Secarik #1

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Roma 11:36

Segala sesuatu adalah tentang Tuhan, bagaimana Dia berpikir, berkehendak, berkata, dan bertindak. Segala hal yang berhubungan dengan Dia, itulah yang menjadi inti dari segala sesuatu. Bahkan karya penebusan Yesus di kayu salib pun adalah berpusat kepada-Nya, bukan kepada manusia. Apalah kita ini, hanya seonggok debu yang dipandang-Nya begitu berharga, sehingga kita begitu diinginkan-Nya.

Menghadapi keadaan dan atmosfer yang berubah belakangan ini banyak membuat saya merenung dan berpikir. Sampai sedalam apa dan sampai setinggi apa Dia itu? Dia yang kita sembah, kita tinggikan setiap hari. Apa sebenarnya yang menjadi kerinduan hati-Nya? Apa yang terletak di jantung hati-Nya?

Mengapa manusia diciptakan? Mengapa kita ada di dunia ini? Saya pernah sempat berpikir kok saya bisa ada di dunia ini, dengan mata, hidung, telinga, dan indera yang lainnya. Mengapa saya hidup di jaman ini dan bukan jaman dulu atau masa depan? Apakah ada tubuh yang pernah saya diami beberapa abad yang lalu? Well, pertanyaan terakhir memang aneh, tetapi itulah yang ada di pikiran saya. Waktu saya dimuridkan, saya mendapat pernyataan bahwa manusia diciptakan sebagai sasaran kasih Allah. Oh betapa indah, bukan? Dia yang menciptakan kita dan melimpahkan kasih-Nya yang lebih luas dari samudera kepada kita. Inilah hati Tuhan yang saya kenal. Segala jalan-Nya adalah kasih, keadilan, dan kebaikan.

Kita sudah pernah mendengar tentang dosa, hukum Allah, dan kasih karunia yang dikerjakan Yesus di kayu salib. Yah, kita biasa mendengar itu semua dalam penginjilan, bahkan mungkin kita sudah sering sekali membagikan Injil. Tetapi untuk mengerti tentang kasih karunia sepenuhnya, membutuhkan waktu seumur hidup. Selalu ada hal yang baru yang Tuhan nyatakan untuk sasaran kasih-Nya. Pernahkah kita benar-benar merasa berdosa? Pernahkah kita benar-benar merasa terpuruk dan butuh pertolongan untuk keluar dari semuanya?

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Mungkin kita pernah merasa begitu terpuruk dan benar-benar butuh pertolongan Tuhan. Tetapi pernahkah kita merasa, dengan dosa-dosa yang kita perbuat itu, kita melanggar hukum Allah? Pernahkah kita merasa kita menghina hukum-Nya dengan dosa-dosa kita? Seperti Daud di Mazmur 51: 6 berkata “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.”

Bagi sebagian orang (dan pikiran saya waktu dulu), masalah dosa dan kesalahan terlihat horizontal, misalnya, jika saya membenci orang, saya punya dosa terhadap orang tersebut, atau misalnya jika saya melawan orangtua, saya berdosa terhadap orang tua saya. Namun setelah saya pikir sekarang, itu terlalu rendah untuk menjadi alasan seseorang bertobat. Saya berpikir dan merenung, wow, pasti Tuhan tersakiti pada waktu saya melakukan dosa. Pribadi yang Agung itu saya hina dengan perbuatan dosa dan nafsu saya. Mungkin bagi orang-orang yang terikat rokok, mereka berpikir harus bertobat karena itu rokok berbahaya untuk kesehatan, merugikan keluarga, menghabiskan duit, dan sebagainya. Namun pernahkah mereka berpikir bahwa perbuatan mereka itu menyakitkan hati Allah yang Maha Tinggi dan perbuatan sama seperti mengolok dan meludahi Yesus di kayu salib?

Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 2 Korintus 7:10

Betapa malangnya manusia, betapa malang! Dilahirkan dalam dosa, tanpa bisa memilihnya. Betapa celakanya manusia, kecenderungannya adalah dosa. Siapa yang bisa memilih untuk dilahirkan atau tidak? Siapa yang bisa memilih untuk lahir dalam dosa atau tidak? Oh how pathetic! Mungkin lebih baik kita menjadi kecoa yang hidup di selokan dan mati diinjak manusia tetapi tidak memiliki tabiat dosa, tidak berakhir dalam kekekalan neraka, dan tidak menyakiti Dia dengan dosa kita.

Tetapi syukur kepada Allah. Semuanya berpusat kepada-Nya. Ini bukan tentang kita, manusia. Dalam keterpurukan dan ketidakberdayaan kita dalam dosa, Dia datang sebagai Juruselamat. Menyelamatkan kita dari kematian kepada kehidupan. Membawa kita kepada kemuliaan-Nya. Jika kita mengerti betul hukuman apa yang akan datang, kita akan sangat menghargai salib. Jika kita paham benar kita ini diselamatkan dari apa, kita tidak akan main-main lagi dengan Dia.

Hukum-Nya dibuat supaya kita mengerti bagaimana standar Allah, apa itu dosa (Roma 7:7), dan melihat ketidakberdayaan kita memenuhi hukum itu. “I have found by long experience that the severest threatenings of the law of God have a prominent place in leading men to Christ. They must see themselves lost before they will cry for mercy; they’ll not escape danger until they see it.” – A.B. Earl. Injil tidak bisa dipisahkan dari Hukum Taurat. Justru hukum itulah yang secara sempurna menyegarkan jiwa-converting the soul (Mazmur 19:8). Dengan hukum itu saya tahu saya berdosa dan bersujud di kaki Yesus meminta pengampunan.

Itulah yang seharusnya benar-benar berharga bagi setiap orang. Yesus yang menyelamatkan dari kematian. Walaupun dianiaya, dicibir, dikucilkan, seseorang akan tetap bertahan kalau Dia menjadikan Yesus segala-galanya. Salib-Nya tidak ternilai, lebih tinggi dari semua apa yang bisa dunia capai.

Setelah lulus, saya memang minta ke Tuhan untuk menempatkan saya di Bandung, dengan beberapa alasan tertentu, seperti anak rohani dan perintisan kampus pengembangan. Dan kadang hal ini menjadi pergumulan sekarang. Pergumulan ini banyak membuat saya mencucurkan air mata, tetapi ketika saya ingat lagi apa yang Yesus sudah lakukan di kayu salib, semua pergumulan itu seolah-olah kecil dan terlihat kurang penting. Saya diingatkan kembali apa yang kekal dan benar-benar berharga. Seperti seseorang yang menjual seluruh harta miliknya untuk mendapat mutiara yang berharga. Saya kembali terduduk diam dan bersyukur bahwa saya diselamatkan dari hukuman kekal. Dan selalu ada alasan untuk bersyukur, dan bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga (Luk 10:20)

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? Amsal 20:6

Bagaimana untuk menjadi tetap setia sampai kepada akhirnya? Kita, manusia, tahu bahwa kemanusiawian kita tidak mampu melakukannya. Manusia adalah makhluk lemah, tak berdaya, bagaimana bisa kita punya kekuatan untuk tetap setia?

Looking away [from all that will distract] to Jesus, Who is the Leader and the Source of our faith [giving the first incentive for our belief] and is also its Finisher[bringing it to maturity and perfection]. He, for the joy [of obtaining the prize] that was set before Him, endured the cross, despising and ignoring the shame, and is now seated at the right hand of the throne of God. Hebrews 12:2 AMP

Seiring berjalannya waktu, saya banyak diajari Tuhan mengenai remuk hati dan hati yang lembek seperti plastisin yang mudah dibentuk. Sebenarnya untuk menjadi setia pun adalah kasih karunia Tuhan. Dialah yang mengawali, menjadi sumber dari iman kita dan yang mengakhirinya juga dengan kedewasaan dan kesempurnaan. Hmm jadi apa bagian kita? Bagian kita adalah mengikuti-Nya. Taat dan ikut kemanapun Dia membawa kita.

Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest for your souls. Matthew 11:29 NIV

Segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Ada satu lirik lagu berbunyi seperti ini,

“I will not boast in anything, no gifts, no power, no wisdom.

But I will boast in Jesus Christ, His death and resurrection”

Ada hal menarik di salah dua dari murid Yesus, Yohanes dan Petrus. Kita tahu Petrus memiliki karakter meledak-ledak, omong-doang, dan bersemangat. Kita mengetahui kasih manusiawinya pada Yesus yang mengatakan, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Pada akhirnya, ia menyangkal Yesus dengan sukses. Yohanes yang menyebut dirinya dalam kitabnya “murid yang dikasihi Yesus” memiliki pengertian yang luar biasa mengenai kasih Yesus terhadap dirinya. Pada akhirnya, Yohaneslah yang tetap bertahan pada saat Yesus disalib (Yoh 19:26-27).

Petrus membanggakan kasihnya kepada Yesus, dan dia gagal membuktikannya. Tetapi Yohanes membanggakan kasih Yesus kepadanya, sampai-sampai ia mengganti namanya dengan “murid yang dikasihi Yesus” di dalam kitabnya sendiri. Siapakah yang kita banggakan? Apakah kita membanggakan sesuatu yang ada di dalam diri kita? Kasih kita, kemampuan kita, ketaatan kita, kesetiaan kita? Ataukan Yesus dan kasih-Nya yang kita banggakan dalam kehidupan kita?

Segala sesuatu berpusat kepada Tuhan. Be blessed : )

Advertisements

One comment

  1. saya gak bertuhan tapi entah kenapa suka tulisan dari orang bertuhan seperti juliana ini..
    “segala sesuatunya berpusat pada tuhan”—> jadi inget jalaluddin rumi pas baca kata terkahir ini

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s