He is Faithful God

Menghadapi Sidang Tugas Akhir di tanggal 17 Juni 2011 membuat saya melihat kebaikan Tuhan sekali lagi. Sidang ini menguras pikiran lebih banyak dibandingkan seminar-seminar. Karena, jujur aja waktu seminar TA 2 saya agak santai.

Kira-kira seperti inilah grafiknya. Lagi iseng.

Pada awalnya, saya memang merasa santai dengan sidang TA saya, toh saya pikir bakal mirip-mirip sama seminar. Tetapi ternyata tidak, jreng jreng..

Saya dapat dosen penguji dari Lab. Basis Data. Dua-duanya dosen penguji saya dari Lab Basdat. Tema besar TA saya tentang Basis Data. Jadi kalau mau menguji TA saya, pasti beliau-beliau sudah tahu konsepnya terlebih dahulu. Tetapi hal ini tidak cukup untuk membuat saya berjaga-jaga. Saya masih agak santai. Gatau kenapa, apa karena udah pernah seminar ya? Selanjutnya adalah hal yang mengejutkan bagi saya.

Sekitar H-2 Sidang, saya dapat kabar bahwa salah satu teman saya yang diuji oleh kedua dosen yang akan menguji saya nanti disuruh sidang ulang. OH SAYA KAGET. Bagaimana bisa seperti itu? Padahal teman-teman yang lain dinyatakan lulus bersyarat a.k.a STb (Sarjana Teknik bersyarat). Syaratnya harus mengerjakan revisi TA hasil Sidang. Kombinasi dosen pengujinya sama persis dengan saya.

Lalu pikiran-pikiran buruk muncul dan diam-diam saya menangis. Ya, menangis. Satu-satunya hal yang tidak pernah saya lakukan waktu seminar-seminar TA. Saya mulai berpikir, gimana nanti kalau saya sidang ulang? Gimana kalau kelulusan saya diundur? Kok bisa saya mendapat dosen penguji ini? Dan lain sebagainya.

Judul postingan kali ini adalah He is faithful God.

Pertama kali kalimat ini masuk ke pikiran saya adalah pada saat melihat adik-adik angkatan 2011 mau ikut SNMPTN. Saya melihat kejadian 4 tahun lalu, dimana saya berada pada posisi mau ikut SPMB. Saya berpikir, Tuhan itu Allah yang setia.

Oke, Dia yang memasukkan saya ke ITB dan pasti Dia akan mengeluarkan saya dari ITB dengan gilang gemilang.

Pada malam 2 hari sebelum sidang, saya berdoa. Saya merencanakan mau berdoa buat sidang. Saya mau bilang, “Tuhan, aku takuuuttttt”. Yeah, I’m humanly human. Dan saya butuh pertolongan Tuhan. Tetapi entah kenapa saya ga jadi berdoa buat sidang. Sepertinya Tuhan bilang, “Apakah yang lebih berharga dari diloloskan sidang atau lulus dari ITB?” Dan saya cuma menangis di situ. Dia mengarahkan saya kepada hati-Nya. Dan waktu itu saya melihat bahwa saya akan diloloskan sidang. Entah bagaimana saya tiba-tiba punya keyakinan seperti itu. Dan malam itu saya malah ga berdoa buat sidang. Tetapi saya merasakan bahwa yang lebih penting dari semuanya adalah saya punya pengenalan akan Tuhan. Saya merasa Dia lebih berharga dari semua gelar, kekayaan, atau kedudukan apalah. Tiba-tiba saya jadi lebih mengerti ayat ini,

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, Filipi 3 : 8

Ohh, I’ve got the most precious :)

Begitulah 2 hari menjelang sidang, saya malah ga doain sidangnya. Pada hari Jumat 17 Juni itu, saya bangun dengan tenteramnya, walaupun sempat sesak napas karena udara dingin dan mules-mules.

Saya sampai di kampus sekitar pukul 12.00. Sidang saya mulai pukul 14.00. Labtek lima sepii banget. Dan lucunya, dari menyiapkan ruangan sidang sampai membereskannya, saya melakukannya sendiri, hahaha. Mulai dari mengatur gorden ruangan, mengatur lampu, mengatur infocus, sampai mencari remote.

Lagu tema untuk hari Kamis dan Jumat adalah Because He Lives.

Because He lives I can face tomorrow. Because He lives, all fear is gone
Because I know He holds the future and life is worth the living just because He lives

Sidang dibagi 3 sesi. Sesi presentasi, sesi tanya jawab, dan sesi sidang tertutup. Makin maju sesinya, makin menegangkan, trust me. Sesi yang paling lama adalah sesi tanya jawab. Kaki saya sampai pegal berdiri dan kerongkongan saya sampai kering pengen minum. Saya merasa saya kurang lancar jawabnya dan ga konsisten di sana-sini, tapi waduh, jantung saya ga berdebar-debar. Saya merasa ada yang mengganjal pada TA saya, dan itu tidak pernah dikatakan oleh dosen pembimbing saya, tetapi pada saat sidang itu, saya baru tahu apa yang mengganjal. Akhirnya setelah dosen penguji saya puas bertanya, tibalah sesi 3.

SESI 3. SIDANG TERTUTUP. Menentukan saya lulus atau tidak. kyaa

Oh ya, ini presentasi Sidang TA saya, walaupun hanya judulnya :D

SESI 3, dan saya disuruh keluar. Berdasarkan pengalaman teman-teman saya yang lain, mereka disuruh menunggu sekitar 10 menit. Jadi saya ke nunggu di Lab RPL di depan ruang sidang saya. Saya pikir, mungkin rapatnya lama, jadi saya nunggu di ruangan lain. Sambil berdoa. Oh so lovely :)

Ternyata kurang lebih 3 menit kemudian, terdengar  suara dosen penguji saya, “Loh, anaknya mana?”

Kontan saya langsung lari ngibrit ke ruangan sambil minta maaf. Beliau-beliau mengira saya kabur entah dimana. Dan hasil keputusan dibacakan.

Kamu belum lulus. Tetapi lulus bersyarat.

Walaupun dari luar saya terlihat cool, tapi hati saya melompat-lompat (apa coba). Dengan cool saya tersenyum dan berkata, “Makasih Bu”

Because He lives I can face tomorrow. He is faithful God. Dia Bapa yang setia.

more to come…

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s