hidup di luar Allah. Jika kita hidup di dalam Allah, segala sesuatunya akan menjadi sungguh amat baik. Kebenaran ini sangat sederhana, namun jika benar- benar diterapkan, dampaknya akan sangat luar biasa dalam hidup kita. Saya berdoa, biarlah dengan pertolongan Roh Kudus dan pengenalan akan Firman Tuhan, hidup kita terus menerus diubahkan dari hari ke hari.

Be blessed :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s