Lompatan Iman

Written by Alit Dewanto

Seorang atlet lompat galah dengan sungguh-sungguh melompat melewati rintangan yang ada di depannya. Perjuangannya tidaklah sia-sia karena dia berhasil melewati dan menunggu kesempatan berikutnya untuk melompat lebih tinggi, lebih tinggi, seakan-akan tidak pernah puas dengan lompatan yang ada saat ini. Kalau kaki bisa melompat, maka orang Kristen akan berbicara mengenai lompatan iman.

Spirit perintisan tidak bisa dipisahkan dengan apa yang disebut lompatan iman. Kita berada di dalam masa dimana Tuhan membawa kita untuk melayani hal-hal yang lebih besar dan luar biasa. Ada tenaga, waktu, pikiran, uang, semangat, perhatian yang harus dicurahkan dan diinvestasikan. Ada keputusan demi keputusan yang diambil berdasar kasih kepada Kristus. Lahir anak-anak rohani yang tertanam di berbagai wilayah dan pemimpin-pemimpin baru yang ditahbiskan.

Namun seringkali perintisan tidak lagi menggairahkan, pertambahan jiwa sangat sedikit, ada banyak tantangan dari lingkungan, pekerja yang mudah menyerah, dan anak-anak rohani yang tidak kunjung setia dan hanya sekedar hadir. Ditambah kekurangan finansial dan waktu pun disebut-sebut sebagai penghalang terbesar lainnya.

2 Korintus 4: 11-13 “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikialah maut juga giat di dalam kamu. Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”

Ada sesuatu yang berbeda ketika Paulus memberi diri untuk melayani Kristus. Mereka tanpa henti memberi hidupnya, mengalami bahaya mau sepanjang waktu, hidup seperti terombang-ambing kemana Tuhan hendak membawa mereka. Namun hidup mereka menjadi semakin kuat hari lepas hari. Secara fisik, mereka tidak mempunyai apa-apa, namun kekuatan mereka adalam IMAN. Iman adalah DASAR mereka berharap dan BUKTI pembelaan Tuhan yang sempurna (Ibr 11:1). Sehingga ditengah himpitan-himpitan yang ada, kita perlu terobos dengan IMAN, dengan IMAN, dengan IMAN.

 

Dalam hal finansial pun demikian

Ketika pelayanan ini berkembang, ada satu prinsip yang harus kita pegang, bahwa kita yang harus menyesuaikan diri kita kepada Tuhan, bukan sebaliknya Tuhan yang menyesuaikan dengan kita. Diri kita sangat terbatas, dan kadang-kadang keterbatasan itulah yang membuat terbatasnya juga pekerjaan tangan Tuhan yang harusnya tidak terbatas.

Sangat erat kaitannya dengan masalah finansial. Hampir semua mahasiswa masih bergantung kepada orang tua dalam hal keuangan. Banyak yang jadi ciut hatinya dan tidak yakin bisa memberi untuk pelayanan. Saya pernah mengalami pergumulan seperti itu. Antara mau menabur dengan ketaatan atau mencukupkan diri dengan kebutuhan-kebutuhan. Suatu kali saya ingat betul, pelayanan Sion belum memiliki keuangan yang cukup mapan di awal-awal tahun 2011, dan kemudian kita mau mengadakan HC/ HW beberapa kali. Kebutuhan sangat banyak dan dibuka ladang taburan bagi yang rindu untuk menabur. Saat itu awal bulan dan saya ingat betul jumlah uang di rekening saya 900 ribu rupiah, dan itu untuk satu bulan penuh.

Saya menjadi penuh pertimbangan dalam menabur. Bagaimana dengan uang makan saya? Kan saya sudah kasih perpuluhan dan itu cukup? Bagaimana uang angkot, fotokopi buku, dsb? Namun di saat itu saya ingat betul, kebenaran Firman Tuhan yang benar adalah jangan sampai kita memberi remah-remah kepada Tuhan. Anjing kita kasih remah-remah, masakan Tuhan kita beri remah-remah juga. Dan saat itu saya dengar suara Tuhan, saya tabur 700 ribu dari rekening saya. Tertinggal 200rb di rekening saya untuk kehidupan selama satu bulan, ada damai sejahtera sejati.

 

Saya percaya lebih daripada saya berusaha, TUHAN jauh lebih berusaha untuk menggenapi janji-Nya. Tuhan yang akan gantikan uang tersebut karena saya tabur dengan sungguh-sungguh, Dia tidak akan membiarkan saya berhutang, dan saya benar-benar yakin hidup saya DIJAMIN oleh kekuatan Kristus. Di saat itu, pikiran saya mulai berusaha berpikir untuk menghemat makan menjadi dua kali sehari dan apapun yang bisa dihemat, namun seminggu kemudian saya diundang oleh pemberi beasiswa saya, kalau ada jatah THR bagi para penerima beasiswa dan saat itu juga uangnya cair dan diberikan. Saya sungguh terpesona sekali di masa muda saya, Tuhan menunjukkan bahwa Dia bedaulat atas keuangan saya. Yang saya perlukan hanyalah IMAN, IMAN, IMAN, dan IMAN. Ketika IMAN itu berbicara, segala sesuatu akan tunduk.

Waktu kali pertama mengadakan HC di depok, kita kekurangan dana 7 juta lebih. Saat itu saya ingat berdoa “Tuhan kalau Engkau berikan saya 7 juta bulan ini, saya akan langsung berikan untuk HC”. Dan tepat sekali saya berdoa, Tuhan jawab bulan itu 7 juta diberikan kepada saya sebagai bonus dari kantor dimana saya bekerja, dengan jumlah yang tepat.

Ada banyak godaan untuk tidak beriman, ada banyak godaan untuk kita tidak menabur namun Firman Tuhan kekal. Ketika mempersiapkan pernikahan bersama dengan isteri saya, kami memegang prinsip Tuhan yang pertama. Jadi begitu dapat gaji, yang pertama kami berikan ialah perpuluhan dan uang taburan, kemudian sisanya baru untuk kehidupan keluarga, penghidupan sehari-hari, dan tabungan pernikahan.

 

Sejak dini dan awal sekali…

Rekan-rekan sekalian, jika engkau saat ini merasa kurang uang untuk penghidupmu, tabur uangmu untuk melayani Tuhan. Jika engkau sangat berlebih uangmu, tabur lebih untuk uang. Kamu melihat dirimu bisa makan 3 kali sehari dengan sehat, namun dengan mata yang sama kamu membiarkan rumah Tuhan terbengkelai karena sedikit yang mengorbankan diri. Harusnya tidak demikian bukan? Hiduplah dengan sederhana dan cukupkanlah yang ada. Adik-adik yang masih muda tidaklah terlalu muda untuk melayani, memberi persembahan untuk rumah Tuhan, untuk menjangkau dan melahirkah keturunan-keturunan rohani.

Suatu kali, ketika saya sudah bekerja, saya mengalami pergumulan dalam hal keuangan. Saya tahu dengan persis bahwa uang yang tertinggal dalam rekening sudah tidak cukup untuk penghidupan saya. Saya sudah bekerja, tidak mungkin saya minta-minta sama orang tua saya. Meminjam pun segan. Dan pelayanan sedang membutuhkan banyak dana operasional. Saya terduduk dalam kamar saya dan merenung, apalagi saat itu saya sedang dalam masa-masa persiapan pernikahan. Mungkin itu adalah titik dimana saya bergumul hebat dalam perkara ini. Namun di saat seperti itu, ketika saya berdoa dan berada dalam hadirat Tuhan yang kudus, urapan-Nya begitu mengalir dan berkuasa. Di saat-saat itu, yang saya butuhkan adalah saya bertemu dengan Tuhan dan Firman-Nya dengan teguh menguatkan saya. Saya tersungkur sambil terus merenunginya.

Mazmur 23: 1 Tuhan adalah gembalaku, tidak akan kekurangan aku

Mazmur 23: 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

Mazmur 23: 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah

YA YA YA, Dia sungguh setia, teramat setia, dan sangat amat setia. Firman Nya cukup untuk menjadi pegangan bahwa kita TERJAMIN.

 

Sakit bersalin dan terus sakit bersalin.. 

Nah saya mengajak semua mengerjakan hal yang sama bahkan lebih. Tidak cukup satu dua orang yang panas namun yang lain suam-suam kuku. Tuhan ingin menggerakkan kita semua untuk menjadi satu tim yang kokoh, memiliki nilai dan prinsip yang kuat, dan mengerjakan kegerakan rohani ini dalam satu haluan.

Awal tahun ini selain sion depok dan cawang, dirintis juga sion bekasi, sion bintaro, sion grogol, dan juga sion semanggi. Banyak dana yang dikeluarkan, banyak tenaga dan pikiran dicurahkan untuk memuridkan. Saya dan isteri tetap berusaha untuk mengerjakan yang terbaik dengan apa yang sudah Tuhan percayakan. Namun tetap peliharalah rasa “SAYA TIDAK AKAN PERNAH PUAS” karena apa yang kita kerjakan belum SEBERAPA. Dibandingkan dengan Rasul Paulus, Petrus, dan lainnya, yang kita lakukan masihlah belum seberapa.

Siapa yang mau beriman? MELOMPATLAH!

KATAKAN BERSAMA-SAMA: Iman saya mau melompat sejauh yang Tuhan kehendaki. Saya mau melompat sampai batas-batas yang sudah tidak bisa dirasakan oleh tubuh saya sendiri. Dan sejauh itulah kemah saya dikembangkan, keturunan saya tinggal tetap, dan itulah akhir hidup saya.

 

Generasi perkasa dilahirkan dari angkatan ini,

Alit Dewanto

Our Wedding Vow

ucapjanji

Alit Dewanto (mempelai pria):

Saya Alit Dewanto mengambil engkau Juliana Amytianty Kombaitan sebagai istri saya. Dihadapan Tuhan, hambaNya dan seluruh jemaat saya berjanji, dengan kasih karunia Tuhan, akan mengasihimu, menyayangimu, melindungimu, dan menjagamu seperti apa yang telah Kristus lakukan kepada jemaat, dalam segala sesuatu dan keadaan, sampai Kristus datang untuk yang kedua kalinya. Sebagai tanda janji saya, saya sematkan cincin ini di jari manismu.

Juliana Amytianty Kombaitan (mempelai wanita):

Saya Juliana Amytianty Kombaitan menerima engkau Alit Dewanto sebagai suami saya.Dihadapan Tuhan, hambaNya dan seluruh jemaat saya berjanji, dengan kasih karunia Tuhan, akan tunduk kepadamu, menghormatimu, mempercayaimu, dan menolongmu dalam segala sesuatu dan keadaan sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, sampai Kristus datang untuk yang kedua kalinya. Sebagai tanda janji saya, saya sematkan cincin ini di jari manismu.

Finally, I’m Married! Yay!

Akhirnya status saya sekarang sudah tidak single lagi. Sekarang saya sudah menikah. Menikah. Jadi inilah inti dari tulisan ini :D

Banyak sekali hal-hal yang saya lalui bersama calon suami saya. Banyak pembentukan dan kasih karunia yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya, mulai dari si dia maju (nembak) ke saya, sampai akhirnya kami jadian, lalu memasuki masa pranikah, kemudian merencanakan untuk menikah dan bertemu keluarga, tunangan, kemudian menikah. Kalau diceritakan semua, bisa jadi panjang dan memakan beberapa page :p Intinya, saya bersyukur sekali dan semakin hari merasa makin diteguhkan dengan pilihan Tuhan buat hidup saya.

Namun saya, eh.. kami sadar sih kalau ini bukan akhir dari perjalanan petualangan kami. Marriage is not finish line. Saya tahu apa yang diceritakan di film-film mengenai happily ever after yang ending ceritanya adalah pada saat pemeran cowok dan ceweknya menikah itu tidak sepenuhnya benar, karena pernikahan membutuhkan kerja keras, tidak serta merta jadi happy terus sampai akhir hidupnya. Jadi kami sama-sama berusaha untuk menciptakan kehidupan pernikahan yang bahagia sesuai dengan Firman Tuhan, tentunya dengan kasih karunia Tuhan, seperti janji yang kami ucapkan pada saat pemberkatan pernikahan kami ;)

Juliana-Alit
Di post ini, kami mau membagikan beberapa hal yang Tuhan ajarkan sama kami selama masa pranikah dan kehidupan setelah pernikahan (walau baru sebulan menikah).. I’m sure that these are very precious to share, especially to our next generation..

HOLINESS

Ketika kami berkomitmen untuk menjalani hubungan pranikah (jadian), ya pasti senang banget dong haha. Kami jadian pada bulan Juni 2012. Akhirnya dia mendengar dari mulut saya kalau saya menjawab “iya” untuk pernyataannya. Yah pada intinya, we was committed to pre-marriage relationship. Rasanya senang sekali, saudara-saudara, seolah-olah ada bunga-bunga di dalam hati dan pikiran ini seolah-olah ditarik oleh magnet besar yang namanya si dia, hehe. Namun ada satu hal yang saya sadari waktu itu. Jika saya benar-benar menghormati hubungan ini sampai ke pernikahan, saya dan dia harus menjaga kekudusan. Terlebih dari itu, jika kami berkata kami menghormati Tuhan, kami harus menjaga kekudusan kami sebelum pernikahan. Saya tahu bahayanya ketika kami berkompromi dengan perasaan-perasaan, mulai tidak kudus dengan banyak bersentuhan, dan pada akhirnya jatuh ke dalam hubungan sebelum pernikahan.

Jadi kami bersepakat untuk not to touch each other, kecuali salaman atau salim pada saat bertemu, hehehe.. Jadi selama menjalani masa pranikah, kami komit untuk menjaga tubuh kami masing-masing dan pasangan dengan tidak bersentuhan lebih banyak dari salaman. Hmm oke, ini memang sangat tidak lazim untuk generasi modern jaman sekarang, dimana banyak anak muda yang pacaran dengan tidak terkontrol. Awal-awalnya, dengan perasaan yang membunga dan menggebu-gebu, sejujurnya agak berat bagi kami, karena jujur di dalam pikiran saya ada keinginan untuk bersentuhan dengan calon pasangan hidup saya. Dan tidak hanya itu, kami juga menceritakan value yang kami pegang kepada teman-teman kami, ada juga tanggapan yang biasa dan bahkan memandang aneh apa yang kami lakukan. Wah tantangannya banyak, baik dari dalam diri kami sendiri, maupun dari luar. Namun, kami saling menguatkan satu sama lain, percaya kalau apa yang kami lakukan ini benar, berusaha menutup semua celah untuk ketidakkudusan.

Tantangan banyak juga datang dari diri kami pribadi. Pernah pada suatu kali, dalam suatu perjalanan, saya dan dia duduk bersebelahan. Dalam pikiran saya, saya pengen menyandarkan kepala saya di bahunya, sekali-kali deh Tuhan, hehe, tetapi setelah itu malah jadi perang batin. Holy Spirit reminded me to keep the holiness, tapi Tuhan sekali aja gapapa kan. Sampai akhirnya saya jadi menyandarkan sedikit kepala saya ke badannya, sementara dia tidur. Dan disitu makin menjadi perang di dalam batin saya, sampai saya akhirnya menangis (diam-diam). Tetapi setelah kami tiba di tempat tujuan, kemudian pada suatu pembicaraan di BBM, saya mengaku sama dia tentang pengalaman saya di perjalanan tadi, saya minta ampun sama Tuhan, dan rekonsiliasi. Selain itu, pernah juga saya salah paham dengan dia. Di suatu perjalanan lainnya, kami duduk di travel yang lumayan kosong, dan ada 3 seat yang bisa kami pakai. Saya duduk duluan di pinggir, kemudian dia mengambil tempat di ujung satunya, sehingga menyisakan satu tempat kosong di tengah. Entah kenapa, itu membuat saya agak tertolak sebenernya dan membuat hati pedih, hehehe.. Tetapi, setelah diceritakan olehnya, saya jadi sadar, kalau itu adalah langkahnya untuk menjaga supaya dia tidak bertingkah aneh-aneh. Di lain kesempatan, Mas Alit pun mengalami hal-hal yang sama, dimana dia pernah ingin mencium saya pada saat perpisahan di travel, tetapi ga jadi. Dia mengakuinya pada saat kami sudah berpisah ke tempat masing-masing.

Bahkan foto prewedding kami pun bercerita soal komitmen kami. Kami komit untuk tidak berpose terlalu mesra untuk prewedding, karena ya itu pre kan? Sebelum-menikah. Artinya ya hak-hak keintiman itu boleh kami dapatkan ya setelah menikah. Kami agak sedikit ‘mengatur’ fotografernya untuk tidak mengarahkan ke pose yang berlebihan hehe. Pada saat sebelum pemberkatan pun, di hari H, ada waktu untuk kami foto-foto berdua dulu sebelum kebaktian. Fotografer kami mengarahkan saya untuk menggandeng tangan Mas Alit, namun kami kompak menolaknya dengan halus, karena kami belum resmi suami-istri, dan fotografernya menerima keputusan kami. Hehehe. Mas Alit akhirnya bilang, bahkan sampai akhir pun, kami tetap mau jaga value kami, sampai akhirnya kami resmi jadi suami-istri. Hehe how sweet ya suami saya :)

Sukacita keintiman adalah upah dari komitmen. Itu adalah statement yang pernah saya baca dari sebuah buku rohani tentang relationship. Dan itu benar, apalagi setelah kami menjalani pernikahan.

Masyarakat sekarang beranggapan, ooh bulan madu yang bahagia itu harus ke tempat yang jauh dan bagus, seperti Bali atau Singapore. Namun kami sendiri membuktikan, ga harus seperti itu kok. Yang penting itu bukan tempat atau mahalnya rencana bulan madu itu, tetapi ketika kami menikmati keberadaan satu sama lain :) Bulan madu kami anggap sebagai tempat kami lebih mengenal pasangan. Kami memesan kamar hotel untuk beberapa hari di Bandung, ga jauh-jauh kok hehe, dan hotel tersebut punya fasilitas yang cukup oke untuk bulan madu. Ada beberapa rencana kegiatan di dalam pikiran saya, namun ternyata hal-hal tersebut ga jadi dilakukan, karena kami sudah cukup senang dengan keberadaan masing-masing, tidak ditambah-tambah dengan kegiatan lain. Bahkan kami berdua jarang keluar kamar ketika kami berlibur di situ. Lalu Tuhan ingatkan kami, wah sukacitanya sangat berlipat-lipat-lipat-lipat ketika kami jaga kekudusan dan menutup celah dosa sebelum kami menikah. Ketika menikah, itu menjadi sebuah surprise yang sangat luar biasa. Thank You, Lord!

Jadi, kami mau bilang ke next generation, bahwa ikut apa kata Tuhan itu akan mendatangkan sukacita. Melakukan hal yang sebelum waktunya tidak akan mendatangkan damai sejahtera. Ketika Tuhan menjadi Tuhan dalam hidup kita, segala sesuatu akan berada pada tempat yang seharusnya, dan ada sukacita berlimpah yang Tuhan mau kasih ke dalam kehidupan kita ;)

45440_10200335773188780_1230100392_n

MARRIAGE PREPARATION

Saya ingat, pada bulan Maret 2013, Mas Alit mengatakan waktu yang dia pikirkan untuk pernikahan kami. Februari 2014. Saya menerimanya dengan hati yang senang dan tunduk (hehe). Setelah itu, dia datang ke rumah untuk bertemu orang tua saya dan menyatakan keseriusannya untuk menikahi saya :) :) :) Jadi kira-kira persiapan pernikahan memakan waktu kurang dari setahun.

Ada banyak juga pembentukan karakter dan iman yang Tuhan kerjakan dalam persiapan pernikahan ini. Ada satu value tentang keuangan yang kami pegang, yaitu cukupkan dirimu dengan apa yang ada atau dengan kata lain kami berkomitmen untuk tidak berhutang sana-sini. Yah kami tahu biaya pernikahan itu tidak sedikit dan kami memutuskan untuk menabung. Setiap menerima uang, kami menabung ke satu rekening untuk persiapan pernikahan kami. Kami berprinsip, tidak perlu pesta yang mewah dan mengundang hampir ribuan orang, walaupun kalau ditotal, teman-teman kami bisa sampai ribuan, hehehe. Cukup resepsi yang sederhana saja dan tidak perlu mencari perkenanan manusia. Justru yang lebih penting adalah kehidupan setelah pernikahan, kecukupan untuk kebutuhan sehari-hari, tempat bernaung, dan sebagainya. Jadi kami mendobrak pemikiran-pemikiran selama ini yang mengatakan kalau menikah harus di gedung mewah dan mengundang ribuan orang. Pemberkatan dan resepsi kami diadakan di sebuah restoran di Dago, Bandung yang berkapasitas maksimal 700 orang. Kami tidak memakai adat-adat yang benar-benar adat, jadi dari dekorasi sampai kostum pun sederhana saja. Berkaitan dengan tata cara, puji Tuhan, keluarga dari masing-masing kami tidak terlalu banyak keinginan dan lembut untuk menerima apa yang kami rancangkan.

Namun walaupun begitu, tetap saja pada saat dua bulan sebelum hari H, kami merasa tabungan kami belum cukup. Kami terus berdoa dan saling menguatkan iman satu sama lain supaya tetap percaya sama Tuhan kalau Dia bakal sediakan uang buat kami :’) Ada kejadian yang luar biasa, satu bulan sebelumnya, acara tunangan  diselenggarakan. Semula, tanpa berkonsultasi dengan keluarga, kami membuat anggaran untuk lamaran dengan pemikiran kami sendiri. Singkat cerita, setelah konsultasi dengan keluarga Mas Alit, dana yang dibutuhkan menjadi 9-10 kali lipat. Weew, uang darimana??? Kami jujur sempat bingung, karena biaya-biaya tersebut kami yang menanggungnya, tapi kami taat saja dengan keluarga. Namun Tuhan itu memang setia, keluarga saya di luar kota datang ke acara lamaran, dan memberikan pas sesuai dengan jumlah kurangnya anggaran pernikahan kami karena membengkaknya dana lamaran. Wowww dahsyat Tuhan! Bahkan kami bisa menabur buat pelayanan di masa-masa kami butuh duit itu. Selain itu pas sekali, papa saya mendapat pekerjaan pada bulan November 2013 dengan gaji di atas rata-rata, sehingga papa mama bisa membantu kami dalam mengurus pernikahan. Kami sangat sangat terbantu dengan papa dan mama. Tepat sekali memang pertolongan Tuhan!

Banyak sekali yang saya mau ceritakan di masa-masa persiapan pernikahan, dimana banyak sekali kemurahan dan ketepatan Tuhan. Kami berdoa juga buat cuaca supaya tidak hujan pada saat kami menikah. Kami menikah pada tanggal 23 Februari 2014. Pada tanggal 20-22 Feb, Bandung terus diguyur hujan. Saya sempat pesimis sebenernya, tetapi terus berdoa sama Tuhan. Ajaibnya, di tanggal 23 Feb itu pagi-pagi sebelum pemberkatan itu memang gerimis sedikit, tetapi habis itu berhenti sampai malam. Alhasil, cuaca pada saat acara kami itu tidak hujan, tetapi tidak panas juga, adem gitu deh, sehingga kami dan para tamu pun merasa nyaman. Ajaibnya, besoknya tanggal 24 dst hujan mengguyur Bandung kembali. Hahaha..

Our Pose

Kami mau berkata, kami adalah saksi hidup yang melihat Tuhan sendiri setia dalam kehidupan kami. Semoga pengalaman kami ini memberkati dan menginspirasi generasi-generasi berikutnya. Be blessed :)

Aku akan mendirikan bagi mereka suatu taman kebahagiaan, sehingga di tanah itu tidak seorangpun akan mati kelaparan dan mereka tidak lagi menanggung noda yang ditimbulkan bangsa-bangsa. Yehezkiel 34:29

-this is God’s promise for our marriage

1

Surprise! Gantengnya suamiku :3

Never Ready Faith (Reblogged)

I have never been ready, Never – Ready Faith by Steven Furtick 

A lot of people weren’t ready in the Bible – Abraham wasn’t ready when God called him, Moses wasn’t ready, the disciples were never ready and they never got it. Even when they got it they still didn’t get it. Each time they were ready they started to doubt because their faith was in their readiness.

Jeremiah 1:4-10 Then the word of the Lord came to me, saying:
“Before I formed you in the womb I knew you; Before you were born I sanctified you; I ordained you a prophet to the nations.” Then said I: “Ah, Lord God!Behold, I cannot speak, for I am a youth.” But the Lord said to me: “Do not say, ‘I am a youth,’ For you shall go to all to whom I send you, and whatever I command you, you shall speak. Do not be afraid of their faces, For I am with you to deliver you,” says the Lord. Then the Lord put forth His hand and touched my mouth, and the Lord said to me: “Behold, I have put My words in your mouth. See, I have this day set you over the nations and over the kingdoms, to root out and to pull down, to destroy and to throw down, to build and to plant.”

  • God always look at the hearts, never the appearance.
  • There’s the time where God shapes you and calls you for something and then there’s the time where you become aware of it and responsive to it.
  • “I am not ready” is just an excuses because you will never been ready.
  • He’s got options and you just have to show up! Present yourself to God.. Here I am.
Mark 8:13-21 And He left them, and getting into the boat again, departed to the other side. Now the disciples had forgotten to take bread, and they did not have more than one loaf with them in the boat. Then He charged them, saying, “Take heed, beware of the leaven of the Pharisees and the leaven of Herod.” And they reasoned among themselves, saying, “It is because we have no bread.” But Jesus, being aware of it, said to them, “Why do you reason because you have no bread? Do you not yet perceive nor understand? Is your heart still hardened? Having eyes, do you not see? And having ears, do you not hear? And do you not remember? When I broke the five loaves for the five thousand, how many baskets full of fragments did you take up?” They said to Him, “Twelve.” “Also, when I broke the seven for the four thousand, how many large baskets full of fragments did you take up?” And they said, “Seven.” So He said to them, “How is it you do not understand?”

  • The disciples had just seen Jesus multiply the five loaves and 2 fishes, but yet they forgot. You’re never ready, it’s not about your preparation. God is with you.
  • There is no need for God to tell us the details, but He cares about every detail.
  • God doesn’t need me to be ready – I will never be. He just wants me to obey and follow Him (ask for His supernatural wisdom).
  • Insecurities happen because we compare our behind-the-scenes with everyone else’s highlight reel.

1. Cancel the audition! God CHOSE you!

Compared how some people may feel with those auditioning for the TV show “The Voice.” “Cancel the audition, you’ve already got the part. A lot of people spend their whole lives waiting on somebody to hit a button, turn around, and choose them,” he said. “A lot of believers spend their whole walk with God performing, trying out, feeling bad, waiting on God to hit a button and turn around and say now He loves you. God said before you were born ‘I chose you.’” Isn’t that enough?

  • He chose you before you were born.
  • You don’t need to impress God. You don’t need to try out, you just have to live out what God has already placed in you.
  • God gave you the part not because of anything you did; God chose you precisely because you’re awkward a.k.a uniquely awkward.
  • God’s got options, but He chose YOU.
  • Equip your spirit with the word of God.
  • “My Father says I am”
  • Live by what God says about you, about what you can do. His is the only opinion that matters.
  • When God is speaking, one word is more than enough. Have enough faith in your Father to go with one word.

2. Get ready on the way !

  • God doesn’t call you to “feel ready” or trying to be as ready as possible, He calls you to have faith and follow Him.
  • Trust that God will drive and get ready on the way. Just like husband and wife, sometimes the women will just never been ready until the car engine starts. As His bride, you just have to hop on to the car and get ready on the way. God will drive and you get ready on the way!
  • Blessings is God’s department, obedience is yours.
  • If you can hear God’s voice, you can stand in the face of your fear 
3. Stay behind the guide!
  • Psalm 23 – To have the Lord as my shepherd, I’ve to acknowledge that I’m a sheep
  • Psalm 48:14 – For this God is our God for ever and ever; he will be our guide even to the end. He does not want to give you guidance, He wants to be your Guide forever!
  • “I’m never going to audition for Your love again. I’m never going to audition for Your calling again. I receive Your love. I receive Your calling.”
“I’ve never been ready. I wasn’t ready when we started the church. I didn’t feel ready when the church started to grow, thousands of people were coming to Christ, but the church got bigger than the town I grew up in. I wasn’t ready for that.” said Steven Furtick

Taken from here