Month: December 2012

Orang Seberang

Cerpen oleh Alit Dewanto, Favourite Winner Short Writing Competition at Level Lip Ice-Selsun Awards 2008 by Rohto Lab Indonesie

Tak akan kusangkan akan ada pertanyaan seperti ini. Aku seperti tak akan pernah memastikan jawabannya. Kususuri karang Pantai Nunsui, berharap akan bertemu seorang kawan disana. Pantai yang sangat indah, di kota yang sangat indah pula.Berbagai pengalaman terajut di sini.

Tiada seorang kawan pun ternyata. Sendiri, aku menatap debur ombak, silih berganti. Kecil namun konsisten dalam menunjukkan eksistensinya. Kugaruk sejumlah pasir dengan ibu jariku. Kutuliskan uneg-unegku. Kutumpahkan semua pada Pantai Nunsui ini. Belum genap sehari, aku bersama Nare dan Ted berburu kerang di sini, memanggangnya bersama-sama. Sungguh menyenangkan. Aku tahu sekarang mereka sedang pulang ke kampung halaman masing-masing sambil menunggu pengumuman kelulusan.

Kupang, aku sama sekali tak pernah berniat untuk meninggalkanmu. Hati kecilku berbicara bahwa engkaulah kotaku, meski bukan tempat kelahiranku, meski bukan pula tempatku dibesarkan oleh kedua orang tuaku. Tak apalah, keputusan akan segera dibuat.

Aku kembali memusatkan perhatianku kepada deburan ombak di sana. Tak akan ada tsunami di sini, guyonku pendek. Deburan ini mengingatkanku saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke kota ini. Begitu sampai, pemandangan laut yang sangat bersih, tersaji begitu stabil. Aku ingat pula suguhan sopii (minuman khas kota Kupang, beralkohol, dibuat dari beras) yang dianggap sangat biasa, sama sekali tak lazim di daerah kelahiranku. Menu makanan yang hampir ada setiap harinya ikan, apa saja jenisnya. Secara pribadi, aku sangat menggemari ikan raja dan ikan dusun.

Tetapi aku sudah bermupakat dengan diriku sendiri bahwa Pantai Nunsui inilah yang begitu terberkas di sanubariku. Pasir putih dan karang-karang terjalnya begitu tertata dengan uniknya. Andai saja seluruh keluargaku tinggal di sini. Argh, kurang bersyukur aku ini.

***

Pakdhe meninggal. Entah ini merupakan hari kesedihan, hari kebahagiaan bagiku, atau malah sekaligus keduanya. Seluruh sanak famili hadir, termasuk Kak Fung sekeluarga. Optimisme memang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Bagiku, itu sebuah pelajaran yang berarti. Jangan terlalu optimis sekarang, wejangku pada diriku sendiri.

Aku gagal diterima di sebuah STM negeri yang cukup diminati banyak orang. Aku sudah mencoba mencari alternatif-alternatif STM lainnya di kota yang sama. Pendaftaran negeri serentak menutup pintunya sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pasrah, aku menanti nasib. Aku belum melupakan Dyas, kakakku. Dia mengalami hal yang sama denganku tahun lalu. Terlalu optimis ialah kunci kegagalannya. Cita-citanya musnah karena hal tersebut.

Saat ini, aku hanya duduk termangu. Di sampingku terdapat beberapa berkas pendaftaran untuk beberapa STM swasta. Bapak sangat tidak menyarankan aku menerimanya. Aku pun menimbang hal ini. Sangat tidak bijak, jauh-jauh datang ke kota, hanya belajar di sekolah kacangan.Terlintas pula untuk menganggur selama setahun, mencoba lagi tahun depan. Tapi, kupikir itu sangat mustahil. Aku tak mau memberatkan dan memalukan kedua orang tuaku.

Sambil kusandarkan kepalaku di sofa belakang, kuserup segelas air putih. Rasanya lega sekali. Tamu-tamu sudah banyak berdatangan untuk melayat Pakdhe. Tugasku saat ini hanyalah menjaga kotak sumbangan. Kuamati jarum jam yang hampir menggenapkan dirinya dia angaka sepuluh. Masih belum siang. Tiba-tiba aku dikagetkan suara Bapak.

“San, ke sini sebentar. Kak Fung ingin bicara denganmu sebentar.” Panggil beliau. Aku menangkap kesan prihatin dari ucapan tersebut, entah bagaimana.

Tanpa ada minat khusus, aku berjalan menuju teras depan. Kak Fung sedang duduk di depan menyanggami beberapa tamu. Aku sudah menitipkan kotak
sumbangan kepada salah satu anak karang taruna.

” Maaf. Kak Fung mau bicara sama saya?” sapaku mendekat padanya.

Kak Fung hanya tersenyum melihat kedatanganku. Seperti biasa, aku jarang dapat mengartikan rona wajahnya. Dia begiu misterius, bagiku. Tidak seperti kakak-kakak sepupuku yang lain. Mungkin ini karena aku jarang bertemu dengannya. Dia menyulut sebatang rokok. Sejenak dia menghembuskan napasnya panjang-panjang. Aku sedikit gugup.

” San, kata Oom, kamu belum mendapatkan sekolah. Dan dengar-dengar pula dari beliau kalau kamu ingin melanjutkan ke STM.”

Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dia kembali bermonolog.

” Aku ingin menawarkanmu untuk bersekolah di STM yang sekarang kupimpin. Masalahnya: letaknya di Kupang. Bagaimana pendapatmu?”

Aku tak mampu menyembunyikan kebingunganku, antara senang atau sedih. Aku tahu sekarang ini Kak Fung memang menjabat sebagai seorang kepala sekolah STM di kota Kupang. Kupang… Kupang. Mengapa harus Kupang? Bila aku menerimanya tentu saja aku akan berpisah dengan keluargaku, jauh sekali. Tiga tahun, sampai aku tamat mungkin. Ya, selama itu aku tak akan bersua dengan mereka, jika aku menerima tawaran ini. Tapi, aku juga tak tahu, bagaimana kalau aku tak menerima tawaran ini. Wah, aku kalut sekali.

Lama kupandangi kursi sewaan di depanku. Aku tak bisa menggeser sedikitpun dari kedudukanku. Kuhela napas. Ya, aku bersiap memberi jawaban.

” Baik, Kak. Saya terima tawarannya.” putusku.

***

Entah apa namanya, yang jelas aku sangat menyukainya. Di kemudian hari, aku baru tahu kalau namanya jagung bose. Gurih, sedikit manis rasanya. Perlu sekitar dua hari untuk membuatnya, dan hanya muncul setiap perayaan atau pesta saja, misal pernikahan. Makanan ini terbuat dari jagung yang dihaluskan, kemudian direndam dalam rempah-rempah, dibungkus dengan daun pisang, lalu dipanggang. Setiap pesta, aku selalu menunggu-nunggu makanan ini.

” Bagaimana San, apa keputusanmu?” tanya seorang pria di dekatku.

Jujur, aku sama sekali tak mengharapkan pertanyaan itu. Ini sebuah keputusan yang sulit. Aku tak ingin tergesa-gesa mengabarkan hasil rapat antara hati dan otakku. Kuserup sisa kopi sabu (sejenis kopi tradisional yang sering dibuat oleh Suku Sabu, biasanya tinggal di daerah Flores) yang dibawanya dari kampung.

” Aku pasti akan mengabarkan kepada kalian.”

Aku sama sekali tak pernah berniat menyembunyikan perasaanku kepada Nare. Dia sudah lebih dari seorang saudara bagiku. Dia kelihatan tak begitu berangasan lagi setelah pulang dari pulau Flores.

Kututup mataku sejenak. Sebenarnya, aku sangat merindukan kembali berkumpul dengan keluargaku di tanah Jawa. Kembali aku mengingat bagaimana harmonis dan indahya keluarga kami. Sehari sebelum keberangkatanku ke kota Kupang, kutegaskan kepada mereka bahwa aku tak akan pulang sebelum berhasil. Memang terlihat sangat idealis, tetapi aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku. Mungkin, dulu aku agak terbawa emosi ‘anak lulusan SMP yang hampir putus harapan’.

” Tetapi kamu pasti pulang ke Jawa kan?” tanyanya memastikan.

” Kalau itu, tentu saja. Aku akan pulang untuk bertemu dengan keluargaku.” Aku sudah menabung sejak pertama kali aku bersekolah di sini. Aku memang disekolahkan oleh Budhe. Setiap bulan, beliau mengirimiku uang. Kutabung sebagian untuk membeli tiket kapal pulang ke Jawa. Kurasa sekarang lebih dari cukup.

” Lakukanlah apa yang terbaik menurutmu, San. Jangan lupa berdoa untuk pergumulanmu ini. Dia pasti akan membukakan jalan.” ceramah Ted, yang berdiri di belakang pundakku. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Dari dulu, memang
dia yang berbakat di bidang rohani. Kami kembali terhanyut oleh suasana pesta. Terdengar sayup-sayup seseorang mendendangkan salah satu lagu dari The Canberrias.

” Baiklah, malam ini juga aku akan berdoa,” balasku. Tuhan, aku yakin Engkau akan menolongku, pintaku dalam hati.

***

” Lulusan terbaik STM Prawiyatna Kupang, jurusan Teknik Mesin Otomotif. Satu, Ihsan Oktoranto. Dua,…” Pembawa acara sedang membacakan pengumuman. Aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, kontan kawan-kawan di sebelahku beramai-ramai mengangkat tanganya, memelukku, menubrukku, menggoyang-goyang tubuhku. Entah selebrasi macam apa yang mereka kehendaki.

Tak ada rasa spesial di hatiku. Dari awal sampai akhir, aku hampir selalu menjadi yang terbaik di jurusan. Padahal semasa bersekolah di Jawa, predikat tiga besar pun belum pernah kucicipi. Di sini, persaingan sangat tidak merata. Dan cukup mudah bagiku, tentu saja. Apalagi, posisiku adalah adik sepupu dari kepala sekolahnya. Aku hanya terbahak dalam hati.

Di akhir acara, Kak Fung menarik tanganku, menuju ke kantornya. Aku pun menurut saja. Jelas dia akan menyampaikan sesuatu yang penting lagi. Sampai sekarang pun, aku masih belum terbiasa dengan karakternya. Pertama-tama, jelas dia mengucapkan selamat atas prestasiku di sekolah.

” Kedua, aku ingin menyampaikan beberapa opsi yang patut kamu pertimbangkan.” Dia meletakkan rokoknya di atas asbak. ” Kamu sekarang sudah lulus. Ketika aku menawarkan sekolah di Kupang, kamu tak mempunyai pilihan lain sehingga mau-tidak mau kamu harus menerimanya. Tetapi, sekarang kamu memiliki beberapa pilihan.”

Dia mulai memperbaiki tempat duduknya. Meskipun statusnya ialah kakak
sepupuku, tetapi kami berrselisih dua puluh lima tahun. Wajar kalau dia
menganggap dirinya sebagai orang tuaku di sini. Anak tertuanya bahan dua tahun
lebih tua dariku.

” Setelah ini, kamu akan pulang ke Jawa. Kamu sudah berencana untuk meneruskan kuliah diploma. Kamu bisa tetap melanjutkan di sini atau bisa pula melanjutkan ke Jawa, tetap dengan biaya Budhe. Hanya kamu bisa lebh dekat dengan keluargamu kalau kamu memilih kuliah di Jawa.”

Aku sudah paham ke arah mana pembicaraan ini sebelumnya. Seminggu aku telah menggumulkan masalah ini. Kupang. Di sinilah, karakterku semakin terbentuk. Di sinilah, sahabat-sahabat sejatiku muncul. Di sinilah, berbagai kenangan menyatu beradu dengan jiwaku. Sulit, sangat sulit, untuk meninggalkan begitu saja. Lagipula, aku lebih cocok menetap di sini. Aku termasuk salah satu siswa yang unggul sehingga bisa mempermudah akses. Inilah jalan yang akan kumanfaatkan. Lagipula satu-satunya politeknik negeri di sini sudah menawarkan program beasiswa kepadaku. Sangat sayang apabila dilewatkan begitu saja. Berbeda dengan Jawa yang menuntut persaingan yang snagat ketat.

” Ya, Kak. Saya sudah memikirkannya jauh hari. Saya akan pulang ke Jawa untuk bertemu dengan keluarga.” Aku menghela napas. ” Dan, akan kembali ke Kupang lagi untuk melanjutkan kuliah.” tambahku.

” Kamu yakin?”

” Saya sudah berhasil meyakinkan diri saya sendiri. Bapak-Ibu pasti akan mendukung keputusan saya ini. Saya akan berkarir di sini nantinya,” jawabku tegas.

Kak Fung terlihat melorotkan tubunhya ke kursi. Entah terkejut atau senang akan keputusanku ini. Wajahku menjadi semakin kerut.

” Baiklah. Kamu sudah bertekad dalam hal ini. Secara pribadi, aku sangat bangga akan keputusanmu. Ini menunjukkan kedewasaanmu selama ini.” Dia berdiri dan berjalan menuju teras kantor, mungkin sekedar menghirup udara segar. Belum sampai lima langkah dia berbalik dan berkata, ” Jangan lupa kamu sudah menjadi orang seberang sekarang.”

***

Akhirnya, sampai juga aku ke tanah kelahiranku. Bertransportasi via kapal sangatlah melelahkan. Selama tiga hari ini kuhitung, aku sudah berganti kapal sebanyak empat kali dan bus kota sebanyak tigak kali. Itupun belum terhitung taksi dan angkuta umum yang kugunakan dari pelabuhan menuju terminal bus.

Aku berjalan menyusuri kampung yang pernah menjadi saksi masa kecilku. Terlihat sebuah rumah sederhana, dilengkapi sebuah warung di depannya. Masih seperti dulu, ujarku dalam hati. Kutahan napas dan emosiku ketika mulai memasuki pekarangannya. Warung masih buka, dijaga oleh adikku yang paling tua. Aku berdiri memandangnya. Sekarang dia berusia sepuluh tahun, kuhitung dalam hati. Ya, salah satu alasanku kembali ialah melihat kedua adikku. Mereka
merupakan motivsi utamaku dalam mengerjakan segala hal. Tertama untuk merekalah, aku harus segera bekerja. Akulah yang nantinya akan membiayai sekolah mereka. Tugas ini tentunya sangat berat. Oleh karena itu, harus segera pulalah persiapan yang kujalani.

Dia terlihat ketakukan, meski akhirnya angkat suara, ” Mas, mau beli apa?”

Aku hanya tersenyum, memandanganya. Tiga tahun ternyata membuahkan perubahan yang besar pada diriku. Dia terlihat sangat ketakuan, mungkin karena tidak mendapatkan respon yang diharapkan. Dia berlari masuk, mendapatkan Bapak. Bapak pun keluar. Beliau sudah semakin tua, hampir mencapai kepala enam.

” Maaf. Anda siapa ya?” Beliau kelihatan sangat bingung menatapku. Lidahku sedikit kelu menjawabnya.

” Aku Ihsan, Pak.”

” Insan.” jerit beliau cukup kencang.

Sontak beliau memelukku, erat sekali seakan tak akan pernah lepas dari genggamannya lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyaksikan Bapak menangis sesenggukan. Wajahku dirabanya seakan-akan beliau tidak memercayai bahwa inilah aku. Aku paham akan ini. Selam tiga tahun, aku hanya sekali berhubungan telepon, dan sekali berkirim surat. Aksesnya sangat tebatas dan tidak ekonomis.

” Dek, Insan pulang.” teriak beliau kepada Ibu.

Ibu yang sedang berada di dapur langsung berlari terbirit-birit, kemudian menubrukku, mendekapku, sambil menangis penuh arti. Aku menyongsongnya sangat hangat. Beliau bahkan sampai rela menjinjitkan kakinya untuk bisa mengecupku. Berulang kali. Beliau berkali-kali melihat wajahku, mengelus pipiku. Hanya tangis yang ada. Akhirnya, kami berkumpul lagi.

Setelah emosi reda, aku menceritakan segala pergumulanku, tanpa ada rahasia sedikitpun. Mereka menerimanya dengan lapang dada, mendukungku. Aku bukan berarti dianggap sebagai anak hilang. Memang inilah jalan yang terbaik untuk masa depanku.

“Ya. Aku telah menjadi orang seberang.” kataku menirukan ucapan Kak Fung, mengakhiri pembicaraan.

The Truth of Hope

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Ibrani 6:19

Seorang manusia bisa hidup selama beberapa minggu tanpa makanan dan beberapa hari tanpa air. Namun manusia hanya bisa hidup sekitar satu jam tanpa harapan. Pak Bob Foster – SPRINT 2012

Setiap manusia pasti mempunyai pengharapan dan pengharapan itulah yang membuat hidup lebih berwarna. Terkadang suka, duka, tawa, dan tangis itu disebabkan salah satunya oleh pengharapan- pengharapan yang kita miliki. Pengharapan bagaikan jangkar untuk jiwa kita, kata Alkitab. Saya pribadi mendapatkan bahwa pengharapan itulah yang membuat seseorang tetap teguh dan tidak terombang-ambing oleh keadaan.

Pengharapan seperti apa itu? Pertanyaan sekarang, kepada siapakah kita letakkan pengharapan kita? Beberapa orang berkata, buat apa berharap, toh kalo tidak terjadi, nanti kecewa. Jadi jangan membuat harapan terlalu tinggi, nanti kalau tidak terwujud, kita akan kecewa. Pernyataan ini ada benarnya juga secara logika, tetapi sebenarnya ada unsur ketidakmengertian di situ. Saya juga pernah mengalami yang namanya berharap. Sampai suatu titik saya sadari, mengapa banyak harapan saya yang tidak terjadi? Kemudian ada kekecewaan karena tidak terjadinya harapan itu. Ujung-ujungnya saya berpikir, apakah lebih baik saya tidak usah berharap saja sekalian?

Ternyata jawabannya bukan mematikan pengharapan, namun kepada siapa kita letakkan pengharapan itu? Kepada sesuatu yang absolut atau sesuatu yang relatif? Suatu pengharapan akan kuat bila diletakkan di sesuatu yang absolut. Saya bisa berkata, lebih dari sesuatu, itu adalah Seorang Pribadi, yaitu Sang Empunya Hidup Kita, Tuan segala tuan, Raja segala raja, Bapa yang sejati. Kepada Dialah kita dapat meletakkan seluruh pengharapan-pengharapan kita.

Seseorang berkata kepada saya, “Jika kamu berharap, harapan-harapan itu bukan kamu letakkan di manusia, tetapi diserahkan ke Tuhan”. Itulah kuncinya. Pengharapan akan menjadi lebih indah dengan sentuhan surgawi, bukan manusiawi. Manusia adalah sesuatu yang relatif, bisa mengecewakan, tetapi Bapa tidak. Kesalahan kita adalah meletakkan harapan-harapan pada sesuatu yang relatif seperti manusia, harta, pekerjaan, atau kedudukan. Pada akhirnya kita kecewa dan mematikan pengharapan. Bukan, jawabannya bukan meniadakan pengharapan, tetapi meletakkannya di Tangan yang Benar.

Be blessed.. more to come..

Little Update

alit

Gambar di atas adalah sesosok pribadi yang bernama Alit Dewanto, Teknik Perminyakan ITB 2007. Di atas adalah fotonya waktu TPB (tingkat 1). Ada apa dengan orang ini? Hahaha, pertanyaannya pasti sudah bisa jawab semua ya :p

“Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!”  Mazmur 45:10-11

Diluar Aku, Kamu Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Kejadian 3: 4-6

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

Sejak awal, Allah menciptakan manusia serupa dengan gambaran-Nya dan Dia menciptakan mereka untuk hidup bergantung seluruhnya kepada-Nya. Yang memberikan nafas kehidupan kepada mereka adalah Allah sendiri, dan karena hembusan nafas Allah-lah mereka dapat hidup. Desain awal manusia adalah untuk hidup di dalam Allah dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya seterusnya.

Pada saat manusia dicobai iblis, manusia diperhadapkan kepada dua pilihan, yaitu untuk tetap percaya pada perkataan Allah atau memilih jalan di luar perkataan Allah. Pada akhirnya manusia tidak cukup percaya akan perkataan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Dalam hal ini, manusia memilih untuk mendapatpengertian dengan memakan pohon pengetahuan baik dan jahat. Dosa dimulai bukan ketika manusia itu memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, tetapi pada saat manusia merasa bisa mengatur dan mengerti segala sesuatu dengan pemikirannya sendiri dan memilih untuk tidak percaya sepenuhnya lagi kepada Allah. Ketika manusia merasa dapat mengatur segala sesuatunya sendiri dan hidup di dalam kemandiriannya, kekacauan mulai memasuki kehidupan manusia, dan keturunan-keturunan Adam dan Hawa adalah keturunan-keturunan yang dilahirkan dengan benih dosa, mempunyai kecenderungan untuk lepas dari Allah dan melawan Allah.

Dalam kisah Menara Babel di Kejadian 11:1-9, manusia membuat satu kesatuan dengan satu bahasa dan satu logat dan kemudian mereka berencana membuat menara yang puncaknya sampai ke langit. Namun, perbuatan mereka itu akhirnya dikacaubalaukan Tuhan. Saya dulu pernah berpikir, mengapa sistem kesatuan yang dibuat manusia ini pada akhirnya dikacaubalaukan oleh Tuhan? Apa yang salah dari kesatuan manusia ini? Pada akhirnya Tuhan membukakan kepada saya bahwa hal ini menunjukkan independensi atau kemandirian manusia dari Tuhan. Manusia membuat satu kota yang tidak terserak dengan kesatuannya sendiri, tetapi hal yang menyedihkan adalah, mereka ingin lepas dari Allah. Mereka ingin mengatur segala sesuatunya dengan kekuatan mereka sendiri dan Allah tidak senang dengan hal ini dan turun untuk mengacaubalaukan mereka.

Filipi 2:6-7

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Yesus adalah Allah sepenuhnya dan Dia adalah manusia sepenuhnya ketika hidup di dunia. Pada waktu Dia hidup di dunia, Dia tidak  menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi menjadi sama dengan manusia. Karena Yesus adalah manusia, Dia tidak bisa berjalan sendirian. Dia berjalan dengan Bapa-Nya dan Roh Kudus.

Yohanes 5:19

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.

Selama Yesus hidup di dunia, Dia tidak menganggap keallahannya sebagai milik yang dipertahankannya, namun Dia hidup sebagaimana manusia seharusnya hidup, yaitu bergantung sepenuhnya kepada Bapa-Nya dan hidup oleh kuasa Roh Kudus. Karena sebab inilah, Yesus baru memulai pelayanan-Nya setelah Roh Kudus turun ke atasnya pada saat pembaptisan oleh Yohanes. Dia, Yesus tidak bisa berjalan dengan kekuatannya sendiri, tetapi Dia hanya bisa berjalan dengan kekuatan Roh Kudus, Dia tidak memakai kekuatan keilahiannya. Selain itu, Yesus sering menghabiskan waktu-waktu untuk pergi ke tempat sunyi dan berdoa di sana. Saat berdoa itulah, Yesus berkomunikasi dengan Bapanya dan mendapatkan kekuatan untuk pelayanannya di dunia. Sebagaimana manusia, Yesus hidup bergantung sepenuhnya kepada Bapanya dan sangat membutuhkan nafas dari Bapanya dan kuasa Roh Kudus.

Saudara-saudara yang terkasih, sejak awal, Allah mendesain kita untuk hidup bergantung sepenuhnya di dalam Dia. Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah (Yohanes 15:4). Ketika kita merasa bisa melakukan segala sesuatu dengan kekuatan kita sendiri, kita lepas dari Allah, dan kekacauan mulai terjadi di dalam hidup kita. Ketika kita punya pemikiran sendiri di luar Firman Tuhan, pada saat itulah hal-hal yang buruk mulai terjadi. Di luar Allah, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Bapa adalah Bapa yang baik dan selalu baik, Ia merancangkan hal-hal yang luar biasa dan penuh damai sejahtera untuk anak-anak-Nya. Bukan hal yang membahayakan jika kita benar-benar mempercayakan seluruh kehidupan kita kepada-Nya. Kebanyakan kekacauan dan hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan kita disebabkan oleh pemikiran dan perbuatan kita sendiri yang mau hidup di luar Allah. Jika kita hidup di dalam Allah, segala sesuatunya akan menjadi sungguh amat baik. Kebenaran ini sangat sederhana, namun jika benar- benar diterapkan, dampaknya akan sangat luar biasa dalam hidup kita. Saya berdoa, biarlah dengan pertolongan Roh Kudus dan pengenalan akan Firman Tuhan, hidup kita terus menerus diubahkan dari hari ke hari.

Be blessed :)